Rabu, 30 Mei 2018

Sejarah Raja-Raja Romawi

Sejarah awal Romawi sendiri sangat diselubungi mitos. Menurut legenda populer seperti yang diceritakan oleh sejarawan Titus Livius, Roma didirikan oleh saudara kembar, Remus dan Romulus, putra dewa perang Mars dan keturunan pahlawan kuno Aeneas. Kedua saudara yang sama-sama keras kepala itu berkelahi untuk menentukan siapa yang berhak menjadi raja dari kota yang akan mereka dirikan. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menyerahkan nasib kepada para dewa. Remus menduduki bukit Aventinus dan Romulus menduduki bukit Palatinus. Tidak lama kemudian, enam burung mendatangi Remus, sementara dua belas burung mendatangi Romulus. Bukannya berkompromi, kedua saudara itu malah makin berseteru; Remus mengaku ia berhak menjadi raja karena ia didatangi lebih dahulu, sementara Romulus membantah dengan alasan burung yang bertengger di bukitnya lebih banyak. Dalam kemarahannya, Romulus membunuh Remus dan mengambil takhta sebagai raja tunggal Roma, memulai kekuasaannya di atas bukit Palatinus.

-RAJA PERTAMA: ROMULUS (753-716 SM)
Romulus menerapkan sebuah kebijakan yang membuat permukiman kecilnya tumbuh cepat menjadi sebuah kota; ia memberikan hak kewarganegaraan kepada siapapun yang ingin bergabung, tanpa memedulikan latar belakang mereka. Kebijakan ini menarik banyak orang untuk pindah ke Roma, mulai dari orang miskin, budak-budak yang baru dibebaskan, sampai mantan kriminal. Akan tetapi, masalah baru muncul dari kebijakan ini: kebanyakan pria yang tinggal di Roma masih lajang, dan sedikit sekali wanita yang mau pindah ke permukiman kumuh itu.
Alkisah, Romulus dan rakyatnya memutuskan untuk mengatasi masalah ini dengan cara licik. Mereka mengundang suku tetangga mereka, bangsa Sabinus, untuk mendatangi festival Neptunus di Roma, namun diam-diam menculik semua wanita Sabin yang datang dan memaksa mereka untuk menikahi pria-pria Roma. Bangsa Sabinus, tentu saja, merasa tidak senang akan tipu muslihat ini dan menantang Roma untuk berperang. Ajaibnya, ketika pertempuran hampir pecah, para wanita Sabin (yang tadinya diculik) melerai kedua pasukan dan membujuk kedua bangsa untuk hidup dalam damai. Romulus sepakat untuk bertakhta bersama Titus Tatius, raja bangsa Sabinus (meskipun Titus dengan pasnya meninggal tidak lama kemudian). Ia membagi negara barunya menjadi tiga kategori: suku Latin, suku Sabin, dan suku Etruria (sebuah bangsa di daerah utara Italia yang sekarang disebut Tuscany), membentuk senat yang terdiri atas seratus orang Latin dan seratus orang Sabin, serta menyusun sebuah perkumpulan kuria (Comitia Curiata) yang bertugas untuk memilih dan mengangkat pejabat negara.
Romulus dicatat menghilang dibawa badai misterius di hadapan Senat dan pasukan Romawi, meskipun Livius mengatakan ia kemungkinan  dibunuh.

-RAJA KEDUA: NUMA POMPILIUS (715-673 SM)
Setelah “kematian” Romulus, suku Sabin menuntut dipilihnya seorang raja baru dari kaum mereka. Setelah perundingan panas, senat akhirnya mengangkat Numa Pompilius, seseorang yang terkenal suci dan beriman, menjadi Raja Roma yang baru.
Sesuai reputasinya, Numa mulai menggelar fondasi kehidupan beragama di Roma. Ia memperbaiki kalendar Romawi dengan menambahkan bulan Januari dan Februari, memindahkan markas Perawan Vesta ke Roma untuk menjaga api abadi, menciptakan jabatan Pontifex Maximus untuk mengawasi hubungan antara rakyat Roma dengan para dewa, dan mendirikan Kuil Dewa Janus, yang terkenal karena pintunya hanya boleh dibuka ketika Roma sedang dalam keadaan perang. Pintu kuil tersebut, setelah dipasang, tidak pernah dibuka lagi selama masa pemerintahan Numa. Sebagai perbandingan, pintu Kuil Janus hampir selalu terbuka ketika penerus Numa bertakhta:

-RAJA KETIGA: TULLUS HOSTILIUS (673-641 SM)
Tullus adalah seorang raja yang haus darah; setelah menerima mahkota dari senat, ia langsung berangkat berperang melawan kota Alba Longa. Awalnya ia berhasil menaklukan kota tersebut dengan menjadikan mereka vasal, namun setelah terjadinya adegan pengkhianatan dari pasukan Alba, ia memerintahkan kehancuran Alba Longa dan memaksa penduduknya pindah ke Roma, memberi mereka tanah di bukit Caelius.
Tullus melanjutkan berperang melawan bangsa-bangsa Sabin yang belum tunduk kepada Roma, namun gagal karena ia “membuat marah para dewa”. Pertanda buruk demi pertanda buruk mewarnai pemerintahannya, sampai akhirnya ia sendiri disambar oleh petir Jupiter.

-RAJA KEEMPAT: ANCUS MARCIUS (641-616 SM)
Ancus Marcius adalah cucu dari Numa, dan kepribadiannya hampir sama persis dengan kakeknya. Menahan diri untuk tidak berperang kecuali untuk pertahanan, Ancus kembali menggalakkan upacara-upacara keagamaan yang sebelumnya tidak dihiraukan oleh Tullus. Ia memperluas wilayah kota Roma ke bukit Janiculum, mengembangkan kota pelabuhan Ostia, dan membangun sebuah jembatan di sungai Tiber.

-RAJA KELIMA: LUCIUS TARQUINIUS PRISCUS (616-579 SM)
Berbeda dari raja-raja sebelumnya, Tarquinius bukan orang Latin maupun Sabin, melainkan orang Etruria berketurunan Yunani.
Ketika Tarquinius pindah ke Roma, ia dengan cepat meniti karir politik, menjalin persahabatan dengan Raja Ancus Marcius. Sang politikus muda cukup disukai oleh sang raja hingga dipercaya menjadi wali asuh bagi kedua putranya.
Ketika Ancus Marcius meninggal dunia, Tarquinius menyuruh kedua anak asuhnya untuk pergi berburu, sementara ia memanipulasi senat untuk memilihnya menjadi penerus takhta alih-alih salah satu dari kedua anak mendiang raja. Setelah berhasil, ia langsung bergerak untuk memperkuat posisi politiknya; ia menambah seratus kursi lagi di senatorium, mengisinya dengan keluarga-keluarga Etruria dan para pendukungnya.
Beberapa prestasi yang dikaitkan kepada Tarquinius adalah pembangunan stadiun Circus Maximus, penggalian gorong-gorong kota Roma, dan pendirian kuil agung Jupiter Optimus Maximus di bukit Capitolinus. Ia juga menjadi orang Romawi pertama yang melakukan tradisi triumph, parade kemenangan setelah perang.

-RAJA KEENAM: SERVIUS TULLIUS (579-535 SM)
Servius Tullius terlahir dari seorang budak di rumah tangga Raja Tarquinius. Pada masa kecilnya, Servius membuat kehebohan dengan sebuah keajaiban; kepalanya terlihat terbakar saat sedang tidur, namun langsung padam begitu ia bangun dan tidak mengalami luka apapun. Kejadian ini membuat istri sang raja, Tanaquil, tertarik kepada anak pesuruh itu, dan mulai saat itu Servius dibesarkan seperti pangeran.
Kekuasaan Tarquinius berakhir ketika ia dibunuh oleh kedua anak Ancus Marcius yang merasa dikhianati. Akan tetapi, Tanaquil berhasil menyembunyikan kematian suaminya, memberi tahu senat dan rakyat Roma bahwa sang raja hanya terluka parah. Servius diangkat menjadi pengganti sementara, sampai akhirnya ia cukup dipercaya dan dihormati untuk menjadi raja sungguhan.
Servius Tullius sering disebut sebagai “penemu kedua” Roma, sebab kebijakan-kebijakannya banyak mengubah sistem pemerintahan negara dan nantinya akan menjadi fondasi utama rezim republik. Ia melaksanakan sensus kependudukan Roma pertama, membagi rakyat menjadi kelas-kelas berdasarkan kekayaan mereka, menyusun kewajiban militer tiap-tiap kelas, dan menyempurnakan sistem perkumpulan rakyat dengan menciptakan Comitia Centuriata untuk menggantikan Comita Curiata yang dinilai terlalu elitis.
Pada penghujung karirnya, Servius semakin jelas lebih memihak kepada rakyat jelata daripada senat maupun orang-orang kaya, menciptakan ketidakpuasan yang dimanfaatkan oleh menantunya yang ambisius, Lucius Tarquinius Superbus. Tarquin Muda dan istrinya, Tullia, putri sang raja, menyebarkan berbagai hasutan untuk menjelek-jelekkan reputasi Servius. Tarquin akhirnya berhasil memenangkan hati senat, dengan terang-terangan mengambil singgahsana raja dan melempar Servius ke jalanan untuk dibunuh oleh anak buahnya.

-RAJA KETUJUH: LUCIUS TARQUNIUS SUPERBUS (534-509 SM)
Tarquin Muda adalah seorang tiran. Selain dari perlakuannya yang keji terhadap ayah mertuanya sendiri, ia juga memerintah semena-mena tanpa memedulikan tradisi ataupun hukum adat Roma. Ia bertindak sebagai hakim tanpa pengawasan senat, menghukum siapapun yang tidak setuju dengannya, mengambil tanah dan kekayaan mereka.
Kekuasaan Tarqunius dan keluarganya berakhir ketika anak sang raja, Tarqunius Sextus, membuat skandal dengan memerkosa Lucretia, putri seorang senator. Suami Lucretia, Lucius Tarquinius Collatinus—keponakan raja—bersama ayah Lucretia, Spurius Lucretius Tricipitinus, serta pendamping mereka Lucius Junius Brutus dan Publius Valerius, memimpin sebuah revolusi yang mengusir Tarquinius Superbus dari kota Roma.
Lelah akan berbagai ulah Tarquin Muda sebagai raja, senat dan rakyat Roma memilih untuk menggantikan jabatan raja dengan dua orang Consul yang memerintah selama satu tahun, untuk menghindari penggumpalan kekuasaan. Ketakutan akan raja ini—Odium Regni—akan mewarnai politik Republik Romawi untuk ratusan tahun ke depannya.


sumber: OA Historypedia Line
penulis: Cicero

ARTIKEL TERKAIT

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon