Fenomena SKTM dan Mental Budaya Bangsa

source: indonesiaone.org
 Salah satu kebijakan penerimaan siswa baru tingkat menengah atas adalah penyediaan kuota untuk orang miskin dengan syarat salah satunya dengan SKTM. Tentunya hal ini dipandang sebagai hal yang positif dan berkeadilan bagi anak-anak yang kurang mampu, namun kenyataannya dilapangan berbicara lain. Orang-orang yang notabennya orang mampu memalsukan diri pura-pura miskin dengan embel-embel SKTMnya. Hal ini terjadi secara masal, orang-orang tiba-tiba mendadak miskin demi mencapai tujuan bersekolah di sekolah negeri.

Baca: Wah! Ada 78 Ribu Pendaftar Sekolah di Jateng Pakai SKTM Palsu

Saya memandang hal ini sesuatu penyakit yang kronis yang menimpa bangsa ini. Tentunya hal ini termasuk perilaku yang koruptif yang mencuri hak orang.  Hal ini bisa dilihat bahwasannya bangsa kita terbiasa berbohong demi mencapai tujuan dan bangsa ini tidak mempunyai integritas dan kejujuran dalam menjalani kehidupan. Sebenarnya fenomena ini sudah sering ditemui dalam kehidupan bangsa ini, berbohong  dan sikap KKN sudah menjadi budaya bangsa ini. Di sekolah sering terjadi tindakan contek mencotek dan untuk mendapatkan pekerjaan tertentu sering ditemui fenomena nyogok menyogok, yang sebenarnya merupakan bibit awal korupsi dan kerusakan di masa depan. Sebagian orang memandang fenomena tersebut sesuatu yang biasa dan dapat diterima. Kebiasaan bangsa kita memang membenarkan sesuatu kebiasaan yang sebenarnya salah dan terbiasa menjadikan itu sebagai nilai-nilai dalam kehidupan dalam bermasyarakat. Tentunya hal tersebut berakibat fatal dan bisa menjadi bom waktu yang bisa menghancurkan bangsa ini sedikit demi sedikit. Fenomena contek mencontek menjadikan generasi muda kita menjadi generasi korup dan pencuri di masa depan. Anda bisa lihat sendiri korupsi sekarang bukan hanya menimpa golongan tua namun juga golongan muda. Anda bisa lihat banyak pemimpin-pemimpin muda menjadi pesakitan di KPK. Sogok menyogok demi mencapai pekerjaan sesuatu yang berbahaya dipandang dalam sudut pandang ekonomi dan bernegara. Ekonomi tidak berjalan produktif karena di isi dengan orang-orang yang tidak kompeten dalam bidangnya. Birokrasi pun berjalan mandek karena diisi oleh orang-orang yang tidak kompeten dan akhhirnya pelayanan menjadi buruk.

Baca: Duh, Lebih dari 1,5 Juta PNS di Indonesia Tak Kompeten
Baca: Indonesia Adalah Bangsa Yang Konsumtif, Bukan Produktif. Sadarlah!

Mau dibawa kemana negara ini jika perilaku koruptif selalu dibenarkan? Masyarakat yang amat membenci perilaku koruptif para pejabat ternyata kelakuannya sama saja. Sama-sama menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya. Kita bangsa yang terlalu sibuk mencari musuh dan menyalah-nyalahkan pihak lain atas masalah yg menimpa kita. Sadarlah bahwasanya kemandekan serta kemunduran yang terjadi karena perilaku bangsa kita sendiri bukan pihak lain. Kita suka mengklaim bangsa religius namun religius kita hanya sebatas ritual ibadah saja. Perilaku kita tidak pernah menampilkan sosok yang benar-benar beragama. Jika sebuah korupsi dan perilaku amoral sudah menjadi bagian budaya kuat bangsa maka bangsa tersebut hanya menunggu kehancurannya saja.

Belum ada Komentar untuk "Fenomena SKTM dan Mental Budaya Bangsa"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel