Peristiwa-Peristiwa Penting di Eropa

A. Renaisans
source: maxpixel.net
Renaisans sering disebut dengan abad pencerahan. Abad pencerahan merupakan periode baru bagi masyarakat Eropa yang ditandai dengan perubahan mendasar dalam pemikiran sosial dan politik. Renaisans juga disebut dengan abad penalaran (The Age of Reason) dengan semboyan sapere aude yang berarti ”berpikirlah sendiri”. Renaisans menjadi tonggak awal kemajuan bangsa Barat, sekaligus akhir zaman feodalisme dan kekuasaan absolut kerajaan.

Munculnya zaman renaisans merupakan periode yang menandai berakhirnya The Dark Ages atau zaman kegelapan yang berlangsung pada abad XIV. Pada zaman kegelapan ini kehidupan masyarakat Eropa diwarnai dengan kemiskinan, peperangan, dan kesengsaraan. Selain itu, pada abad pertengahan ini kesenian, pendidikan, dan ilmu pengetahuan tidak dapat berkembang karena berada di bawah penguasaan gereja.

Kemunculan renaisans pada abad XV didorong adanya ketertarikan dan pemikiran kembali pada filsafat dan kebudayaan Yunani dan Romawi Kuno. Para pemikir Eropa pada masa itu menemukan bahwa berbagai filsafat kuno mampu menjawab sejumlah pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh pihak gereja. Dalam perkembangannya, renaisans berkembang pesat di negara-negara Eropa, seperti Prancis, Italia, Spanyol, Jerman, Belanda, Inggris, dan Portugis. Pada periode perkembangan renaisans muncul penemuan-penemuan baru di bidang seni, sastra, dan ilmu pengetahuan. Beberapa kota di Italia menjadi pelopor pemikiran mencerahkan yang menyelamatkan kehidupan manusia dari zaman kegelapan. Kota-kota di Italia tersebut antara lain Florence, Venesia, Roma, Milan, Urbino, dan Ferrara.

Renaisans mencapai puncaknya pada abad XVI. Pada masa ini orang-orang melakukan berbagai penelitian dan mencari berbagai pemikiran baru. Renaisans juga mendorong negara-negara Eropa seperti Spanyol, Portugis, Inggris, dan Belanda melakukan penjelajahan samudra.

B. Reformasi Gereja
Gerakan Reformasi Gereja dipelopori oleh Martin Luther (1483–1546), seorang ahli agama dan guru besar di Jerman. Gerakan ini didukung oleh Ulrich Zwingli (1484–1531), seorang teolog dari Swiss dan John Calvin (1509–1547) seorang ahli hukum dari Prancis. Gerakan reformasi mencapai puncaknya pada tahun 1517.

Menjelang terjadinya Reformasi Gereja, Martin Luther memasang daftar 95 dalil di pintu gereja di Wittenberg, yang isinya mengkritik peranan gereja. Tindakan Martin Luther dalam memelopori gerakan Reformasi Gereja mendapat dukungan di Jerman dan Swiss. Martin Luther kemudian mendirikan gereja yang disebut Lutheran. Gerakan reformasi Gereja kemudian dilanjutkan oleh golongan protestan. Golongan protestan menghendaki ajaran agama dilaksanakan sesuai Alkitab dan ajaran Kristen awal.

Gerakan Reformasi Gereja diikuti oleh Ulrich Zwingli dan Johannes Calvin. Johannes Calvin mendapat banyak pengikut di Prancis, Jerman, dan Belanda. Reformasi Gereja yang dilakukan Johannes Calvin kemudian berkembang menjadi calvinisme.

Gerakan Reformasi Gereja tidak hanya terjadi di daratan Eropa. Reformasi Gereja juga terjadi di Inggris pada masa Raja Henry VIII. Gerakan reformasi di Inggris dilakukan oleh Raja Henry VIII dengan mendirikan gereja Anglikan. Selain itu, Raja Henry menolak supremasi Paus atas gereja-gereja di Inggris. Dalam perkembangannya, Reformasi Gereja menimbulkan perselisihan di kalangan umat Katolik. Perselisihan tersebut melahirkan gerakan Kontrareformasi yang dipelopori oleh Paus Pius V, Sixtus V, Santo Carolus Boromeus, Santo Yohanes, Petrus Canicius, Santo Ignatius, dan Santa Theresia. Gerakan Kontrareformasi dilakukan untuk mengatasi perpecahan dan mengajak umat kembali pada agama Katolik.

Gerakan Kontrareformasi dimulai ketika Paus Pius V mendorong pengajaran dan penyebaran agama melalui sebuah ordo biarawan Italia yang disebut Kapusin. Paus Pius V juga menyelenggarakan Konsili Trente pada tahun 1545 untuk membahas pembaruan gereja. Konsili Trente mendirikan berbagai lembaga pendidikan gereja, seperti seminari berguna mendidik para biarawan, biarawati, dan imam.

Reformasi Gereja pada abad XVI menyebabkan agama Nasrani terpecah menjadi dua, yaitu Katolik Roma dan Kristen Protestan. Kedua agama tersebut masih berkembang hingga sekarang. Kedua agama tersebut masih menjadi agama mayoritas yang dianut oleh masyarakat Eropa.

C. Merkantilisme
Merkantilisme berasal dari kata ”merchant” yang berarti pedagang. Dalam merkantilisme, jika suatu negara ingin mencapai kemakmuran harus melakukan perdagangan dengan negara lain. Jadi, dapat dikatakan merkantilisme adalah suatu teori ekonomi yang menyatakan bahwa kemakmuran suatu negara ditentukan oleh banyaknya aset yang dimiliki oleh negara tersebut.

Merkantilisme bertujuan mengumpulkan logam mulia (emas dan perak) sebanyakbanyaknya untuk dimasukkan kas negara. Logam mulia merupakan standar devisa negara dan menjadi ukuran kekayaan, kesejahteraan, dan kekuasaan bagi suatu negara.

Merkantilisme berkembang seiring masa renaisans di negara-negara Eropa. Negaranegara Eropa ingin menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Keinginan tersebut menyebabkan merkantilisme berkembang pesat. Merkantilisme juga mendorong perkembangan kolonialisme dan imperialisme.

Merkantilisme berkembang di negara-negara maju Eropa, seperti Inggris, Prancis, Jerman, dan Belanda. Meskipun demikian, praktik merkantilisme di setiap negara berbedabeda. Di Inggris, Merkantilisme ditandai dengan kenaikan pajak untuk memajukan pelayaran dan pembentukan kongsi dagang (EIC). Di Perancis, Merkantilisme berkembang dengan istilah Colbertisme. Colbertisme menitikberatkan pada perkembangan industri dalam negeri daripada perdagangan internasional. Adapun merkantilisme di Belanda menekankan pada kegiatan monopoli dagan yang ditandai dengan pembentukan VOC dan WIC. Sementara itu, pelaksanaan merkantilisme di Jerman dilakukan dengan mewajibkan rakyat membayar pajak setinggi-tingginya.

D. Revolusi Industri
Revolusi Industri merupakan suatu periode ketika terjadi perubahan besar, terutama untuk mendukung perindustrian. Revolusi Industri pertama kali terjadi di Inggris, diawali dari perubahan pada industri tekstil. Revolusi Industri ditandai berubahnya sistem manual (dengan tangan/tenaga manusia) menjadi dikerjakan mesin.

Banyak faktor yang menyebabkan Inggris menjadi tempat lahirnya Revolusi Industri. Adapun faktor yang mendorong terjadinya Revolusi Industri di Inggris antara lain: Revolusi Agraria, Kekayaan alam Inggris yang melimpah, serta tanah jajahan luas yang dimiliki Inggris. Selain itu, revolusi Indsustri di Ingrris didorong oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan paham-paham baru dalam bidang perekonomian

Revolusi Industri memengaruhi perkembangan perindustrian di beberapa negara Eropa. Perkembangan perindustrian ditandai dengan penemuan berbagai teknologi, seperti alat pemintal, mesin uap, mesin tekstil, lokomotif kereta api, listrik, dan bola lampu. Perkembangan industri sendiri mengalami tiga tahap hingga akhirnya mencapai tahap pabrik besar. Ketiga tahap tersebut adalah Home Industry, Industri Manufaktur, dan Factory System. Ketiga tahap industri tersebut memiliki perbedaan dalam jumlah tenaga kerja, barang yang dihasilkan, dan lokasi produksi dan pemasaran hasil industri.
Bourbon Semoga situs ini bermanfaat bagi anda. salam hangat dari saya

Belum ada Komentar untuk "Peristiwa-Peristiwa Penting di Eropa"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel