Senin, 28 Mei 2018

Jejak Islam di Italia

Penaklukan umat Islam atas kepulauan Sisilia (bahasa: Siqilliyah) merupakan gelombang serbuan terakhir yang dibawa bangsa Arab ke Afrika Utara dan Spanyol. Para pemimpin ekspansi ke Sisillia, dan ke daratan Eropa Tengah adalah para panglima perang dinasti Aglabiyah dari Kairawan yang menyerang wilayah itu pada abad ke-9 M. Berkembanganya kekuatan Dinasti Aglabiyah di Kairawan, pada paruh pertama abad ke-9, telah menjadikan Aglabiyah sebagai ancaman bagi Byzantium.

Kronologi penaklukan yang sesungguhnya dimulai pada tahun 825. Euphemius, seorang laksamana Byzantium, mendapati dirinya terancam oleh hukuman kekaisaran untuk beberapa kasus pelanggaran, penyebabnya tidak begitu jelas. Akhirnya, dia memulai pemberontakan melawan kekaisaran, dan mencoba merampas kepulauan. Selanjutnya, ketika dikalahkan oleh pasukan kekaisaran, dia lari ke Tunisia dengan kapalnya, dan meminta bantuan pada Ziyadatullah I (817-838), penguasa dinasti Aghlabiyah di Tunisia. Euphemius memberinya dukungan untuk menaklukkan pulau Sisilia.

Pada tahun 827, pemberontak Siracuse mencoba melakukan perlawanan terhadap gubernur Bizantium, momentum ini memberikan peluang kepada Dinasti Aghlabiyah untuk melakukan penaklukan. Ziyadatullah I, khalifah Aghlabiyah ketiga, yang sebelumnya sempat ragu-ragu untuk menaklukkan Sisilia, langung mengirim tujuh puluh armada yang membawa sekitar 10.000 tetara, dan 7000 ekor kuda di bawah pimpinan Qadhi-Wazir, Asad ibn al-Furath, yang pada saat itu berusia 70 tahun.

Pasukan Afrika yang berlabuh di Masara kemudian bergerak ke Siracuse. Suatu wabah yang menyebar di perkemahan pasukan muslim membunuh Asad dan banyak prajuritnya. Sisa-sisa prajurit tersebut akhirnya  mendapat suntikan kekuatan baru dari Spanyol, sehingga mereka berhasil menguasai kota Palermo pada tahun 831. Penaklukkan Palermo merupakan titik tolak untuk penaklukkan berikutnya serta menempatkan gubernur baru di sana.

Pertempuran antara pasukan Byzantium, Siracuse dan dinasti Aglabiyah terus bergejolak baik di laut atau daratan pulau Sisilia. Sekitar tahun 843 kota Messina jatuh ke tangan muslim, yang diikuti kota Castrogiovanni pada tahun 859. Pada tahun 878, benteng Siracuse yang menjadi pertahanan terakhir pemberontak Siracuse menyerah setelah sembilan bulan dikepung. Benteng itu dihancurkan pada masa kekuasaan Ibrahim II (874-902).

Sementara itu pasukan muslim telah berhasil mendarat di daratan utama Italia, dan menempatkan pasukan di kota Bari, dan Taranto. Pada tahun 846-849, dengan mulai masuknya pasukan muslim di pulau Italia dan mengancam Roma, membuat Paus Yohanes VIII (872-882) dengan hati-hati mempertimbangkan untuk membayar pajak selama dua tahun. Namun penempatan pasukan di dataran utama Italia tersebut berlangsung antiklimaks, karena pada 871 kota Bari, dan tahun 880 Taranto berhasil direbut kembali oleh kaisar Byzantium hingga akhirnya mengusir pasukan muslim keluar dari dataran utama Italia.

Antara tahun 895-896 Byzantium menyetujui perdamaian dengan muslim, yang mana mereka harus meninggalkan Sisilia. Akhirnya, pada tahun 902 pulau Sisilia jatuh sepenuhnya pada kekuasaan penguasa muslim. Untuk masa selanjutnya, Sisilia menjadi titik tolak penyebaran pengaruh peradaban Islam di Eropa.

Ketika Sisilia berhasil ditaklukkan, pulau Sisilia menjadi wilayah ekspansi pertama dinasti Aglabiyah. Amir pegnuasa pada awalnya mengendalikan kekuasaan mengikuti kekuasaan dinasti Aglabiyah di Kairawan. Namun, dengan runtuhnya dinasti Aglabiyah pada tahun 909 akibat serangan dari dinasti Fatimiyah, wilayah Sisilia menjadi bagian dari dinasti baru tersebut.

Empat tahun setelah wilayah Sisilia jatuh kepada kekuasaan dinasti Fatimiyah, muncul perlawanan terhadap dinasti Fatimiyah. Beberapa muslim Sisilia di bawah pimpinan Ahmad ibn Qurhub menyatakatan kemerdekaan mereka, dan menyebutkan nama khalifah Abbasiyah al-Muqtadir, dalam khutbah-khutbah Jumat mereka. Pada tahun 917, amir Ahmad yang mulai ditinggalkan pasukan Berbernya, dieksekusi atas perintah al-Madi, kemudian Sisilia kembali pada kekuasaan dinasti Fatimiyah.

Pada masa transisi ini, situasi dalam negeri Sisilia tidak sepenuhnya harmonis. Elemen masyarakat Spanyol, dan Afrika di tengah masyarakat muslim terus berada dalam pertikaian, yang kemudian makin rumit karena munculnya pertikaian kuno antara bangsa Yaman, dan bangsa Arab Utara. Pada tahun 948 Khalifah ketiga Fatimiyah, al-Manshur menunjuk al-Hasan ibn Ali ibn Abi al-Husain al-Kalbi sebagai gubernur Sisilia. Sebagai gubernur Hasan mampu membangun Sisilia menjadi lebih mandiri dan kokoh.

Dinasti Kalbiyah yang menjadi penguasa pulau Sisilia, memerintah dengan toleransi tinggi sehingga kondisi Sisilia yang sempat memanas karena konflik etnis dapat kembali stabil. Beragam suku, dan etnis, seperti orang Sisilia, Arab, Yahudi, Barbar, Persia, Tartar, dan Negro dapat berbaur dalam toleransi dan keharmonisan. Tidak ada pembantain terhadap salah satu etnis atau agama. Penduduk yang berbeda agama dilindungi, dan dihormati kebebasannya dalam menjalankan aktivitas peribadatan.

Sejak berada dalam kekuasaan Islam, Sisilia menjelma menjadi salah satu magnet peradaban Eropa, setelah Cordova. Seorang ahli geografi, dan pengembara dari Timur, Ibnu Hawqal (943-977) menjelaskan di Palermo terdapat sekitar 300 masjid yang megah. Di masjid-masjid Jami ini terdapat sekitar 60 baris jamaah, yang masing-masing baris disi sekitar 200 orang, sehingga jumlahnya mencapai 7000 jamaah. Dia juga menghitung terdapat sekitar 300 guru sekolah umum.

Dinasti Kalbiyah mencapai puncak kejayaannya pada masa kekuasaan Abu al-Futuh Yusuf ibn Abdullah (989-998). Para amir Kalbiyah hidup dalam istana-istana yang megah, dan membangun kastil-kastil yang indah di kota-kota yang sedang berkembang. Pada puncak kejayaan ini, kegiatan intelektual mengalami perkembangan pesat bersamaan dengan kemajuan intelektual dinasti Fatimiyah.

Ibnu Jubair yang dalam perjalanannya ke Sisilia, memberikan gambaran bagaimana kemajuan peradaban Islam di Sisilia. Dalam buku perjalanannya, Ibnu Jubair menggambarkan kemajuan pesat Palermo, ibu kota Sisilia. “Palermo adalah sebuah kepulauan metropolis yang mengkombinasikan kekayaan, dan kemuliaan. Sebuah kota kuno yang elegan.”

sumber: OA Historypedia Line
penulis: Hurrem Sultan

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon