Idham Chalid Pahlawan dari Amuntai

Ia mungkin tokoh fenomenal di Indonesia. Ia telah melampaui lima zaman, sejak berjuang di masa kolonial Belanda hingga masih berperan di masa reformasi. Ia lama berkiprah dipelbagai
ranah pengabdian. Ia pernah menjadi pucuk pimpinan di lembaga eksekutif, legislatif, dan ormas [Wakil Perdana Menteri, Ketua DPR/MPR, dan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama). Juga pernah menjadi pemimpin tiga partai politik berbeda, Masyumi, NU, dan PPP. Ia tokoh nasional yang luar biasa.

Seperti air, Chalid—peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Al-Azhar Kairo—mampu berperan ganda dalam satu situasi, yakni menjadi ulama dan politisi. Sebagai ulama, ia bersikap fleksibel dan akomodatif dengan tetap berpegang pada tradisi dan prinsip Islam yang diembannya, sedang sebagai politisi, ia mampu melakukan gerakan strategis, kompromistis, hingga pragmatis.

Chalid merupakan anak sulung lima bersaudara dari pasangan H Muhammad Chalid, penghulu di Setui dengan Umi Hani. Chalid telah terlihat cerdas saat kecil. Ia telah gemar membaca buku sejak ia
duduk di Vervolgschool [sekolah melayu] Ujung Murung pada 1933. Setahun berselang, ia pindah ke Madrasatur Rasyidiyah dimana ia segera menerima pengajaran kitab-kitab klasik Islam. Pada 1938,
ia melanjutkan studi ke Pondok Modern Gontor Ponorogo dan diterima di kelas I Kuliyyatul Mu’allimin al Islamiyah [KMI] atau Sekolah Pendidikan Guru Islam. Di Gontor, ia lalu  mengembangkan bakat berorganisasi dan berpidato. Ia juga bersentuhan dengan semangat Nasionalisme yang tumbuh saat itu.

Di masa revolusi, Chalid ikut berjuang. Saat itu ia masih muda, 27 tahun, tetapi ikut pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sebagai risikonya, ia pernah ditahan tentara Belanda pada periode 1947-1949 di penjara Amuntai, lalu ke Kandangan dan terakhir dibawa ke Banjarmasin. Selama 40 hari ditahan di Kandangan, ia mengalami penyiksaan hebat oleh tentara Belanda bahkan hampir dieksekusi mati. Akan tetapi, kemudian di awal November 1949, ia bebas.

Idham Chalid lalu menjadi anggota dewan daerah Kalimantan selatan, lalu melesat ke pusat pemerintahan saat menjadi Wakil Perdana Menteri era Orde Lama, menjadi Menteri Kesejahteraan
Rakyat dan Menteri Sosial pada era Orde Baru dan menjadi Ketua DPR/MPR selepas pemilu tahun 1971. Di samping bergiat dalam pemerintahan, Chalid juga menjadi seorang ulama karismatik,
yang selama 28 tahun memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ia juga pernah menjadi Ketua Partai Masyumi, Pendiri sekaligus memimpin Partai Nahdlatul Ulama, dan terakhir memimpin Partai Persatuan Pembangunan [PPP] di masa Orde Baru.

Tokoh multi zaman ini akhirnya meninggal dunia pada usia 88 tahun di hari ahad. Jenazahnya kemudian dimakamkan di komplek Perguruan Darul Qur’an Cisarua Bogor Jawa Barat. Setahun berikutnya, pemerintah Indonesia mengangkatnya menjadi Pahlawan Nasional atas peranannya dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, serta jasa-jasanya dalam mengisi kemerdekaan hingga masa reformasi.

Belum ada Komentar untuk "Idham Chalid Pahlawan dari Amuntai"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel