Jumat, 15 Juni 2018

Perang Italia-Ethiopia Pertama, kemenangan bangsa Afrika atas bangsa Eropa


Di akhir abad 19 hampir semua wilayah di Benua Afrika dikuasai oleh bangsa Eropa namun ada satu kerajaan di Afrika yang bebas dari kolonialisme bangsa Eropa yaitu Kerajaan Ethiopia. Monarki Ethiopia sudah berdiri sejak zaman kuno dan kerajaan ini menganut agama Kristen Ortodoks sebagai agama resminya.

Status Kerajaan Ethiopia sebagai kerajaan yang bebas dari penjajahan negara lain bukan tanpa hambatan beberapa negara pernah berambisi untuk menguasai kerajaan tersebut. Pada tahun 1868 Inggris pernah mengirimkan 5000 tentaranya untuk menyerang Ethiopia, serangan tersebut sukses mengalahkan Ethiopia sampai membuat Raja Tewodros II bunuh diri yang menyebabkan kekosongan kekuasaan di tahta Ethiopia. Setelah berhasil mengalahkan Ethiopia pasukan Inggris meninggalkan kerajaan tersebut. Kemudian pada 1870an Mesir menyerang Ethiopia. Mesir berhasrat untuk memperluas wilayah kekuasaanya hingga meliputi wilayah yang dilalui oleh Sungai Nil. Serangan Mesir berhasil dihentikan oleh tentara Ethiopia di Pertempuran Gura, akhirnya Mesir menyerah.

Tidak cukup sampai disitu kali ini Kerajaan Italia berambisi untuk menjadikan Ethiopia sebagai wilayah koloninya. Perdana Menteri Italia, Fransesco Crispi mulai merealisasikan rencana untuk menguasai Ethiopia, dimulai pada tahun 1885 tentara Ethiopia menduduki wilayah pelabuhan di Massawa yang terletak di wilayah Eritrea (saat itu masih bagian dari wilayah Ethiopia. Tidak terima atas aksi tentara Italia, Raja Yohannes IV mengirim pasukan untuk merebut kembali Massava.

Upaya untuk merebut kembali Massava gagal karena, sementara itu pasukan Italia sedikit demi sedikit menguasai wilayah Eritrea dan beberapa kali terlibat pertempuran kecil dengan pasukan Ethiopia. Kekalahan di Massava dibalas oleh Ethiopia di Pertempuran Dogali pada 26 Januari 1887. Dari 550 pasukan Italia yang bertempur sekitar 430 prajurit tewas dan 82 prajurit lainnya terluka. Ketika Ethiopia tengah sibuk mengusir tentara Italia, muncul musuh baru yang mengancam Ethiopia yaitu kelompok Mahdist, yaitu kelompok pengikut Muhammad Ahmad yang mengklaim dirinya sebagai Imam Mahdi yang berasal dari Sudan.

Pada 12 Maret 1889 ketika pasukan Ethiopia bertempur dengan milisi Mahdist di Gallabat, Raja Yohannes IV terbunuh di medan perang. Beberapa bulan kemudian Raja Menelik II diangkat menjadi raja Ethiopia menggantikan Yohannes IV. Di awal masa pemerintahan Menelik, hubungan Italia dan Ethiopia sempat membaik hal ini terbukti dengan meningkatnya hubungan dagang antar kedua negara. Menelik II berniat memodernisasi pasukan Ethiopia, akhirnya Menelik II membeli banyak senjata modern dari negara-negara Eropa termasuk Italia.

Pada 2 Mei 1889 Ethiopia dan Italia menyepakati Perjanjian Wichale yang berisi Italia mendapatkan beberapa wilayah di Eritrea dan sebagai gantinya Italia menyuplai Ethiopia dengan senjata dan mengirim sejumlah uang. Namun terdapat salah pengertian dalam isi perjanjian tersebut. Sementara pihak Ethiopia beranggapan kalau salah satu isi perjanjian itu adalah, Ethiopia bisa memakai jasa Italia sebagai perantara untuk mengadakan hubungan luar negeri dengan negara Eropa lain, Pihak Italia justru mengartikan isi perjanjian tersebut kalau Italia yang berkuasa penuh atas hubungan luar negeri Ethiopia dan ini sama aja menghilangkan kedaulatan Kerajaan Ethiopia.

Akibat miskomunikasi dalam mengartikan perjanjian ini, Raja Menelik membatalkan isi Perjanjian Wichale dan hubungan antara Ethiopia dan Italia kembali memanas dan perang antara kedua negara tersebut pun pecah. Dalam menghadapi tentara Italia, Raja Menelik memobilisasi pasukannya hingga berjumlah 196.000 prajurit selain itu juga melengkapi pasukannya dengan senjata modern. Sementara itu pasukan Italia yang dipimpin oleh Oreste Baratieri berjumlah sebanyak 25.000 prajurit termasuk pasukan Askari, yaitu pasukan yang terdiri orang asli Afrika dan pasukan elite yaitu Bersaglieri dan Alpini.

Pada 7 Desember 1895, pasukan Ethiopia mengalahkan pasukan Askari Italia di Amba Alagi. Setelah beberapa kali mendapat kekalahan pasukan Italia mundur ke kota Makelle. Kemudian pasukan Ethiopia mulai mengepung kota Makelle selama 45 hari. Baratieri pun mundur ke Adigrat dan membangun pertahan disana. Sementara itu pasukan Ethiopia menaklukan Adowa untuk mengepung pasukan Italia di Adigrat. Baratieri yakin dengan superioritas persenjataan Italia sehingga dia membiarkan pasukan Ethiopia menyerang duluan namun pasukan Menelik II tidak terpancing ke perangkap Baratieri akhirnya jalannya perang sempat terhenti sampai awal tahun 1896.

Akhirnya pada Februari 1896, Baratieri menyiapkan serangan besar-besaran ke kamp pasukan Ethiopia di Adowa dimana disana ada sekitar 110.000 pasukan Ethiopia. Dan pada 1 Maret 1896, pasukan Italia yang berkekuatan 20.000 prajurit memulai serangannya ke Adowa. Pasukan Italia sempat mengalami kewalahan karena kesalahan penggambaran peta dan kondisi alam yang tidak menguntungkan sehingga menyulitkan kordinasi pasukan Italia. Karena kalah jumlah dengan pasukan Ethiopia, pasukan Italia berhasil dikalahkan. Sekitar 5000 pasukan Italia tewas sementara 7000 pasukan Ethiopia tewas. Tak lama setelah itu pasukan Italia menyerah dan Perang Italia-Ethiopia pun berakhir dengan Ethiopia keluar sebagai pemenangnya.

Pada bulan Oktober 1896 disepakati Perjanjian Addis Ababa yang berisi bahwa Italia harus mengakui kedaulatan Kerajaan Ethiopia. Kemenangan di Pertempuran Adowa menyelamatkan Ethiopia dari penjajahan bangsa Eropa, dan oleh karena itu setiap tanggal 1 Maret tanggal terjadinya Pertempuran Adowa diperingati sebagai hari nasional di Ethiopia dan perang ini juga menujukan bahwa bangsa Afrika bisa mengalahkan superioritas bangsa Eropa.

sumber: OA Historypedia Line

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon