Kamis, 24 Januari 2019

Spanish Influenza, One of the Worst Plague in History

Pandemik Flu 1918 yang biasa disebut Flu Spanyol adalah Pandemik Influenza kategori 5 yang mulai menyebar di Amerika Serikat, muncul di Afrika Barat dan Perancis, lalu menyebar hampir ke seluruh dunia. Penyakit ini disebabkan oleh Virus Influenza Tipe A subtipe H1N1. Kebanyakan korban Flu ini adalah Dewasa Muda. Flu Spanyol terjadi dari Maret 1918 sampai Juni 1920, menyebar sampai ke Arktik dan kepulauan Pasifik.

Pada 1918, tahun terakhir pertempuran dengan cara membuat parit perlindungan primitif dalam Perang Dunia I, sesuatu yang lain mulai mematikan para tentara. Tidak seorang pun tahu pasti kapan atau di mana flu Spanyol muncul, meskipun flu ini tentu saja bukan dari Spanyol.

Sebagai negara netral, Spanyol tidak memiliki penyensoran masa perang, dan flu ini memperoleh asal-usul yang salah dari berita-berita tentang penjangkitan wabah di sana pada Mei 1918.

Sebenarnya penyakit ini sudah menyebar pada kedua kubu di Eropa, membunuh seluruh divisi tentara sepanjang musim semi dan awal musim panas. Kemudian flu ini tampaknya mereda. Meski demikian, pada akhir musim panas, flu Spanyol kembali, dan keganasannya jelas.

Penderita berbaring di ranjang disertai demam, sakit kepala menusuk, dan sakit pada tulang-tulang sendi. Kebanyakan penderita orang dewasa yang masih muda, sama seperti kelompok yang biasanya tidak menghiraukan flu.

Sekitar lima persen penderita meninggal, sebagian hanya sakit selama dua atau tiga hari, wajah mereka berubah ungu pucat seperti mayat karena mereka pada dasarnya kehabisan napas menjelang ajal. Para dokter yang membedah dada korban-korban terkejut: Paru-paru, biasanya ringan dan lentur, menjadi berat seperti spons penuh air, tersumbat cairan darah.

Setelah melintas cepat melalui tenda-tenda militer dan kapal-kapal pengangkut serdadu yang ramai di Eropa dan Amerika Serikat, flu ini beralih ke kota-kota pelabuhan dan industri. Di Philadelphia, sejarawan Alfred Crosby menemukan, 12.000 orang meninggal karena flu dan pneumonia (radang paru-paru) pada bulan Oktober sebanyak 759 orang meninggal dalam sehari.

Sekolah-sekolah dan kantor-kantor ditutup, kebaktian di gereja dibatalkan. Tempat-tempat penyimpanan mayat penuh. Penderita kemudian menyebar ke kawasan paling terpencil di dunia, dari Pasifik Selatan menuju ke Artik.

Lebih dari 50 juta orang meninggal – paling sedikit tiga kali lebih banyak dibandingkan dalam perang. Para ahli medis terbaik saat itu sulit mempercayai penyebab kematian tersebut adalah flu.

Juni 2010, sekelompok peneliti dari Mount Sinai School of Medicine, Amerika Serikat melaporkan bahwa vaksin yang diberikan untuk meredakan pandemik flu tahun 2009 mampu menyediakan perlindungan terhadap virus flu 1918.

Selain itu, kesimpulan pun berubah. Dipastikan, virus flu Spanyol atau flu 1918 dan beberapa tipe virus flu lain setelahnya merupakan penyakit yang khusus menyerang manusia.

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon