Kamis, 19 Juli 2018

Tindakan-Tindakan Perang Terbuka yang Pernah Dilakukan Korea Utara

Gencatan senjata yang ditandatangani pada tanggal 27 Juli 1953 bukanlah akhir dari Perang Korea. Permusuhan masih berlanjut dalam bentuk beberapa konflik terbatas, dalam kurun waktu enam dekade ke depan. Selama periode ini, Korea Utara acapkali melakukan tindakan-tindakan perang terbuka melawan AS dan Korea Selatan. Berikut beberapa insiden yang telah terjadi.

1. Perebutan USS Pueblo - 23 January 1968 
Korea Utara menyerang dan merebut kapal intelijen AL AS, yaitu USS Pueblo (AGER-2). Pueblo dikirimkan ke utara Laut Jepang lewat Selat Tsushima untuk mengintai aktivitas AL Soviet dan mengumpulkan intelijen tentang Korea Utara dari perairan internasional. Pueblo didatangi oleh sebuah submarine chaser Korea Utara yang menyuruhnya mengibarkan bendera asalnya. Pueblo mengibarkan bendera AS, dan diperintahkan untuk menyerah. Pueblo berusaha lari, namun kapal yang lebih pelan tersebut akhirnya dikepung oleh satu lagi submarine chaser dan empat kapal torpedo, serta dua pesawat MiG-21. Senjata defensif Pueblo hanyalah dua senapan mesin berat 12,7mm yang saat itu tidak terpasang.

Pueblo sempat bermanuver selama 2 jam untuk menghindari kekuatan Korea Utara, namun kemudian ditembak oleh senjata 57mm submarine chaser yang menewaskan satu orang awak. Pueblo menyerah dan krunya mulai menghancurkan dokumen sensitif, meskipun tidak semua berhasil dihancurkan. Kapal tersebut akhirnya dinaiki oleh orang-orang Korea Utara; krunya dipukuli , diikat, dan ditutup matanya. 82 orang kru Pueblo kemudian ditawan dan dibawa ke Korea Utara. Mereka dituduh melanggar batas perairan yang dinyatakan Korea Utara sejauh 93 km, walau batas perairan territorial yang disepakati secara internasional adalah 12 km.

Kru Pueblo kemudian ditawan di sebuah compound. Mereka sengaja dibuat kelaparan dan disiksa secara berkala. Mereka sempat dipaksa untuk mengakui “kesalahan” mereka dalam propaganda yang dibuat-buat, namun dengan sengaja menyelipkan lelucon kotor di setiap kesempatan yang ada sebagai bentuk protes. Para awak yang difoto mengacungkan jari tengah, dan komandan Pueblo yang dipaksa membuat pernyataan menyelipkan kata-kata “mengencingi” (pee on) dalam sebuah pun tanpa dipahami orang-orang Korea Utara.

Setelah 11 bulan melakukan usaha negosiasi yang tidak produktif, sebuah kesepakatan antara AS dan Korea Utara akhirnya dicapai. AS harus mengakui bahwa Pueblo melakukan “intrusi” ke wilayah Korea Utara, meminta maaf, dan berjanji tidak akan mengulangnya di masa depan. Semua tawanan dikembalikan di Panmunjon. USS Pueblo sendiri masih berada di Korea Utara hingga sekarang, dan tercatat tetap berada dalam dinas di AL AS.

2. Penembakan Jatuh Deep Sea 129 pada April 1969 
Sebuah pesawat EC-121 Warning Star dengan kode nama Deep Sea 129, diterbangkan dalam misi “Beggar Shadow”, yaitu misi pengintaian di era 60an akhir dimana sebuah pesawat terbang di perairan internasional sambil mengumpulkan intelijen tentang komunikasi negara-negara Blok Soviet. Deep Sea 129 direncanakan akan terbang dari NAS Atsugi di Jepang, kemudian terbang berputar-putar ke arah barat laut di Laut Jepang dan ke arah Uni Soviet di timur laut. Deep Sea 129 dilarang mendekat dalam batas 90 km dari garis pantai Korea Utara.

Setelah Deep Sea 129 menjalankan misi selama enam jam, Korea Utara menerbangkan dua jet tempur MiG-21 Fishbed ke arah pesawat tersebut. Karena radar mendeteksi kemungkinan pencegatan, Deep Sea 129 diperintahkan untuk membatalkan misi dan kembali ke pangkalan. Namun sepasang MiG tersebut melejit dengan kecepatan supersonik, dan dapat mengejar Deep Sea 129 yang terbang tanpa kawalan maupun senjata defensif. Titik Deep Sea 129 menghilang di radar setelah bercampur dengan titik MiG Korea Utara tersebut. Beberapa jam setelah serangan, media Korea Utara mengkonfirmasi bahwa Korea Utara menembak jatuh EC-121.

Respon militer AS adalah mengirimkan Task Force 71 yang berisi kapal-kapal perang termasuk kapal induk Enterprise, Ticonderoga, Ranger, Hornet, battleship New Jersey, dan sekumpulan destroyer serta cruiser. Beberapa opsi sempat dipikirkan oleh administrasi Nixon selain pamer kekuatan, termasuk pemakaian pesawat kawal dalam misi-misi EC-121 dan aksi militer tegas, akan tetapi pada akhirnya, tidak ada penindakan lebih lanjut. Korban jiwa dalam insiden ini berjumlah 31 orang kru EC-121 tersebut.

3. Insiden Pembunuhan Kapak Korea – 18 Agustus 1976 

Dua perwira AD AS, yaitu CPT Arthur Bonifas dan 1LT Mark Barrett dibunuh tentara-tentara Korea Utara dalam Joint Security Area di zona demiliterisasi Korea (DMZ). Kejadian ini berawal dari adanya sebuah pohon poplar di Joint Security Area yang menghalangi pandangan sebuah pos pengamatan UNC (United Nations Command). Sebuah tim yang terdiri dari 5 personnel Korean Service Corps (KSC) yang dikawal oleh tim keamanan UNC berjumlah 11 orang enlisted dan 3 orang perwira, berangkat untuk memotong pohon tersebut. Tidak ada yang membawa senjata api.

Saat pohon dipotong, 15 tentara Korea Utara yang dipimpin oleh Senior Lt. Pak Chul muncul ke lokasi. Mereka mengamati pemotongan pohon selama 15 menit hingga Pak menyuruh proses tersebut dihentikan “karena pohon tersebut ditanam oleh Kim Il-Sung”. Personnel KSC/UNC tidak mengindahkan peringatan tersebut dan terus melakukan pekerjaannya. Setelahnya, sebuah truk Korea Utara datang dan menurunkan 20 orang bersenjata linggis dan tongkat pemukul. Ketika Bonifas membelakanginya, Pak memerintahkan bawahannya untuk menyerang orang-orang itu. Bonifas dan Barrett diserang dengan kapak yang sedang tidak dipegang para penebang pohon.

Perkelahian berlangsung hanya 20-30 detik sebelum personnel UNC dapat membubarkan orang-orang Korea Utara. Bonifas dipukuli oleh lima orang hingga meninggal sebelum akhirnya ditarik ke sebuah truk oleh personnel UNC. Barrett sempat berlindung dalam sebuah depresi yang tersembunyi, dan baru dicari setelah dikabarkan hilang 90 menit kemudian. Ternyata Barrett telah dikapak oleh orang-orang Korea Utara, dan meninggal dalam perjalanan ke stasiun medis di Camp Greaves.

AS segera merespon insiden ini dengan melancarkan Operasi Paul Bunyan. Tanggal 21 Agustus, 23 kendaraan AS dan Korea Selatan masuk ke JSA tanpa peringatan dan menurunkan tim 16 orang, yang kemudian memotong pohon tersebut dengan gergaji. Tim ini dikawal oleh dua peleton keamanan berisi 30 orang masing-masing, yang membawa pistol dan pegangan kapak. 64 orang dari Pasukan Khusus Korea Selatan yang membawa senapan M16, ranjau darat dan pelontar granat M79 juga mengamankan penebangan pohon. AS menyiagakan 20 helikopter, 7 helikopter serang AH-1 Cobra, pengebom strategis B-52 Stratofortress yang dikawal pesawat tempur F-4 Phantom II dari Guam, Phantom II lainnya dari Jepang dan Filipina, serta kapal induk USS Midway. F-5 Tiger dan F-86 Sabre Korea Selatan juga dikerahkan, beserta dengan tank, artileri, dan misil anti-pesawat I-HAWK.

Korea Utara merespon dengan mengirim 150-200 orang yang bersiaga dengan senjata api, namun tidak mengganggu proses penebangan pohon selama 42 menit. Pasukan yang kali ini datang juga menghancurkan dua pembatas jalan yang dipasang Korea Utara. Sisa pohon setinggi 6 meter dibiarkan berdiri.

4. Pertempuran Yeonpyeong Jilid I – 15 Juni 1999 
Perbatasan maritim Korea Utara dan Korea Selatan ditetapkan oleh NLL (Northern Limit Line) yang disahkan UNC sejak gencatan senjata di tahun 1953. Korea Utara berusaha menggambar ulang perbatasan yang ada dengan menetapkan sendiri "Inter-Korean MDL”, dan kemudian mengklaim bahwa garis mereka “dilanggar” oleh kapal-kapal Korea Selatan. Kapal-kapal patroli dan nelayan Korea Utara mulai menyebrangi NLL dari tanggal 7 Juni dan Korea Selatan merespon dengan mengirim kapal-kapal cepat dan patroli mereka.

Konfrontasi fisik mulai terjadi tanggal 9 Juni, setelah sebuah kapal patroli Korea Utara menabrak kapal cepat Korea Selatan. Karena Korea Utara terus melakukan pelanggaran atas NLL, Korea Selatan menerapkan tindakan yang lebih kasar, yaitu dengan menabrak langsung kapal-kapal Korea Utara. Puncak pertempuran ini terjadi pada tanggal 15, dimana kapal-kapal nelayan Korea Utara memulai menabraki kapal-kapal Korea Selatan, dan dibalas sebaliknya. Kapal PT-381 Korea Utara menembaki dua kapal Korea Selatan dengan senapan mesin dan kanon 25mm setelah dipepet dua kapal dari dua arah. Kapal-kapal Korea Selatan membalas dengan tembakan senjata 20mm, 40mm dan 76mm.

Konflik terjadi selama 15 menit dan berakhir dengan 1 korvet dan 1 kapal patroli Korea Selatan yang mengalami kerusakan ringan, serta 9 orang luka-luka. Korea Utara kehilangan 1 kapal torpedo, 3 kapal patroli rusak berat, 2 kapal patroli rusak ringan, dan 17-30 orang meninggal.

Pertempuran Yeonpyeong Jilid II terjadi pada tanggal 29 Juni 2002. Dua kapal Korea Utara melintasi NLL dan tidak mengindahkan peringatan untuk berputar balik. Mereka menyerang kapal Korea Selatan dengan senjata 85mm setelah melintasi NLL sejauh 4.8 km. Terjadi pertempuran sepuluh menit antara kedua pihak –Korea Selatan membalas RPG, senjata 35mm dan 85mm Korea Utara dengan senjata 40 dan 20mm.

Kapal-kapal Korea Utara mundur setelah bala bantuan Korea Selatan datang, yaitu dua lagi kapal patroli dan dua korvet. Satu kapal Korea Selatan tenggelam ketika sedang ditarik kembali, 6 orang meninggal sementara 18 orang terluka. Kapal Korea Utara mampu berlayar tertatih-tatih kembali ke wilayahnya, dengan 13 orang meninggal dan 25 orang luka-luka.

5. Penenggelaman ROKS Cheonan - 26 Maret 2010 
Sebuah kapal selam midget Korea Utara menyergap dan menenggelamkan sebuah korvet Pohang-class milik AL Korea Selatan, yaitu ROKS Cheonan. ROKS Cheonan ditenggelamkan di dekat Pulau Baengnyeong , pada saat AL AS dan Korea Selatan sedang menjalankan latihan anti-kapal selam bersama 121 km dari lokasi tersebut. Tiba-tiba saja terjadi sebuah ledakan di bagian buritan Cheonan, dan ia pun terbelah menjadi dua dalam 5 menit, serta tenggelam 3 menit kemudian. Dari 104 kru yang mengawaki kapal tersebut, 58 kru berhasil diselamatkan sedangkan 46 orang lainnya meninggal dunia.

Cheonan kemudian diangkat kembali untuk investigasi, dan mayat 40 dari 46 orang kru yang meninggal dapat diperoleh kembali. Para penyelidik menemukan bahwa torpedo tidak meledak tepat di kapal, melainkan meledak di bawah kapal dan menimbulkan bubble jet yang memutuskan kapal tersebut menjadi dua. Jejak-jejak peledak RDX ditemukan di reruntukan Cheonan beserta sisa-sisa torpedo CHT-02D buatan Korea Utara yang termasuk bagian propeller, propulsion dan steering, juga dengan nomor serinya. Torpedo tersebut sama persis dengan torpedo yang pernah di-salvage Korea Selatan beberapa tahun sebelumnya.

6. Pengeboman Yeonpyeong (jilid 2) - 23 November 2010 
Korea Utara melakukan serangan artileri roket ke Pulau Yeonpyeong. Korea Selatan menjalankan latihan tembakan artileri rutin ke sebuah zona perairan 40 x 20 km sejajar dengan NLL di sisi barat daya Pulau Yeonpyeong. Peluru-peluru Korea Selatan ditembakkan ke arah selatan, menjauh dari Korea Utara. Empat setengah jam setelah latihan Korea Selatan dimulai, Korea Utara menembaki Pulau Yeonpyeong dengan artileri pesisir dan MRL (multiple rocket launcher) 122mm dari Kaemori dalam dua gelombang.

Korea Utara menembakkan total sebanyak 170 shell dan roket, dimana 80 buah berhasil mengenai Yeonpyeong. 20 dari dari 80 buah munisi tersebut gagal meledak (dud). Korea Selatan memiliki 6 buah self-propelled gun K9 Thunder di Yeonpyeong, namun hanya tiga yang dapat dipakai untuk membalas dengan counterbattery fire. Artileri tersebut menembakkan 80 peluru yang awalnya menarget barak dan struktur komando di Mudo, namun kemudian bergeser untuk menyasar MRL 122mm yang tadi menyerang Yeonpyeong.

Warga sipil berlindung di bunker selama serangan terjadi. Seusainya insiden tersebut, 1,500 dari 1,780 penduduk di Yeonpyeong dievakuasi keluar pulau. Serangan tersebut mengakibatkan hancurnya rumah dan toko-toko, matinya listrik di Yeonpyeong serta kebakaran luas. 4 orang Korea Selatan meninggal dan 22 orang lain terluka, baik dari sipil maupun militer. Korban dari Korea Utara diperkirakan setidaknya 5-10 orang, namun seorang pembelot dari Korea Utara mengatakan bahwa militer Korea Selatan gagal menghancurkan MRL –MRL Korea Utara karena respon yang terlalu pelan. Tidak ada respon militer tegas dan langsung apapun yang diambil oleh AS/Korea Selatan selain counterbattery fire yang lemah tadi.

Daftar tindakan-tindakan perang yang pernah dilakukan Korea Utara ini sebetulnya masih panjang. Selama Perang Dingin, tidak ada pembalasan militer tegas yang diambil atas tindakan ini karena kekhawatiran bahwa Perang Korea kedua yang pecah akan menjadi konflik antara great power yang lebih luas. Namun setelah selesainya Perang Dingin, masih ada ketakutan dalam bentuk lain -bahwa Korea Utara akan merespon serangan sekecil apapun dengan serangan besar-besaran terhadap Seoul, maupun perang habis-habisan (all-out).

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon