Senin, 17 September 2018

Apakah Disruption Itu?

 
Singkat saja, disruption adalah sebuah inovasi. Inilah inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Disruption berpotensi menggantikan pemain-pemain lama dengan cara baru. Disruption menggantikan teknologi lama yang serbafisk dengan teknologi digital yang menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru dan efisien, juga lebih bermanfaat.

Disruption = Inovasi = Ancamana bagi Incumbent
Tentu ada pengecualian. Pengecualian ini terjadi bila Anda benar-benar cerdik berinovasi, me-reshape model bisnis dengan cara-cara baru. Pengecualian itu juga terjadi apabila para elite dan masyarakatnya mau me-reshape udang-undang atau peraturan lama atau memberi ruang sedikit lebih leluasa para pembaruan.
"Distruption menggantikan 'pasar lama', industri, dan teknologi, dan menghasilkan suatu kebaruan yang lebih efisien dan menyeluruh. Ia bersifat destruktif dan creative!"
-Clayton Christensen-
Inovasi memang sejatinya destruktif sekaligus kreatif. Karena itulah, selalu ada yang hilang, memudar, lalu mati. Semua ini menakutkan sekaligus bisa membuat membentengi diri kita secara berlebihan. Disisi lain, ada hal baru yang hidup. Meski ada lapangan kerja yang hilang, selalu ada yang menggantikannya -- yang membutuhkan kreativitas, semangat kewirausahaan, dan cara-cara baru. Begitulah siklus alam.

"Sukses tergantung pada kemampuan kita menyelaraskan ketiganya: Iteration, Innovation, dan Disruption. "Jika anda tidak mendisrupsi diri sendiri, Anda akan mendapatkannya dalam bentuk 'hadiah' dari orang lain"
-Mark Zuckerberg-

Sayangnya, 90% kegiatan manusia sehari-hari, kalau bukan perbaikan, adalah pengulangan(iteration), termasuk mengulang agar mendapatkan hasil yang lebih baik atau terperangkap dalam kebiasaan. Bila Anda pernah mendengar bahwa bangsa Jepang tak kenal strategi (tidak memakai strategi management), itulah yang membuat perekonomian Jepang antara 1960-2000 berhasil mengusai dunia. Itupula yang membuat perekonomiannya melambat, lalu negatif pada awal abad ke-21.

Kita juga mengenal inovasi yang amat populer pada akhir abad ke-20, yang berarti membuat sesuatu yang baru. Pupuk kimia, komputer, ponsel, metode hidroponik dalam pertanian, irigasi, angkutan kontainer, tenaga listrik, kincir angin, mesin giling, kereta api, seterusnya lahir sebagai inovasi dari cara-cara lama yang tidak praktis, lambat, dan tidak produktif. Tiga sampai sembilan persen produk terkemuka di dunia adalah hasil inovasi.

Apa terjadi begitu semua inovasi sudah berada di tempatnya., tapi masih banyak orang yang belum terjangkau? Bukankah inovasi ditunjukan untuk kemakmuran manusia? "Cobalah cara yang berbeda," begitu saran para ahli. Dan itulah yang didapat generasi milenial abad ke-21: Disruption! sekitar  1% dari aktivitas manusia menimbulkan kehebohan pada abad ke-21 ini adalah disruption. Dalam hal tertentu, ini disebut juga sebagai empowering innovation. 

Selain disruption, kita juga mengenal efficieny inovation, yaitu inovasi yang berdampak pada pemangkasan biaya sekaligus berdampak negatif terhadap penciptaaan lapangan pekerjaan. Semua itu terjadi karena dalam tahapan produksi manusia semakin nyaman, lalu menjadi boros. Ketika ruang kreativitas untuk memperbaiki industri terbatas, manusia hanya akan fokus pada efisiensi yang berdampak pada peningkatan keuntungan. keuntungan diinvestasikan pada inovasi yang lebih efisien lagi sehingga pemakaian kapital menjadi terbatas. Salah satu biaya yang dipangkas adalah tenaga kerja secara masif karena dianggap sebagai fixed cost yang membebani.

Zaman juga tidak akan berhenti pada Disruption. Kita tahu dengan efficieny innovation yang terus melompat-lompat dan mengundang zaman berikutnya untuk datang. Kita semua belum tau bagaimana karakteristiknya, yang jelas era tersebut tidak akan linier lagi.

oleh: Rhenald Kasali
Pada buku: Disruption

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon