Selasa, 05 Juni 2018

Pendudukan Jepang (1942-1945)

Loading...


A. LATAR BELAKANG PENDUDUKAN JEPANG DI INDONESIA
Pada 7 Desember 1941, secara mengejutkan, Jepang telah berhasil menaklukkan pangkalanperang Amerikadi Pearl Harbour, Hawai. Dengankemenangantersebut, Jepang mengganggap dirinya bisa dengan mudah mendapatkan bahan baku untuk keperluan industri di negara-negara Asia. Jepang mulai menaklukkan beberapa wilayah di Asia, seperti Filiphina, Laut Cina Selatan, dan juga tak luput dari serangan Jepang, Indonesia yang kaya akan bahan baku dan sumber daya manusia. Penyerbuan ke wilayah Selatan dilakukan oleh angkatan darat (rikugun) dan angkatan laut (kaigun) dengan pembagian tugas sebagai berikut:
a. Angkatan darat bergerak dari Indo Cina untuk menaklukkan Malaysia, Sumatera, P.
Luzon, dan Birma
b. Angkatan laut bergerak dari Pearl Harbour ke Mindanau, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Irian, dan pulau-pulau di Lautan Pasifik.
Pada 11 Januari 1942, Jepang mulai mendarat di Indonesia tepatnya di daerah Tarakan, Kalimantan Timur. Belanda dengan mudah dibuat menyerah oleh Jepang. Pada 1 Maret 1942, Jepang mulai mendarat di Pulau Jawa, tepatnya di Semarang, Banten, dan Indramayu. Dengan persiapan yang matang, Jepang mulai menyerang Belanda yang ada di Jawa. Puncak dari penyerangan tersebut pada 8 Maret 1942 di daerah Kalijati, Subang.

Belanda yang diwakili oleh Teer Porten menyatakan menyerah tanpa syarat kepada Jepang yang pada saat perjanjian tersebut diwakili oleh Jenderal Hirada Imamura. Kemenangan Jepang tersebut disambut baik oleh rakyat Indonesia.

B. KEBIJAKAN PEMERINTAHAN JEPANG DI INDONESIA

Kebijakan-kebijakan Jepang di Indonesia, umumnya ditujukan untuk kepentingan militer Jepang dalam menghadapi Perang Pasifik atau Perang Asia Timur Raya. Adapun kebijakan Jepang tersebut, antara lain:

a. Bidang Politik

1. Pembubaran semua organisasi politik yang ada pada masa Belanda, kecuali MIAI karena dianggap memiliki kesamaan yang anti Barat.
2. Mendirikan beberapa organisasi seperti:
• Gerakan 3A
Gerakan ini didirikan untuk mengembangkan propaganda Jepang yang berisi Jepang sebagai pelindung Asia dari kolonialisme Bangsa Barat, Jepang pemimpin Asia yang akan membuat Asia mencapai puncak kejayaan dan Jepang sebagai Cahaya Asia yang akan membuat Asia berjaya di mata dunia. Untuk meyakinkan bangsa Indonesia maka ditunjuklah Mr. Samsudin sebagai ketuanya.
• Pusat Tenaga Rakyat
Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Mas Mansyur, Soekarno, Suwardi Suryaningrat dan Moh. Hatta. Tujuan dari organisasi ini adalah untuk membangun dan menghidupkan kembali segala sesuatu yang telah dihancurkan oleh Belanda.
Jawa Hokokai
Organisasi ini didirikan untuk memacu semangat rakyat Indonesia guna memberikan baktinya demi kemenangan Jepang dalam Perang Pasifik.
3. Memberikan janji kemerdekaan.

b. Bidang Ekonomi

1. Penyitaan seluruh aset Belanda yang ada di Indonesia.
2. Penghapusan tanaman perkebunan di Indonesia.
3. Mewajibkan rakyat Indonesia untuk menanam padi dan pohon jarak.
4. Mewajibkan rakyat Indonesia menyerahkan 60% dari hasil panen yang mereka peroleh.
5. Membentuk koperasi dengan nama kumiyai.

c. Bidang Militer

1. Membentuk tiga pemerintahan militer di Indonesia, yaitu:
• Pemerintahan Militer Angkatan Darat Tentara ke-25, yang bertugas di wilayah Sumatera dengan ibu kota di Bukit Tinggi.
• Pemerintahan Militer Angkatan Darat Tentara ke-16, yang bertugas di wilayah Jawa dan Madura dengan Jakarta sebagai ibu kotanya.
• Pemerintahan Militer Angkatan Laut Tentara ke-2, yang bertugas di wilayah Indonesia Timur dengan ibu kota berada di Makasar.
2. Membentuk organisasi militer dan semi militer:
• Organisasi Militer
Ø Heiho, pasukan cadangan Jepang dalam menghadapi Perang Asia Timur Raya.
Ø PETA, pasukan yang dibentuk untuk mempertahankan Indonesia. PETA sudah mengenal adanya pangkat yang berbeda-beda dalam organisasi, misalnya Daidanco (komandan batalion), Cudanco (komandan kompi), Shodanco (komandan peleton), Bundanco (komandan regu), dan Giyuhei (prajurit sukarela).
• Organisasi Semi Militer
Ø Seinendan, barisan pemuda
Ø Seinentan, barisan murid-murid sekolah dasar
Ø Gakukotai, barisan murid-murid sekolah lanjutan
Ø Fujinkai, barisan wanita
Ø Keibodan, barisan pembantu polisi
Ø Hizbullah, barisan pemuda Islam

d. Bidang Sosial dan Budaya

1. Eksploitasi tenaga manusia dengan menerapkan Romusha untuk membangun sarana-sarana pertahanan.
2. Kewajiban merayakan Hari Raya Tencosetsu, yaitu hari lahirnya Kaisar Hirohito.
3. Kewajiban melaksanakan Sekrei, upacara menghormati matahari setiap pagi.
4. Diizinkannya proses Indonesianisasi, seperti penggunaan bahasa Indonesia, pengibaran bendera merah putih, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
5. Penggunaan tarikh Sumera (tarikh Jepang) menggantikan tarikh Masehi. Waktu itu tarikh Masehi 1942 sama dengan tahun 2602 Sumera.
6. Menghilangkan keistimewaan bangsa kulit putih.

e. Bidang Birokrasi

Mengeluarkan UU No. 27 Tahun 1942 tentang aturan pemerintahan daerah dan UU No. 28 Tahun 1942 tentang aturan pemerintahan Syu dan Tokubetsu syi. Dengan UU tersebut, pemerintahan akan dilengkapi dengan pemerintahan sipil. Menurut UU No. 28 ini, pemerintahan daerah yang tertinggi adalah shu (karesidenan). Seluruh Pulau Jawa dan Madura, kecuali Kochi Yogyakarta dan Kochi Surakarta, dibagi menjadi daerah-daerah shu (karesidenan), shi (kotapraja), ken (kabupaten), gun (kawedanan), son (kecamatan), dan ku (desa/kelurahan).
Seluruh Pulau Jawadan Maduradibagimenjadi 17 shu. Pemerintahanshu itudipimpin oleh seorang shucokan. Shucokan memiliki kekuasaan, seperti gubenur pada zaman Hindia-Belanda yang meliputi kekuasaan legislatif dan eksekutif. Dalam menjalankan pemerintahan, shucokan dibantu olehCokan Kanbo (Majelis Permusyawaratan Shu). SetiapCokan Kanbo ini memiliki tiga bu (bagian), yakni Naiseibu (bagian pemerintahan umum), Kaisaibu (bagian ekonomi) dan Keisatsubu (bagian kepolisian). Pemerintah pendudukan Jepang juga dapat membentuk sebuah kota yang dianggap memiliki posisi sangat penting sehingga menjadi daerah semacam daerah swatantra (otonomi). Daerah ini disebut tokubetsushi (kota istimewa) yang posisi dan kewenangannya, seperti shu yang berada langsung di bawah pengawasan gunseikan.

C. PERLAWANAN RAKYAT INDONESIA TERHADAP PEMERINTAHAN JEPANG DI INDONESIA

Berdasarkan karakter dan jenis perjuangannya, perlawanan terhadap pemerintahan Jepang dapat kita bagi menjadi:

a. Perlawanan Kooperatif

Perlawananjenisiniumumnyadilakukanmelaluiorganisasi-organisasiyangdidirikan oleh Jepang, seperti Gerakan 3A, PUTERA, dan Jawa Hokokai. Para tokoh Indonesia yang memilih berjuang dengan jalan ini menilai bahwa pemerintahan Jepang lebih sadis ketimbang pemerintahan sebelumnya.

b. Perlawanan Nonkooperatif

1. Perlawanan ulama
• Teungku Hamid dan Teungku Abdul Jalil memimpin perlawanan di Aceh.
• K.H. Madriyas memimpin perlawanan di Indramayu.
• K.H. Zaenal Mustofa memimpin perlawanan di Singaparna, Tasikmalaya.
2. Perlawanan PETA
Syudanco Supiyadi memimpin perlawanan di Blitar.
Budanco Khusaeri memimpin perlawanan di Cilacap.

3. Gerakan bawah tanah
• Golongan Amir Sjarifudin yang sangat anti terhadap Fasisme.
• Golongan Sutan Sjahrir yang berisi golongan terpelajar.
• Golongan Sukarni yang peranannya sangat besar ketika persiapan proklamasi.
• Golongan Ahmad Subardjo yang mendirikan Asrama Muda Indonesia bergerak dalam bidang pendidikan.

D. DAMPAK PENDUDUKAN JEPANG DI INDONESIA

a. Dampak Positif
1. Berkembangnya proses Indonesianisasi.
2. Para pemuda Indonesia mendapat pendidikan militer.
3. Banyak tokoh Indonesia yang diangkat sebagai pejabat tinggi dalam pemerintahan.
4. Kesempatan untuk mempersiapkan kemerdekaan.

b. Dampak Negatif

1. Kelaparan dan kemiskinan
2. Kerusakan alam
3. Penderitaan akibat romusha

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon