Kenapa Kita Gagal Dalam Abad Ini?


Abad 21 bisa dibilang merupakan abad revulisioner sepanjang sejarah umat manusia. Dalam abad inilah manusia mengalami kemajuan yang siginifakan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Inovasi yang berkembang begitu cepat sehingga membuat individu dan sekelompok orang tidak  mampu mengejarnya. Bisa dibilang abad ini adalah abad penghancuran bagi yang mapan oleh pemain baru. Anda bisa melihat bahwasannya perusahaan-perusahaan besar telah banyak yang tumbang. Perusahaan yang selama ini mempunyai brand terkenal hilang begitu saja ditelan oleh pemain baru. Contoh nyatanya adalah Blackberry dan Nokia. Nokia dulu bisa merajai pasar handphone seluruh dunia yang mendapatkan julukan hp sejuta umat. Blackberry yang beberapa tahun belakangan merajai harus hancur dalam waktu singkat oleh kehadiran OS Android dari google dan IOS dari Apple. di Indonesia kita bisa melihat pangsa kendaraan konvesional seperti taksi menurun drastis akibat kehadiran grab dan gojek. Toko-toko seperti Mangga Dua dan Roxy mulai kehilangan pamornya akibat dari hadirnya toko online. Tentu saja abad ini juga bisa dibilang mengincar individu-individu yang tidak sigap akan perubahan. Dunia industri begitu cepat berkembang sedangkan dunia pendidikan di Indonesia cendrung lamban merospen perubahan tersebut. Akibatnya apa? Pengangguran dari tingkat pendidikan tinggi menyumbang persentase pengangguran yang cukup besar. Mereka tidak terserap dalam industri abad ini.
(Baca: Pengangguran Sarjana 630.000 orang)
Kementrian sendiri mengakui bahwasannya Industri di Indonesia kekurangan tenaga terampil yang mampu menjawab kebutuhan industri masa kini
(Baca: Industri kekurangan tenaga terampil)

Lantas apa yang membuat perusahaan yang sudah mapan selama bertahun-tahun hancur begitu saja? Serta mengapa sebagian individu-individu juga mengalami kegagalan pada abad ini?

1. Keterlambatan pengambilan keputusan
Bisa dibilang usaha yang sudah mapan sudah merasa yakin bahwasannya ia tidak akan tergoyahkan. Sebagian individu pun juga sama seperti itu. Mereka sudah merasa yakin dengan apa yang mereka miliki untuk menghadapi situasi yang kedepan. Padahal tidak akan ada yang menyangka bahwasannya perubahan teknologi yang begitu cepat dapat mendisrupsi mereka secara cepat. Mereka bertahan dengan cara-cara lama dan sebagian individu juga mempertahankan mindset mereka selama ini. Ketika inovasi yang cepat itu datang mereka akan mengalami shock dengan perubahan tersebut. Mereka hanya menjadi penonton tanpa mengambil keputusan apakah ikut dalam arus inovasi atau tetap dengan cara lama?  Akhirnya konflik internal terjadi dan semakin membuat lamban mengambil keputusan. Akhirnya apa? Mereka yang tidak merespon perubahan dengan cepat menekan pemerintah sebagai regulator untuk melindungi mereka dari kehancuran yang lebih dalam lagi.  Mereka juga mengharapkan pemerintah untuk menyingkirkan inovasi-inovasi tersebut. Tetapi hasilnya apa yang terjadi? perubahan yang cepat ini tidak bisa dibendung dan terus semakin membesar.

2. Pesaing cepat berinovasi
Akibat dari lambatnya pengambilan keputusan yang terjadi adalah pesaing terus berinovasi atau individu lawan anda terus memperbaiki diri dan tidak lupa berinovasi juga dalam hal kemampuan yang menjawab kebutuhan pasar. Tentunya hal ini bisa dilihat dari contoh perusahaan gojek. Gojek pada awalnya merupakan perusahaan sebagai pihak perantara ketiga yang menyediakan jasa ojek kepada konsumen. Namun mereka jeli melihat peluang dengan memperluas layanannya yang tidak hanya berbasis ojek saja, ada layanan pijat, layanan pembelian makanan, layanan tiket, dll. Bahkan yang baru ini Gojek terus menggenjot layanan fintechnya yang bernama gopay. Individu yang selama ini telalu monoton dan merasa apa yang diajarkan dikuliah sudah cukup untuk menghadapi masa depan maka mereka akan kalah. Dunia pekerjaan semakin berkembang pesat, pekerjaan-pekerjaan lama tergantikan dengan sesuatu yang baru. Kita tidak menyangka bahwasannya akan ada pekerjaan pengolahan big data atau pun data sains saat ini. atau pekerjaan social media marketing, internet marketing, dll. Dan hal ini tentunya amat sulit ditemukan di bangku perkuliahan.


3.  memakai logika masa lalu
Tidak ada yang salah dengan masa lalu, yang salah adalah ketika kita anda memakai pola pikir masa lalu untuk menyelsaikan masalah yang ada di depan. Kebijakan-kebijakan publik atau kebijakan sebuah perusahaan atau pun kebijakan individu atas hidupnya harus didasari oleh masa kini dan masa yang akan datang. Menyelsaikan permasalah kekinian  dan masa depan dengan cara lama merupakan tindakan yang sia-sia. Contohnya adalah, jika anda berpikir bahwasannya kekuatan kapital perusahaan ataupun seseorang akan menentukan persaingan maka anda sudah berpikir dengan cara lampau. Sebab yang terjadi adalah kekuatan inovasilah yang menentukan persaingan saat ini. Gojek yang sebelumnya bukan apa-apa, lalu muncul dengan nilai valuasi 53 triliun dalam waktu singkat. Anda sebagai individu tentunya juga dapat melakukan hal yang sama. Yang anda butuhkan adalah kekuatan inovasi dan berkeinginan terus belajar mengikuti perkembangan zaman.

Belum ada Komentar untuk "Kenapa Kita Gagal Dalam Abad Ini?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Bawah Artikel