Jumat, 01 Maret 2019

Pecahnya Perang Opium Kedua

Traktat Nanjing yang ditandatangani pada 1842 mengakhiri perang antara Dinasti Qing dan Inggris pada Perang Opium Pertama. Namun Inggris masih belum puas hasil perjanjian tersebut dan Inggris meminta Qing membuka semua pelabuhannya untuk pedagang Inggris, menghapus pajak impor komoditas dari Inggris, dan melegalkan perdagangan opium. Pihak Qing sendiri tidak langsung menuruti permintaan Inggris tersebut.

Pada 8 Oktober 1856 kapal The Arrow yang berasal dari Hong Kong ditangkap oleh pihak keamanan Qing karena tuduhan penyeludupan. Hal ini dimanfaatkan Inggris agar Qing segera menuruti permintaan Inggris. Pihak Inggris meminta Qing untuk melepaskan awak kapal The Arrow yang ditahan namun pihak Qing menolak dengan alasan menegakkan hukum di wilayah Qing. Penolakan tersebut dibalas Inggris dengan membombardir benteng-benteng dan kapal-kapal Qing dari bulan Oktober hingga November 1856.

Dalam perang ini Inggris turut dibantu oleh Prancis. Prancis bergabung ke dalam perang karena insiden pembunuhan seorang misionaris yang bernama August Chapdelaine oleh pihak Dinasti Qing pada bulan Februari 1856 atas tuduhan menyebarkan agama tanpa izin dan mendukung gerakan pemberontakan Kristen Taiping. Memasuki tahun 1857 pasukan Inggris-Prancis merebut beberapa benteng disekitar Canton. Sesudah itu giliran kota Canton yang berhasil dikuasai pasukan Inggris-Prancis.

Setelah menguasai Canton pasukan Inggris-Prancis bergerak menuju Tianjin dan pada bulan Mei 1858 benteng Taku yang berada di Tianjin berhasil diduduki pasukan Inggris-Prancis. Karena terus mengalami kekalahan maka pihak Qing menyerah kepada Inggris dan Prancis. Pada bulan Juni 1858 melaksanakan perundingan di Tianjin. Hasil perundingan tersebut berisi Inggris, Prancis, Rusia, dan AS diperbolehkan mendirikan kantor kedutaan di Beijing, membuka 11 pelabuhan bagi pedagang asing, memperbolehkan kapal asing untuk berlayar di Sungai Yangtze, dan Qing harus membayar ganti rugi perang sebanyak 8 juta tael perak (1 tael=37 gram).

Penguasa Dinasti Qing, Kaisar Xianfeng membatalkan isi Perjanjian Tianjin karena didesak oleh penasihatnya dan salah satu selirnya yang bernama Yi (nantinya dia dikenal sebagai Empress Dowager Cixi) yang memiliki sentimen anti-barat. Pada tahun 1860 babak baru perang antara Inggris-Prancis dan Qing dimulai. Inggris dan Prancis akhirnya mendaratkan pasukannya di Tianjin dan segera bergerak ke kediaman kaisar di Beijing.

Sepanjang perjalanan pasukan Inggris-Prancis sempat dicegat oleh pasukan Qing namun pasukan Qing dapat dikalahkan oleh pasukan Inggris-Prancis. Sesampainya di Beijing di bulan Oktober 1860 pasukan Inggris-Prancis memasuki komplek istana kemudian membakarnya dan menjarah barang-barang berharga. Perang benar-benar berakhir pada 21 Oktober 1860.

Setelah peristiwa pembakaran dan penjarahan kompleks istana Qing pihak Qing, Inggris, dan Prancis mengadakan perundingan di Beijing. Pihak Qing akhirnya mau menyetujui isi Perjanjian Tianjin ditambah poin-poin tambahan yaitu melegalkan perdagangan opium, menghentikan kekerasan terhadap misionaris, dan menyerahkan pesisir Kowloon yang berada di sebrang Hong Kong kepada Inggris.

Berakhirnya Perang Opium menandai dimulainya periode "Century of Humiliation" atau masa-masa ketika terjadi intervensi bangsa asing terhadap politik di Cina yang membuat negara tersebut perlahan digerogoti oleh imperialisme bangsa asing dan hal ini terjadi kurang lebih selama satu abad hingga tahun 1949. Selain itu kekalahan di Perang Opium mengawali periode kemunduran Dinasti Qing yang berujung pada digulingkannya Dinasti Qing dari kekuasaan Cina dan digantikan dengan sistem republik pada tahun 1911.

Sumber: OA Historypedia Line
Penulis: Wellington

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon