Rabu, 11 Juli 2018

Ekspedisi Komodor Perry dan awal keterbukaan Jepang

Selama 220 tahun Jepang menutup diri dari dunia luar karena kebijakan sakoku yang diterapkan oleh Keshogunan Tokugawa. Hubungan dagang Jepang terbatas hanya dengan Cina dan Belanda. Namun ditahun 1854 Jepang mengakhiri masa isolasinya berkat seorang laksamana Amerika, Komodor Matthew Calbraith Perry.

Presiden Amerika saat itu, Millard Fillmore mengirim Komodor Perry ke Jepang untuk membuka pelabuhan Jepang kepada para pedagangan Amerika yang bertujuan untuk memperluas jaringan dagang Amerika di Asia. Dalam ekspedisi ke Jepang ini, Perry membawa 3 kapal perang bertenaga uap dan 5 kapal perang lainnya. Pada 8 Juli 1853, armada Perry sampai di Teluk Edo (Tokyo) dan sesampai di Teluk Edo kapal perang Mississippi menembakan 73 tembakan kosong untuk merayakan hari kemerdekaan Amerika, namun pihak Jepang mengira tembakan tersebut adalah ancaman militer. Kapal-kapal penjaga milik Jepang pun langsung mengepung armada Amerika.

Perry meminta agar dia dipertemukan dengan shogun untuk menyampaikan surat dari Presiden Fillmore namun permintaan itu ditolak oleh pihak Jepang. Karena sadar akan kekuatan armada Amerika jauh diatas kekuatan Jepang maka pemimpin senior roju (atau semacam dewan keshogunan) yang bernama Abe Masahiro membujuk shogun agar mau menerima surat yang dibawa oleh Perry. Akhirnya armada Perry diminta untuk mendarat di Kurihama untuk. Setelah sampai di Kurihama, Perry menginjakan kaki di pelabuhan tersebut dan langsung berhadapan dengan pasukan Jepang yang sudah berjaga di pelabuhan. Surat dari Presiden Fillmore diterima oleh pihak Jepang dan sesudah itu Perry dan armadanya meninggalkan Jepang dan berlayar menuju Cina dan mereka berjanji akan kembali lagi untuk menerima jawaban dari Shogun.

Jepang sadar akan kekuatan militer Amerika yang jauh diatas Jepang namun Jepang juga tidak mau kehilangan kedaulatannya jika bersedia menerima permintaan Amerika. Akhirnya terjadi perdebatan di kalangan dewan keshogunan mengenai surat dari Presiden Fillmore yang meminta Jepang untuk membuka pelabuhannya kepada kapal dagang Amerika, rapat yang diadakan dewan pun tidak membuahkan hasil ditambah posisi pemerintahan keshogunan yang lemah akibat wafatnya shogun Tokugawa Ieyoshi yang kemudian digantikan oleh anaknya Tokugawa Iesada yang juga sedang sakit sehingga Abe Masahiro adalah tokoh kunci mengenai keputusan yang akan diambil pihak Jepang.

Akhirnya untuk berjaga jaga dari serangan armada Amerika, Jepang membangun fortifikasi di sebuah pulau buatan bernama Odaiba yang berada di Teluk Tokyo. Kemudian pada 13 Februari 1854, Perry dan armadanya kembali ke Jepang dan kali ini kapal perang yang dibawa lebih banyak meliputi 10 kapal perang dan 1600 marinir. Melihat armada yang dibawa lebih besar akhirnya pihak Jepang memilih untuk menyepakati permintaan Amerika. Setelah melakukan serangkaian negosiasi akhirnya pada 31 Maret 1854 Konvensi Kanagawa disepakati yang berisi Jepang akan membuka pelabuhan Shimoda dan Hakodate untuk pedagang Amerika dan akan membangun kantor kedutaan Amerika di Shimoda.

Dengan disepakatinya Konvensi Kanagawa dan dimulainya hubungan dagang dengan Amerika, negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Rusia juga mengikuti jejak Amerika, menjalin hubungan dagang dengan Jepang, mulai banyaknya negara lain yang memasuki Jepang membuat kebijakan isolasi/Sakoku yang sudah dijalankan selama 220 berakhir dan masuknya bangsa asing ke Jepang membuat wibawa keshogunan Tokugawa hilang dimata rakyatnya karena penduduk lokal tidak senang dengan hadirnya pedagang asing, hal ini pula yang menyebabkan runtuhnya Keshogunan Tokugawa pada 1867. Namun dengan terbukanya Jepang dengan dunia luar menghasilkan dampak positif juga terhadap Jepang yaitu mulai diperkenalkannya teknologi modern yang berasal dari Eropa yang membuat Jepang yang semula negara agraris berubah menjadi negara industri hingga sekarang.

sumber: OA Historypedia Line

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon