Kamis, 07 Juni 2018

Mansa Musa: Raja Terkaya Sepanjang Sejarah

Loading...

Mansa Musa merupakan keturunan dari Raja Sunjata, pendiri kerajaan Mali. Selama 25 tahun, Mansa Musa memimpin kerajaan dan membawa masa kejayaan Mali. Jika kakeknya Sunjata memilih fokus dalam membangun kerajaan etnis Malinke, etnis Muslim di Mali, Mansa fokus dalam penerapan praktik ibadah masyarakat.

Sosok Mansa Musa digambarkan sebagai seorang raja yang saleh dan sangat dihormati di seluruh Afrika. Sang raja kaya raya tersebut sangat antusias dalam mempelajari Alquran.

Pada tahun 1324, Mansa melakukan perjalanan haji ke Mekkah, Arab Saudi. Perjalanan ini sangat terkenal dalam catatan sejarah. Pasalnya, rombongan Mansa diiringi 100 unta dengan tiap unta membawa penuh emas. Terdapat pula 500 budak dengan tiap budak membawa emas.

Ia juga ditemani sang istri, Inari Kunate, yang membawa 500 pelayan. Tak heran jika Mansa tercatat sebagai orang terkaya nomor satu sepanjang masa. Kendati demikian, hal tersebut bukanlah luar biasa bagi Mansa mengingat negara Mali merupakan negara produsen emas.

Berangkat dari Afrika, sang raja membutuhkan waktu lebih dari setahun hingga tiba di Tanah Suci. Di sepanjang perjalanannya, Mansa melakukan banyak hal, termasuk berdagang. Ia pun beberapa kali singgah di kota dagang untuk memenuhi bekalnya hingga tiba di Mekkah. Lalu, peristiwa besar terjadi ketika singgah di Mesir. Rombongan Mansa disambut baik oleh Sultan Mesir.

Ia mengizinkan istananya untuk melayani Mansa Musa yang kemudian menetap di Kairo selama tiga buan. Atas kebaikan hati Sultan, Mansa memberinya hadiah 50 ribu dinar dan ribuan batang emas. Para pedagang Mesir pun berinteraksi dagang dengan rombongan Mansa. Akibat emas Mansa yang beredar di Mesir, nilai emas di negeri Pharaoh tersebut turun hingga 25% (depresiasi).

Perjalanan haji Mansa menjadi pintu gerbang perkembangan Islam secara siginifikan di Mali. Banyak hal baik terjadi setelah Mansa pulang dari Mekkah. Dalam rombongan pulang, ia mengangkut peradaban Islam dari Tanah Suci ke tanah gersang Mali.

Dia membawa buku-buku dari perpustakaan Arab serta membawa serta para cendekiawan untuk membangun peradaban. Sejak itulah peradaban Mali dimulai. Salah satu cendekiawan yang dibawa serta Mansa ialah arsitektur Muslim Andalusia terkenal kala itu Al-Sahili. Ia yang membangun masjid besar di Gao dan Timbuktu yang sangat terkenal hingga kini.

Selain itu, sejak kepulangan Mansa dari Tanah Suci, Mali mulai di kenal dunia luar. Kawasan Mali mulai tercantum dalam peta dunia pada 1339. Bahkan, pada pembuatan peta dunia 1375, Mali dikenal sebagai tanah seorang raja yang kaya dengan emas. Selain itu, sejak kepulangan Mansa, hubungan perdagangan antara Mali dan Mesir makin berjaya.

Mansa sangat berkiprah bagi perkembangan peradaban Islam di Mali. Ia memperkuat Islam di sana. Ia pun gencar melakukan promosi pendidikan dan ekonomi Mali, terutama di tiga kota pusat budaya, yaitu Walata, Jenne, dan Timbuktu. Hingga kini, Timbuktu merupakan wilayah dengan komunitas Muslim terbesar dan memiliki peradaban tinggi. Kota tersebut menjadi pusat pendidikan Islam di kawasan Mali.

Hal tersebut dipelopori oleh Mansa yang memulai pendidikan di Timbuktu dengan menjalin hubungan diplomatik antara Mali dan Maroko. Banyak mahasiswa Malinke yang dikirim belajar ke Maroko untuk kemudian pulang membangun Mali. Saat ini, Kota Timbuktu masih memiliki reputasi dalam pendidikan yang pan-Islamic. Di kota tersebut, naskah kuno peradaban Mali disimpan.

Selama dibawah kepemimpinan Mansa, Mali mengalami perluasan wilayah yang luar biasa. Ekspansi kerajaan makin panjang dari pantai Atlantik di Barat hingga Songhai di dekat Nigeria sebelah timur. Wilayah tersebut menguasai tambang garam Taghaza di utara hingga tanah kaya emas Wangara di selatan. Ia pun membawa stabilitas politik dan memberikan ketenaran bagi Mali.

Tetapi, puncak kejayaan kerajaan Mali tersebut hanya berlangsung sekejap. Mansa meninggal pada 1337 setelah 25 tahun memerintah Mali. Sepanjang sejarah Mali, tak ada raja pengganti yang mampu menandingi kualitas Mansa Musa.

sumber: OA Historyoedia Line
penulis: -Hürrem Sultan-

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon