Remote Sensing

A. PERBEDAAN SENSOR FOTOGRAFIK DENGAN SENSOR NONFOTOGRAFIK
B. MENENTUKAN SKALA CITRA
C. INTERPRETASI CITRA 
Interpretasi, yaitu: 
a. Menafsirkan dan mengklasifikasi citra berdasarkan karakteristiknya sehingga objek dapat dikenali. b. Menganalisis citra dengan melakukan pemisahan wujud rona atau warna objek. 
c. Menganalisis citra berdasarkan unsur objek.

D. UNSUR INTERPRETASI CITRA 
a. Rona
Rona adalah cerah atau gelapnya objek. 
Contoh: 
1. Pada foto pankromatik hitam putih, air tampak gelap. 
2. Pada foto inframerah hitam puih, air tampak gelap sekali. 
Ronanya objek dipengaruhi oleh enam faktor, yaitu: 
1. Karakteristik objek 
2. Waktu pemotretan/perekaman 
3. Cuaca 
4. Letak objek, jenis objek, jarak objek dari sensor 
5. Bahan (emulsi film) yang digunakan 
6. Proses 

b. Warna 
Warna terbentuk oleh proses aditif (biru, hijau, merah) dan proses substratif (cyan, kuning, magenta). Warna lain terbentuk sesuai dengan jenis emulsi filmnya. 
Contoh: 
1. Pada foto pankromatik berwarna, air dan pohon tampak hijau. 
2. Pada foto inframerah berwarna, air tampak biru dan pohon tampak magenta. 

c. Bentuk 
Bentuk adalah kerangka objek.
Contoh :
Gunung api dan pohon pinus berbentuk kerucut, lapangan sepak bola berbentuk persegi, dan gedung sekolah berbentuk letter I.L.U. 

d. Bayangan 
Bayangan bersifat menyembunyikan detail objek atau memperjelas profil objek. 
Contoh: 
Tembok stadion dan gawang sepak bola, cerobong asap, dan menara yang bayangannya sangat tampak. Bayangan objek menunjukkan posisi objek di daerha tinggi, miring, atau terjal. 

e. Situs 
Situs adalah letak objek terhadap objek lain. 
Contoh: 
Situs pemukiman di tepi jalan, rel kereta api, sungai, pantai, dan tanggul alam; situs teh di pegunungan. 

f. Pola 
Pola adalah susunan keruangan, contohnya: 
1. Pola pemukiman transmigrasi, teratur. 
2. Pola pemukiman di tepi jalan/rel kereta api/sungai/pantai memanjang. 
3. Pola delta di muara, menandakan DAS hulu mengalami kerusakan (erosi besar). 

g. Asosiasi 
Asosiasi adalah hubungan antarobjek, contohnya: 
1. Gawang berasosiasi dengan lapangan sepak bola. 
2. Rel kereta yang bercabang berasosiasi dengan stasiun. 
3. Perkampungan berasosiasi dengan jalan dan lahan pekarangan. 

h. Tekstur 
Tekstur adalah frekuensi perubahan rona pada citra, contohnya: 
1. Hutan bertekstur kasar. 
2. Belukar bertekstur sedang. 
3. Sawah bertekstur halus. 
4. Air bergelombang bertekstur kasar. 

i. Ukuran 
Ukuran antara lain jarak, luas, tinggi, kemiringan, volume, contohnya: 
1. Ukuran rumah berbeda denga pabrik. 
2. Ukuran lapangan berbeda dengan pekarangan.

E. KARAKTERISTIK CITRA 
Karakteristik citra, antara lain: 
a. Karakteristik spektral: rona warna. 
b. Karakteristik spasial: bentuk, bayangan, situs, asosiasi, tekstur, ukuran. 
c. Karakteristik temporal: waktu pemotretan, unsur objek, umur objek. 

F. TAHAPAN INTERPRETASI CITRA 
Ada pun tahapan interpretasi citra, yaitu: 
a. Deteksi 
b. Identifikasi 
c. Analisis 
d. Dedukasi 
e. Klasifikasi 

G. DASAR-DASAR INTERPRETASI CITRA FOTOGRAFIK 
Berikut dasar-dasar interpretasi citra fotografik, yaitu:
a. Rona gelap: hutan hujan tropis, hutan rawa/mangrove, hutan sagu, hutan bakau, laut, dan sungai.
b. Rona agak gelap: hutan musim/gugur, hutan bambu, perkebunan tebu, perkebunan kelapa, dan kelapa sawit. 
c. Rona cerah/terang: hutan lumut (tunra), nipah, savana, stepa, sawah, rawa, gurun, delta, kipas aluvial, jalan raya, rel kereta api, dan stasiun. 
d. Tekstur kasar, gelap: hutan hujan tropis, hutan rawa/mangrove, hutan sagu, hutan bakau, laut, dan jalan bergelombang. 
e. Tekstur sedang, agak gelap: hutan musim, hutan bambu, perkebunan tebu, perkebunan kelapa, dan kelapa sawit. 
f. Tekstur halus, cerah/terang: hutan lumut, stepa, sungai, delta, kipas aluvial, sawah, rawa, gurun, jalan raya, rel kereta api, dan sekolah. 
g. Tinggi tidak seragam, gelap: hutan hujan tropis, hutan rawa, dan hutan sagu. 
h. Tinggi seragam, cerah/agak gelap: hutan musim, stepa, nipah, hutan bambu, perkebunan tebu, perkebunan kelapa dan sawit, hutan baku, hutan lumut, sawah, serta pemukiman desa. 
i. Bertajuk bintang: sagu, nipah, kelapa sawit, dan palem. 
j. Bentuk kerucut: pinus dan gunung api. 

H. KEUNGGULAN CITRA PENGINDERAAN JAUH 
a. Cara kerja cepat, akurat, dan tepat. 
b. Hemat waktu, biaya, dan tenaga. 
c. Dapat meliput daerah yang luas.
d. Gambar/citra yang direkam bersifat permanen. 
e. Dapat menghasilkan gambar 3 dimensi jika dilihat dengan stereoskop. 
f. Merupakan satu-satunya cara pemetaan daerah bencana.
g. Merupakan alat pemantau terhadap perubahan bentang alam dan bentang budaya. 
h. Tanpa resiko yang besar. 
i. Ketelitiannya dapat diandalkan khususnya daerah terestrial (daratan). 

I. KELEMAHAN CITRA PENGINDRAAN JAUH 
Kelemahan citra pengindraan jauh, yaitu tidak dapat mengenali: 
a. Saat (waktu) terjadinya bencana. 
b. Komposisi tanah, batuan, dan bahan tambang(harus dianalisis di laboratorium). 
c. Batas wilayah dan batas persil kepemilikan tanah (harus dicek langsung di lapangan). 
d. Status tanah, status bangunan, pemiiliki tanah, dan pemilik bangunan.
e. Status penduduk dan komposisi penduduk. 
f. Sensor fotografik dengan tenaga elektromagnetik hanya bisa beroperasi siang hari.

J. ASAS STEREOSKOPIK 
Pengamatan stereoskop menafsirkan citra dengan menggunakan stereoskop sehingga menghasilkan gambaran atau foto 3 dimensi. Umumnya, pengamatan stereoskopik dilakukan pada citra foto udara. Perwujudan 3 dimensi menunjukkan beda tinggi dan kemiringan lereng sehingga bermanfaat untuk pembuatan peta kontur (peta topograf). Pengamatan stereoskopik juga bisa dilakukan dengan cara: 
a. Sepasang foto udara bertabrakan yang menggambarkan daerah yang sama. 
b. Masing-masing foto disinari proyektor. Proyektor kiri dipasang filter hijau dan proyektor kanan dipasangi filter merah. 
c. Sinar proyektor yang mengenai foto, yaitu sinar hijau mengenai foto kiri dan sinar merah mengenai foto kanan. 
d. Pengamat menggunakan kaca mata filter. Filter hijau di kiri dan filter merah di mata kanan. 
e. Mata kiri melihat foto kiri dan mata kanan melihat foto kanan. Dengan demikian, terjadi fusi otak yang menimbulkan gambaran 3 dimensi. 

K. MANFAAT PENGAMATAN STEREOSKOPIK 
Kenampakan 3 dimensi memudahkan pengenalan objek, menghasilkan modul medan ikonik (mirip wujud aslinya), mengetahui tinggi, dan lereng dengan teliti.

L. MANFAAT CITRA PENGINDRAAN JAUH 
Berikut ini manfaat dari citra pengindraan jauh berdasarkan bidang-bidangnya, antara lain: 
a. Bidang pertanian 
1. Pengenalan jenis tanaman dan jenis pohon. 
2. Evaluasi kondisi tanaman. 
3. Estimasi jumlah produksi. 
4. Sensus hewan ternak. 
5. Identifikasi situs pertanian. 
6. Memantau penggunaan lahan pertanian dan lahan ternak. 

b. Bidang kehutaan 
1. Identifikasi spesies pohon dan kerusakan lahan hutan. 
2. Perkiraan volume kayu. 
3. Inventarisasi hasil hutan. 
4. Memantau perkembangan hutan. 
5. Memetakan kerusakan hutan oleh kebakaran hutan. 

c. Manfaat pada bidang sumber daya bumi 
1. Pemetaan tanah, bentuk lahan, dan tata guna lahan. 
2. Inventarisasi sumber daya alam. 
3. Mendeteksi pencemaran. 
4. Evaluasi kerusakan alam oleh banjir. 

d. Bidang perlindungan satwa liar 
1. Mendeteksi habitat. 
2. Mendeteksi pencacahan jumlah populasi hewan. 

e. Bidang lingkungan hidup 
Penilaian dampak lingkungan akibat ulah manusia, seperti: 
1. Peningkatan zat pencemaran. 
2. Perubahan kondisi aliran air, erosi, dan sedimentasi. 
3. Perubhana suhu, perubahan kekeruhan air. 
4. Perubahan vegetasi akibat penebangan. 
5. Perubahan populasi. 

f. Bidang perencanaan kota dan wilayah 
1. Penaksiran jumlah penduduk. 
2. Studi kualitas perumahan. 
3. Pemilihan letak berbagai bangunan. 
4. Studi lalu lintas, penentuan jalur transportasi.
5. Pemilihan jalur transmisi. 
6. Menentukan batas wilayah kota. 
7. Pemetaan penggunaan lahan kota. 

g. Bidang oseanografi 
1. Mendeteksi garis batas daratan dan laut. 
2. Mendeteksi suhu permukaan air laut, salinitas air laut, arus laut dan gelombang, pencemaran air laut, sedimentasi pelabuhan, banjir rob, dan pengelolaan ikan. 
3. Mengamati perubahan pantai. 

h. Bidang hidrologi 
1. Mendeteksi air permukaan: air sungai, danau, rawa, mata air, geyser, dan saluran irigasi. 
2. Analisis pola aliran sungai, sebaran salju, kondisi es, serta batas air tawar dan air asin. 
3. Pemetaan DAS, banjir, dan kelembaban tanah. 

i. Bidang geologi 
1. Mengenali jenis batuan, patahan dan lipatan, pegunungan dan daratan, serta gunung api aktif. 
2. Mendeteksi gua di daerah karst. 
3. Eksplorasi mineral. 
4. Inventarisasi sumber daya mineral dan struktur litologi (batuan dan tanah). 

j. Bidang meteorologi 
1. Mendeteksi komposisi atmosfer. 
2. Pemetaan profil suhu atmosfer. 
3. Prakiraan cuaca. 
4. Mendeteksi kecepatan angin dan kandungan uap air di atmosfer. 

k. Bidang kartograf 
1. Pemetaan topografi wilayah. 
2. Pemetaan korografi. 
3. Memantau perubahan penggunaan wilayah.

Belum ada Komentar untuk "Remote Sensing"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel