Jumat, 02 Maret 2018

Suku Hui, Muslim Di Negeri Cina


Suku Hui adalah salah satu suku dari lima suku terbesar di Republik Rakyat China. Suku ini memeluk agama Islam dan tersebar di hampir seluruh provinsi di China, teruatama di wilayah Ningxia. Dengan jumlah total sekitar 10 juta, tepatnya 9.816.802, Suku Hui merupakan salah satu yang dianggap penting oleh pemerintah China.

Di kota-kota besar dapat dilihat kebanyakan dari mereka berjualan makanan atau membuka usaha warung dan restoran. Dari ciri khas bertuliskan Arab di pintu depan warung/restoran mereka dan juga ada tulisan كوشير berdampingan dengan tulisan kanji 清真 (qing zhen, bacaaanya jing cen) yang artinya sama, yaitu halal *apalin yaaa u/adders yg muslim/yahudi biar ga salah makan kalo di China*

Nama Suku Hui berasal dari kependekan Hui-Hui, istilah yang pertama kali tercatat di era Nothern Song Dynasty (960-1127). Menurut situs pemerintahan China, suku Hui berasal dari pernikahan campuran antara Putri-putri China dengan para saudagar Arab, Persia & Turki yang menyebarkan agama Islam di China. Tidak heran bahwa fisik mereka cukup unik, yaitu bermata sipit khas China dengan hidung mancung khas Timur Tengah.

Suku Hui mayoritas memeluk agama Islam dan memiliki 3 perayaan terpenting sepanjang tahun, yaitu Idul Fitri, Idul Adha dan Maulid Nabi, meskipun banyak dari mereka yang tetap merayakan tahun baru imlek.

Masjid banyak dibangun dan menjadi pusat tempat beribadah, berinteraksi dan bermasyarakat di kalangan Suku Hui. Selain untuk tempat beribadah, mesjid-mesjid digunakan untuk tempat menyebarkan dan mendalami agama Islam yang mereka anut. Tata kehidupan Suku Hui sangat menjunjung tinggi nilai-nilai Islam termasuk dalam hal makanannya yang mengharamkan daging babi.

Para pria suku Hui lazim mengenakan tutup kepala khas Suku Hui yang berwarna putih atau hitam. Warna putih banyak disukai dibandingkan yang berwarna hitam. Namun ada juga kelompok masyarakat Hui yang lebih suka menutup kepalanya dengan bebat kain, sehingga kelompok ini sering disebut dengan Head-Wimpled Hui People. Ada juga yang mengenakan semacam pecis/kopiah dengan berbagai model dan bentuk. Sementara wanita menggunakan kerudung berwarna putih, baik yang rapat maupun yang seperti selendang.

Suki Hui juga mempunyai aksara sendiri yang disebut dengan Xiaoerjing. Aksara ini merupakan asimilasi tulisan arab dengan bahasa mandarin (mirip aksara urdu di pakistan). Kalimat aksara Xiaorjing merupakan kata-kata dalam bahasa Mandarin yang ditulis dengan huruf Arab.

Sejak zaman dulu, Suku Hui banyak berkontribusi kepada China. Agama Islam sendiri juga berpengaruh besar untuk kejayaan China di masa lalu. Laksamana Cheng Ho adalah salah satu bukti sejarah tak terbantahkan. Menurut penelitian terakhir dari Gavin Menzies, benua Amerika bukan ditemukan oleh Columbus, tapi oleh Laksamana Cheng Ho. Selain laksamana Cheng Ho, tokoh suku Hui lain yang juga berkontribusi bagi Indonesia adalah Raden Patah (Tan Eng Hwa) yang merupakan pendiri kerajaan Demak, Sunan Ampel, pendakwah Islam di Surabaya, dan Sunan Gunung Jati, penyebar agama Islam di Jawa Barat.

Di bawah cengkeraman komunis, rezim Cina pernah bersikap sewenang-wenang terhadap etnis Muslim Hui. Tak hanya tempat ibadah mereka yang dihancurkan, tapi nyawa mereka pun menjadi sasaran. Seiring berjalannya waktu, kebrutalan terhadap minoritas Islam pun mereda. Hal ini terjadi setelah Mao Zedong meninggal. Sepeninggal Mao, kaum Muslimin bisa menikmati kembali hidup yang wajar dan damai.

Bahkan, karena menyadari potensi ekonomi etnis Hui, Pemerintah Cina mulai melakukan pendekatan dengan menawarkan otonomi khusus. Langkah ini dilakukan sebagai cara untuk menebus kesalahan pe nguasa Cina pada masa lalu terhadap etnis Hui.

Saat ini pemerintah China tidak lagi menindas etnis Hui yang beragama Islam. Mereka diperbolehkan melaksanakan ibadah agamanya, berbeda dengan orang Uyghur yang selalu ditindas pemerintan RRC.

sumber: OA Historypedia Line

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon