Senin, 02 Juli 2018

Kuliah vs Dunia Kerja

Loading...


"Seorang jenderal perang di lapangan akan lebih percaya pada alat-alat perang yang dipakenya dgn pedoman petunjuk pengoperasiannya ketimbang harus melakukan perhitungan secara matematis untuk membidik sasaran".
mgkn itulah gaambaran plng tepat ttng realita dunia kerja//industri , sgt berbeda dgn yg dibayangkan oleh Fresh graduate, mhsw/calon mhsw yg menilai korelasi materi di kampus dan dunia kerja bersifat linier.
mgkn para camaba/maba atau bahkan fresh graduate membayangkan korelasi itu seperti pola lulusan kursus, apa yg diajarkan di kursus itu yg akan di krjakan di tempat pekerjann,, it's wrong, !!
.
.
jadi inget omongan dosen ”Struktur Data.” yg sejak awal sdh bilang bahwa ilmu yang diajarkan tidak akan terpakai di dunia kerja, melainkan hanya dipakai di dunia science (science riset).
Misalkan jika lulusan mau mengembangkan atau membuat sistem operasi, atau membuat software baru, dan sejenisnya itu bisa dilakukan, tetapi bukan untuk di dunia kerja/bisnis, itu terlalu basic dan ga akan kepake di industri.
Contoh sederhana saja,
”ngapain belajar teknik "sorting" segala, toh sekarang hanya tinggal nulis perintah "sort" saja, urusan mengurut data sudah selesai.
mempelajari teknik sorting adalah membuat algoritma gimana sorting bisa dilakukan dengan cepat dan penggunaan memori yang seminim mungkin.
Algoritma/program tsb selanjutnya dimasukkan ke dalam memori sebagai function yang dapat dijalankan, cukup dengan menulis perintah "sort" saja.
Bagaimana dengan mata kuliah ”Sistem Basis Data” misalnya.
Ternyata, banyak perusahaan besar yang sudah menggunakan program jadi yang dibelinya dari vendor.
selain itu msh bnyk matkul2 lain yg nasibnya sama. dijaman kuliahan materi yg stengah mati dipelajari krn rumitnya ternyata cuman jadi materi dasar doang di dunia kerja dan di industri nyata sdh ada paket2 software yg jaauh lbh lengkap dan canggih dan tingggal klik and klik unt dioperasikan dgn sgt mudah.
Selanjutnya para Engineer hanya tinggal menjalankan sesuai prosedur dan melakukan supervisi penyesuaian serta mengambil keputusan dgn cepat dan tepat jika terjadi problem. atau paling banter para enginner tinggal merangkai paket2 software yg dibelinya dari vendor unt menjadi suatu sistem berjalan.
ini sgt lazim dan suatu keharusan yg tak dpt ditawar di dunia kerja profesional yg bisnis oriented dgn basic teknologi.
.
.
berarti materi Kuliah S1 adalh Teori yg sngt Prematur ??
Apa yg salah ???
.
Memang sebagian besar apa yang diajarkan di bagku kuliah hanya dapat dikatakan sebagai ”ah, teori !.”
materi perkuliahan S1 mmng di visikan unt penelitian pengembangan science atau research & development yg seolah mengacu makro blueprint teknologi yg ada di dunia kerja/industri, padahal jika ditelisik lbh jauh hal itu tdk sesederhana itu.
materi kuliah s1 msh sngt prematur unt diterapkan di dunia kerja.
Para pengusaha tidak sempat melakukan kalkulasi forcasting tentang peluang yang ada di hadapannya, mereka justru mengandalkan feeling atau nalurinya yang dilandasi dengan pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain yang diyakininya. sdh tentu dgn basic pengetahuan ttng teknologi.
Mereka juga tidak perlu bersusah payah menghitung riset operasional untuk pemecahan problem tertentu.
Namun demikian tdk ada yg salah dgn materi s1, kuliah s1 mmng akhirnya ditujukan pd penguatan pola pikir yg ujung2 nya mengerucut pd kata tingkat confidence dgn landasan science& teknologi dan responsibility yg menjadi tolak ukurnya.
.
.
Para Engineer berdasarkan pengalaman kerja dan fakta dilapangan mengakui bahkan memperkirakan bahwa hanya sktr 10% - 15% lah materi2 kuliah yg nyangkut secara langsung dgn dunia kerja itupun hanya materi2 yg sifatnya mendasar.
di dunia kerja, bnyk materi/metode dgn rumus2 baru yg tidak ada diperkuliahan dan hrs dipelajari, namun proses pembelajaran itu dapat dilakukan dgn cepat, bahkan terasa lbh simple dgn disertai "juklak/juknis" sesuai Standart Operating Procedure (SOP) yg telah dibuat. bahkan umumnya corporate2 besar memberikan special training unt new engineernya
materi/metode/rumus2 itu berupa real implementasion unt dunia krja/bisnis dan bersifat "corporate secrets" yg tdk pernah ada di bangku perkuliahan.
.
kalo cuma 10%, Jadi apa dong bedanya org Kuliah dan Tidak Kuliah ??
.
tentu saja ada bedanya
”cara bekerja lulusan kuliahan dengan lulusan SMA/SMK mmng sgt berbeda,” yaitu dari cara berpikir, berlogika, ketajaman Analisis dan yg utama ketepatan dan kecepatan dlm pengambilan keputusan, dan ini diperoleh dari proses pembelajaran selama kuliah yg tanpa disadari telah membentuk pola pemikiran yg logis dan sistematis.
Jadi, ada korelasi tidak langsung yang menjadikan seorang lulusan anak kuliahan memiliki nilai lebih dari seorang lulusan SLTA.
.
.
Situasi ini perlu dipahami khususnya unt fresh graduate saat akan memasuki dunia kerja. bnyk mainset2 yg membingungkan ttng hal ini,
Hal ini sgt dibutuhkan agar para fresh graduate tidak kaget saat memasuki dunia kerja dan tdk merasa salah tempat saat sdh bekerja.
.
Kalau untuk sukses atau tajir, faktor lain masih dominan untuk berperan, misal faktor kemampuan softskill, kemampuan bhs asing khususnya inggris, kemudian kecerdasan selain kecerdasan akademis sgt berperan menntukan karier, dan sdh tentu faktor hoky pun ga bisa diabaikan.
..
Semoga bermanfaat unt para fresh graduate
Kuliah tidak menjamin kesuksesan tapi kuliah sgt membantu meraih kesuksesan

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon