Selasa, 06 Maret 2018

Afghanistan, Negara Perpaduan Budaya

Loading...

❂ Sejarah singkat bangsa Afghanistan
Wilayah yang saat ini kita sebut sebagai negara Afghanistan merupakan sebuah wilayah yang begitu kaya peradaban. Apa sebabnya? Wilayah itu rupanya termasuk wilayah yang menghubungkan peradaban Asia Timur dengan Asia Barat dan Eropa. Jalur Sutra melintasi wilayah tersebut. Manusia masa kuno juga kerap kali bermigrasi ke daerah baru melewati wilayah Afghanistan. Para arkeolog menemukan bukti bahwa Afghanistan sudah dihuni oleh manusia purba sejak tahun 50.000 SM. Kota paling tua di Afghanistan adalah kota Mundigak, dibangun pada masa sekitar tahun 3.000 SM.
Letaknya yang strategis, menghubungkan Asia, Eropa, dan India sekaligus, menarik minat banyak penakluk untuk menguasai. Para penakluk masyhur seperti Alexander yang Agung, Dinasti Maurya India, penguasa Muslim dari Persia maupun Mughal India, hingga kekaisaran Mongol pimpinan Genghis Khan tercatat pernah menguasai wilayah ini. Pada akhirnya, budaya Muslim-lah yang bertahan hingga saat ini dan menjadi peradaban utama mayoritas penduduk Afghanistan.

Bentuk negara Afghanistan modern mulai terbentuk ketika penguasa dari suku bangsa Pashtun asal Persia berkuasa penuh di wilayah tersebut sejak abad 18. Saat kekaisaran Durrani berkuasa ibu kota Afghanistan dipindahkan dari Kandahar ke Kabul, dan bertahan sampai saat ini. Memasuki abad 19, Afghanistan dijadikan wilayah peperangan “semu” antara Inggris dan Rusia. Saat Uni Soviet berdiri, Afghanistan yang saat itu wilayah merdeka dengan mandat dari Inggris, diserang dan hendak dijajah. Amerika Serikat banyak membantu tentara lokal untuk melawan Uni Soviet.

Para tentara terlatih itu berhasil menumbangkan Soviet, dan menjadi salah satu sebab keruntuhan Uni Soviet tahun 1990. Sayangnya, kalangan tentara itu memanfaatkan keadaan kacau di Afghanistan, dan membentuk sebuah kelompok garis keras muslim bernama Taliban. Akhir dasawarsa 90-an, Taliban berkuasa di Afghanistan, mengubah negara itu menjadi negara agama yang sangat keras pada warganya. Kaum laki-laki wajib taat pada hukum Islam yang dijalankan dengan tidak manusiawi, sementara perempuan tidak diakui hak asasinya, bahkan dilarang keluar rumah.

Atas alasan melawan terorisme, Amerika Serikat melancarkan serangan ke Afghanistan, sekaligus meruntuhkan Taliban tahun 2001. Kekacauan demi kekacauan terjadi sejak itu. Afghanistan dilanda perang saudara berkepanjangan. Walaupun saat ini kondisi relatif tenang, perang-perang kecil masih sering terjadi antara tentara Amerika Serikat dengan sisa-sisa prajurit Taliban. Keadaan yang tidak aman itu, membuat Afghanistan yang sejatinya memiliki kekayaan budaya luar biasa jatuh miskin, dan menjadi salah satu negara termiskin di dunia.

❂ Patung Budha Bamiyan
Persinggungan dengan banyak kebudayaan membuat Afghanistan memiliki situs-situs kebudayaan yang luar biasa. Walaupun kita saat ini lebih mengenal Afghanistan sebagai wilayah yang didominasi peradaban Islam, sebetulnya Afghanistan pernah menjadi tempat penyebaran agama Budha. Bahkan menjadi salah satu pusat agama Budha terbesar pada masa Dinasti Maurya berkuasa.

Di sebuah lokasi yang terletak 230 km arah barat laut ibu kota Kabul, kita dapat menemukan jejak- jejak peradaban Budha di lembah Bamiyan. Di lembah tersebut, terdapat patung Budha raksasa yang diukir di sebuah tebing setinggi 55 meter. Terdapat satu patung lagi, dipahat dengan cara serupa, namun tingginya hanya 37 meter. Para ahli menyimpulkan bahwa patung-patung itu dibangun pada abad 5 atau 6 Masehi. Keunikan dari patung Budha Bamiyan adalah cara pahatannya yang kemungkinan besar pencampuran cara pembuatan patung Yunani dengan tradisi Budha sendiri.
Dari catatan seorang pengelana asal Cina bernama Hsuan Tsang, ia menyaksikan wilayah Afghanistan saat itu sebagai pusat pengajaran agama Budha sejak abad
2 Masehi, dan memiliki ratusan kuil, patung Budha dalam berbagai posisi, juga ribuan biksu tinggal dan belajar agama di Bamiyan. Ketika Raja Mahmud dari Dinasti Ghazi menaklukkan Afghanistan abad 12, patung- patung Budha raksasa di Bamiyan tetap dipertahankan. Walaupun begitu, ratusan patung Budha yang berukuran kecil banyak dirusak oleh tentara Muslim yang memang menolak penyembahan terhadap patung atau berhala.
Patung Budha Hamian
Kepercayaan muslim itu pula yang mendorong perusakan dua patung Budha besar Bamiyan pada tahun 2001. Pemimpin Afghanistan dari golongan Taliban menganggap keberadaan Patung Budha Bamiyan tidak sesuai dengan prinsip agama Islam yang diakui negara. Dua patung itu dihancurkan dengan dinamit maupun tembakan Bazoka. Padahal saat itu, UNESCO sudah memasukkan situs Bamiyan sebagai warisan dunia yang perlu dilestarikan. Negara-negara yang mayoritas penduduknya menganut agama Budha marah besar atas perusakan itu. Kini setelah penguasa Taliban jatuh, Pemerintah Jepang, sebagai negara dengan penganut agama Budha yang cukup besar, bertekad membangun kembali dua Patung Budha raksasa di Bamiyan.
❂ Minaret Jam (Menara Jam)
Menara Jam merupakan sebuah menara kuno di provinsi Ghor, Afghanistan. Walaupun terletak di sebuah lembah yang terpencil dan terletak tepat di sebelah sungai Hari, menara batu itu merupakan warisan budaya tak ternilai yang menandai kejayaan peradaban Islam di negara tersebut.
Pada masa pembangunannya, kemungkinan besar menara Jam dibangun di dekat ibu kota Dinasti Ghurid di abad 12. Di pahatan luar menara, tertulis huruf Arab yang menyebutkan kapan waktu tepatnya menara itu dibangun, namun karena faktor usia tulisan itu tidak dapat dibaca dengan jelas. Para arkeolog menyimpulkan bahwa menara itu kemungkinan dibangun pada tahun 1193 Masehi.

Menara Jam, dinamai begitu karena letaknya di dusun Jam, awalnya tidak banyak diketahui oleh orang- orang. Letaknya yang terpencil membuat menara itu sempat terlupakan oleh sejarah peradaban. Arkeolog Inggris bernama Sir Thomas Holdich berjasa menemukan kembali menara klasik dengan gaya bangunan khas Islam itu pada tahun 1886. Menara Jam merupakan sekumpulan kompleks menara yang berjumlah 60 buah. Sebagian besar memiliki susunan batu bata yang rumit dan dihiasi kaligrafi indah bergaya Naskhi, sebuah gaya kaligrafi khas Persia.

Saat ini, yang dapat kita saksikan dari komplek menara Jam hanyalah menara-menara saja. Sebetulnya wilayah itu merupakan bekas kompleks kota yang lebih besar, kemungkinan besar bernama Torquoise. Akibat dari erosi sungai Hari, menara-menara yang tersisa terancam rubuh, ditambah lagi gempa bumi yang rutin terjadi di daerah tersebut turut membahayakan keberadaan situs bernilai sejarah tinggi itu. Pemerintah Afghanistan dibantu dengan PBB kini aktif merawat keberadaan menara-menara Jam.

Menara Jam Afganistan

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon