Selasa, 05 Juni 2018

UPAYA MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN INDONESIA

Loading...

A. LATAR BELAKANG USAHA MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN INDONESIA

Pada14Agustus1945,pemerintah JepangmelaluiPerdanaMenteriKaisomenyatakan menyerah dalam menghadapi pihak sekutu di Perang dunia II yang dipertegas dengan pernyataan Kaisar Hirohito keesokan harinya. Dengan menyerahnya Jepang tersebut, secara otomatis wilayah jajahan Jepang termasuk Indonesia diserahkan pada sekutu.
Berdasarkan hasil keputusan dari Civil Affairs Agreement (pertemuan antara Jepang dengan sekutu) yang dilaksanakan pada 24 Agustus 1945 di London, menyatakan Inggris bertindak atas nama Belanda dan pelaksanaannya diatur oleh NICA yang bertanggung jawab kepada sekutu. Pada 15 September 1945, pasukan sekutu yang tergabung dalam Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) di bawah pimpinan Letjen Sir Philip Christison, tiba di Jakarta. Adapun tugas AFNEI:
a. Membebaskan tawanan perang sekutu yang ditahan Jepang.
b. Menerima penyerahan kekuasaan dari Jepang.
c. Melucuti dan memulangkan tentara Jepang.
d. Mencari dan menuntut penjahat perang.
Awalnya, rakyat Indonesia tidak berfikir negatif ketika pasukan AFNEI datang. Akan tetapi, kondisi berubah setalah diketahui AFNEI membawa serta orang-orang NICA ( Netherlands Indies Civil Administration).

Tujuan kedatangan Belanda untuk menjajah kembali Indonesia membuat rakyat Indonesia menentang dengan perjuangan senjata dan diplomasi yang melibatkan dunia internasional.

B. PERJUANGAN BERSENJATA

Dalam upaya mempertahankan kemerdekaanya tersebut, salah satu cara yang dilakukan oleh rakyat Indonesia dengan cara berperang melawan Belanda. Soekarno, selaku Presiden Indonesia pada saat itu, sebenarnya, tidak menyukai cara ini karena akan memakan korban jiwa yang banyak dari pihak Indonesia. Adapun beberapa pertempuran yang dilakukan oleh rakyat Indonesia, antara lain:

a. Pertempuran Surabaya (10 November 1945)

Pada 25 Oktober 1945, pasukan Inggris dipimpin Brigjen A.W.S. Mallaby tiba di Surabaya. Saat itu juga, pasukan Inggris menyerbu dan menduduki gedung-gedung pemerintah. Selain itu, pasukan Inggris juga menyebar selebaran yang memerintahkan pada semua orang Indonesia untuk menyerahkan senjata. Bila tidak mengindahkan himbauan itu, akan diancam hukuman mati.
Rakyat menolak himbauan sekutu dan melakukan perlawanan. Pada 31 Oktober 1945, terjadi baku tembak yang mengakibatkan Brigjen A. W. S. Mallaby tewas di Bank Internio (Jembatan Merah). Penggantinya Mayjen Mansergh mengeluarkan ultimatum bahwa yang membunuh Mallaby harus menyerahkan diri selambat-lambatnya tanggal 10 November 1945 pukul 06.00 pagi. Jika tidak menyerahkan diri, pasukan sekutu akan menyerang kota Surabaya.
Karena ultimatum tersebut tidak diindahkan oleh rakyat Surabaya, pasukan sekutu kota Surabaya yang dipimpin Bung Tomo, Sungkono, dan Gubernur Suryo melakukan perlawanan. Ribuan rakyat meninggal dalam pertempuran itu. Oleh karena itu, setiap tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan.

b. Bandung (23 Maret 1946)

Sejak Oktober 1945, pasukan AFNEI memasuki kota Bandung. Ketika itu, TKR (Tentara Keamanan Rakyat) bersama rakyat sedang berjuang merebut senjata dari tangan Jepang. AFNEI menuntut pada pasukan Indonesia untuk menyerahkan senjata dan disusul ultimatum yang memerintahkan TKR menginggalkan kota Bandung Utara paling lambat tanggal 29 Oktober 1945. Akan tetapi, ultimatum tersebut tidak dipedulikan oleh TKR dan rakyat Bandung.
TKR yang dipimpin Arudji Kartawinata melakukan serangan terhadap kedudukan AFNEI. Keadaan itu berlanjut sampai memasuki tahun 1946. Untuk kedua kalinya pada 23 Maret 1945, AFNEI mengeluarkan ultimatum agar TRI (Tentara Republik Indonesia) meninggalkan kota Bandung. Bersamaan dengan itu atau sehari sebelumnya, pemerintah

Republik Indonesia dari Jakarta mengeluarkan perintah yangsama. Akhirnya, TRI Bandung patuh terhadap pemerintah meskipun dengan berat hati. Sambil mengundurkan diri, TRI membumihanguskan kota Bandung bagian selatan. Dalam pertempuran di Bandung, M. Toha gugur.

c. Pertempuran Ambarawa (21 – 15 Desember 1945)

Pertempuran Ambarawa terjadi karena sekutu yang dipimpin Brigjen Bethel yang diboncengi NICA dengan sepihak membebaskan tawanan sekutu yang ada di Magelang dan Ambarawa. Tindakan sekutu ini dianggap telah melanggar kedaulatan RI. Setelah TKR mengadakan konsolidasi, Divisi V Kolonel Sudirman memperkuat wilayah Ambarawa dengan taktik Supit Urang, yaitu menyerang dari berbagai arah. Terjadilah pertempuran yang dahsyat pada 15 Desember 1945. Dalam pertempuran ini, TKR dibantu kesatuan- kesatuan dari daerah lain, yaitu dari Surakarta dan Salatiga. Pertempuran Ambarawa dimenangkan pihak TKR. Namun dalam tertempuran tersebut, Kolonel Isdiman gugur dan diperingati sebagai Hari Infanteri.

C. PERJUANGAN DIPLOMASI

Cara kedua yang ditembuh bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya melalui jalur diplomasi atau berunding. Inilah cara terbaik menurut Soekarno karena kemungkinan jatuhnya korban jiwa akan lebih sedikit dibanding dengan jalur bersenjata. Adapun beberapa perundinagn yang dilakukan oleh pihak Indonesia dengan Belanda:
Nama Perundingan Tokoh yang Terlibat
Hasil
Dampak
a. Perundingan Linggarjati 1. Sutan Sjahrir (Indonesia)
2. Schermerhorn (Belanda)
3. Lord Killearn (penengah dari pihak sekutu)
1. Belanda mengakui secara de facto Negara Indonesia Serikat (NIS)
2. Wilayah NIS meliputi Sumatera, Jawa dan Madura
3. Dibentuknya Uni Indonesia Belanda
1. Sutan Sjahrir dipecat dari Perdana Menteri Indonesia karena dianggap telah membuat wilayah Indonesia menjadi sempit. Posisi beliau kemudian digantikan oleh Amir Sjarifuddin.
2. Peristiwa 3 Juli 1947, Tan Malaka melalui organisasi Persatuan Perjuangan berhasil menculik Sutan Sjahrir karena dianggap terlalu lemah ketika menghadapi Belanda.

Nama Perundingan Tokoh yang Terlibat
Hasil
Dampak
3. Agresi Militer Belanda I (AMB I)
Setelah mendapatkan sebagian besar wilayah Indonesia,
Belanda masih belum puas. Terbukti pada 21 Juli 1947,
Belanda melakukan serangan ke beberapa kota Indonesia, khususnya Jakarta.
Untuk menghadapi masalah tersebut, pemerintah Indonesia memindahkan ibu kota ke Yogyakarta.
4. Persatuan Bangsa- Bangsa (PBB) membentuk Komisi Tiga Negara (KTN) untuk mengatasi konflik Indonesia Belanda. Tugas organisasi ini mendamaikan konflik Indonesia dan Belanda. Adapun negara yang ditunjuk PBB untuk menjadi anggota KTN:
• Australia: Richard Kirby
• Belgia: Paul van Zeeland
• Amerika Serikat: Frank Graham.

Nama Perundingan Tokoh yang Terlibat
Hasil
Dampak
b. Perundingan Renville 1. Amir Sjarifuddin, Ali Sastroamidjoyo,
H. Agus Salim, J. Leimena, Coa Tik Ien, dan Nasrun
S.H. (Indonesia)
2. R. Abdulkadir Wijoyoatmojo, Van Vredenbur,
P.J. Koets, dan Dr. Soumokil (Belanda)
3. Richard Kirby (Australia), Paul van Zeeland (Belgia), dan Frank Graham (Amerika Serikat) sebagai perwakilan dari KTN.
1. Penarikan garis demarkasi Indonesia- Belanda. Wilayah Indonesia
hanya terdiri atas sebagian
Sumatera, Banten, dan Yogyakarta.
2. Pasukan RI yang berada di wilayah pendudukan Belanda harus ditarik.
3. Diadakan plebisit (pemungutan suara umum di suatu daerah) bagi rakyat
di wilayah pendudukan Belanda
1. Amir Sjarifuddin diberhentikan dari jabatannya sebagai perdana menteri karena dianggap bertanggung jawab membuat wilayah Indonesia semakin sempit.
2. Pada 19 Desember 1948, Belanda mulai melakukan Agresi Militer yang kedua (AMB II) dengan menyerang Yogyakarta dan mengasingkan Soekarno ke daerah Parapat (Sumatera Utara) serta menculik
M. Hatta ke daerah Bangka. Dengan melakukan aksi tersebut, Belanda merasa percaya diri Indonesia secara de facto sudah tidak ada lagi. Untuk menjaga eksistensi Indonesia, pada 20 Desember 1948, Sjarifuddin Prawiranegara mengumumkan pembentukan Pemerintahan Darurat Republik Indoneia (PDRI) yang beribukota di Bukit Tinggi. Untuk merebut kembali Yogyakarta, diadakan Serangan Umum 1
Maret 1949.

Nama Perundingan Tokoh yang Terlibat
Hasil
Dampak
3. Peristiwa AMB II, telah mengundang perhatian dunia Internasional, seperti India (menyelenggarakan Konferensi New Delhi) dan Amerika (Ancaman terhadap Belanda tentang
penghentian Marshall Plan)
4. PBB membentuk UNCI sebagai pengganti KTN yang dianggap kurang berhasil melaksanakan tugasnya. Tugas
UNCI sendiri untuk mendamaikan konflik
Indonesia Belanda.
c. Perundinagn Roem-Royen 1. M. Roem (Indonesia)
2. van Royen (Belanda)
3. Merle Cochran (Penengah dari Amerika)
1. Membebaskan pemimpin Indonesia.
2. Mengembalikan Ibukota Yogyakarta.
3. Gencatan Senjata.
4. Perencanaan KMB.
d. Konferensi Inter Indonesia 1. M. Hatta (Indonesia)
2. Sutan Hamid II dan Anak Agung ( Bijeenkomst voor Federal Overleg/ BFO)
1. BFO mendukung tuntutan RI
agar Belanda mengakui kedaulatan Indonesia tanpa syarat.
2. RI dan BFO membentuk komite persiapan nasional untuk mengkoordinasi kegiatan sebelum dan setelah KMB.

Nama Perundingan Tokoh yang Terlibat
Hasil
Dampak
3. Negara Indonesia Serikat berganti nama menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS).
4. Pembentukan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS).
e. Konferensi Meja Bundar 1. Dr. Willem Dress (PM Belanda sekaligus ketua KMB)
2. M. Hatta, M. Roem, Prof Soepomo. (Indonesia)
3. van Marseven (Belanda)
4. Sutan Hamid II (Wakil dari BFO)
5. Chritchley (Penengah dari UNCI)
1. Belanda menyerahkan kedaulatan RIS pada akhir
Desember 1949.
2. Penyelesaian Irian Barat ditunda selama satu tahun.
3. Hutang luar negeri Belanda (1942–1945) ditanggung oleh Indonesia.
1. Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia.
2. Konflik dengan Belanda dapat diakhiri dan pembangunan segera dapat dimulai.
3. Irian Barat belum bisa diserahkan pada Republik Indonesia Serikat.
4. Bentuk negara serikat tidak sesuai dengan cita-cita Proklamasi.
5. Belum diakuinya Irian Barat sebagai bagian dari Indonesia.

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon