Berubahnya Inovasi

Setiap hari pada abad ke-20 dan ke-21 dunia selalu menyaksikan inovasi-inovasi baru, entah pembaruan dan perbaikan atas kinerja teknologi yang sebelumnya, atau malah pemusnahan yang sebelumnya. Pemikiran Schumpeter baru disadari oleh para pelaku usaha dan ekonom-ekonom pada adkhir abad ke-20 setelah menyaksikan rontoknya perusahaan-perusahaan besar kebanggaan dunia satu demi satu disetiap tahun.

Runtuhnya pasar modal pada 1970 membuka mata dunia bahwa kapitalisme rapuh terhadap krisis. Apalagi setelah itu krisis-krisis baru terus berdatangan. Antara 1950-1970, rata-rata setiap tahun ada 24 perusahaan dalam Fortune 500 yang keluar dari daftar, bahkan musnah(bangkrut sama sekali atau diakusisi perusahaan lain). Setelah tahun 1980-an, setiap tahun rata-rata 40 perusahaan menghadapi nasib serupa!

Usia krisis juga semakin panjang, tetapi begitu mengalami recovery semakin cepat memasuki fase krisis baru. Dunia sudah terhubung, sehingga krisis di satu tempat segera berlanjut di negara lain dalam tempo beberapa tahun kemudian. Krisis ekonomi dan keuangan menjadi semakin sering hadir. Ini berarti semakin ke sini wajah inovasi semakin berubah. Munculnya inovasi menghancurkan cara-cara lama.

Di tengah-tengah keruntuhan perusahaan-perusahaan besar di dunia mulai menyaksikan pengangguran besar-besaran yang dialami para profesional dan manajer. Apa yang harus mereka lakukan? Sebagian memilih bekerja sendiri mengelola usaha-usaha kecil (self employed), sebagian lagi mendirikan start-up. Hal ini terjadi secara masif bergiliraan, dengan lokasi bergantian.

Kehancuran perusahaan-perusahaan besar kelas dunia seperti Pan Am, Kodak, Enron, Arthur Andersen, Lehman Brothers, Nokia, dan seterusnya juga mengakibatkan industri-industri keuangan terguncang. Barang-barang modaldi negara-negara industri kehilangan pasar. Di negara-negara itu, modal mengalami pasokan dan mengalir ke tangan venture capitalist yang menawarkan paket-paket pembiayaan menarik bagi para pemula. Para pemula ini puin mendirikan usaha-usaha baru seakan tanpa beban, dengan modal bisnis sama sekali tidak dikenal para pendahulunya. Namun, karena dukungan keuangan yang kuat, mereka bisa dengan mudah tumbuh menjadi besar, didukung oleh sistem dan profesional-profesional andal.

Para pelaku usaha start-up itu kemudian mendisrupsi industri, menyerang incumbent dengan teknologi-teknologi baru sambil menciptakan pasar baru dengan kategori low-end. Mereka bisa saja dikecam pasar dan incumbent karena pada tahap awal itu terjadi  banyak ketidaksempurnaan, baik dalam betuk produk maupun manajemen. Teori ini dibangun oleh oleh Clayton Christensen pada 1997 itu akhirnya seolah menemukan pintunya setelah mendiang Steve Jobs memperkenalkan smartphone dengan dunia aplikasi yang mempertemukan para pembaru dengan pasar, dengan biaya yang jauh lebih murah dengan marginal cost yang rendah. Anak-anak muda pun keranjingan apps. Bisnisnya pun menjawab kehendak konsumen. Dan hasilnya sungguh luar biasa!

Apalagi setelah itu muncul metode-metode baru yang membaut biaya transaksi dan biaya mencari serendah mungkin. Aplikasi-aplikasi digital yang mempertemukan permintaan dengan penawaran membuat pengelolaan usaha berubah sama sekali. Ini sekaligus menjadi ancaman bagi para incumbent yang terbelunggu aturan-aturan lama, manajemen birokrasi, fixed cost yang tinggi, biaya transaksi yang mahal, serta metode-metode yang hanya cocok dipakai sebelum dunia mengenal smartphone, aplikasi teknologi, statistic analytic, big data, dan uang digital.


Terjadilah persaingan tak berimbang antar mereka yang sudah hidup dalam era (dan memegang data) real time  dan mereka yang masih hidup dalam era time series -- antara yang menggunakan Google Maps dan yang masih berpatokan pada argometer.

Dunia pun berubah. Kapitalisme mengalami perubahan besar-besaran dari managed capitalism  menjadi entrepeneurial capitalism. Dan kelak muncullah masalah inequality.  Manusia-manusia kreatif bermunculan, menghancurkan legacy yang dikuasai para incumbent. Ekonomi memiliki yang mengutamakan kepemilikan di bawah satu tangan rontoh menjadi kekuatan gotong-royong dalam ekonomi berbagai. Segala sesuatu yang bersifat formal dengan segala aturan yang memberatkan pelaku-pelaku usaha informal mengalami ujian. Pemisahan antara aset-aset konsumsi dan aset-aset produksi pun mencair.

Aset-aset pribadi yang semula digunakan hanya untuk konsumsi kini pun digunakan untuk kegiatan usaha, menjadi lebih produktif. Misalnya Anda kini bisa membuka warung dari rumah, menaruh taksi di garasi dengan mobil pribadi. Itulah barang-barang konsumsi yang kini bisa dipakai untuk kegiatan ekonomi produktif. Jadi, inlah saatnya dunia membentuk aturan-aturan baru. Bukan semata-mata kapitalisme, melainkan kekuatan gotong-royong, dengan partisipasi yang luas dan lebih sejahtera. Kekuatan gotong-royong dunia baru itu dikenal sebagai ekonomi berbagi (sharing economy).

Ini akan sulit terbantahkan, tetapi juga akan selalu diuji oleh mereka yang bakal kehilangan dan selalu mempertentangkannya. 

Disruption oleh Rhenal Kasali

Belum ada Komentar untuk "Berubahnya Inovasi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel