Sabtu, 24 Februari 2018

Reformasi Gereja dan Kemunculan Protestanisme

Loading...

❂ Timbulnya perpecahan besar di Eropa
Agama Kristen begitu kuat pengaruhnya di Eropa berkat jasa kekaisaran Romawi yang menjadikannya agama resmi kerajaan. Sejak itu gereja sebagai pusat keagamaan Kristen memiliki pengaruh yang sangat kuat. Banyak kerajaan, bahkan seusai Romawi barat jatuh, masih setia pada tahta suci Paus di Roma. Gereja mampu mengganti pemimpin kerajaan yang tidak mereka sukai. Ketika perang salib mulai surut, banyak pihak seperti kerajaan juga tuan tanah mulai bersuara.
Pada 1320, seorang pemikir bernama John Wycliffe, membuka aib gereja yang rupanya sering melakukan praktik korupsi. Di samping itu para ilmuwan Inggris juga mulai mempelajari ajaran Kristen menggunakan akal. Akibatnya masyarakat elit Eropa mulai menentanggereja. Pengaruh gereja semakin berkurang juga dikarenakan perselisihan di kalangan gereja sendiri. Dimulai saat Paus Clement V secara sepihak memindahkan tahta suci ke Prancis tahun 1309. Selang beberapa lama, Paus Gregory XI lantas memindahkan kembali tahta suci ke Roma. Sepeninggal Paus Gregory XI, terjadi perebutan di antara para uskup.
❂ Indulgensia dan protes keras Martin Luther
Kondisi di Eropa rupanya membuat jengah masyarakat. Gereja saat itu juga sering menjual surat pengampunan dosa atau indulgensia. Seorang ahli kitab suci Injil dari Universitas Wittenberg yang bernama Martin Luther dengan berani mengkritik gereja. Pada tahun 1517 M, ia menempelkan sebuah surat protes terhadap praktik tidak terpuji gereja. Salah satunya meminta gereja tidak lagi menjual surat pengampunan dosa yang menyimpang dari ajaran Kristen asli. Agenda Luther itu disebut kalangan sejarawan sebagai gerakan reformasi Kristen.
Gereja marah besar dan Martin Luther dikeluarkan dari keanggotaan gereja pada tahun 1521 M. Rupanya, tidak sedikit orang sehati dengan Luther, di antaranya ada John Calvin dan Ulrich Swingley. Mereka terus berjuang hingga pemikirannya diterima di wilayah barat daya Eropa. Kebanyakan kerajaan yang mengadopsi pemikiran keagamaan Luther ataupun Calvin merupakan kerajaan kecil, di mana kerajaan tersebut juga ingin lepas dari kewajiban patuh pada gereja dan tahta suci.

Martin Luther
❂ Lahirnya Protestanisme
Luther kemudian mendirikan gerejanya sendiri. Para pengikutnya disebut sebagai kaum “Protestan”. Gereja tidak tinggal diam saja. Pada tahun 1500-an, gereja membentuk sebuah badan yang bernama inkuisisi. Anggotanya ditugaskan untuk menghukum mereka yang menentang pemikiran gereja. Banyak orang protestan diburu anggota inkuisisi dan dipenggal atau dibakar. Perselisihan antara orang protestan dan inkuisisi banyak terjadi di Spanyol dan Inggris yang berakibat pecahnya agama Kristen menjadi dua kekuatan besar. Golongan pertama adalah mereka yang tetap setia pada tahta suci di Roma, disebut sebagai umat Katolik roma. Golongan kedua disebut Protestan. Dua golongan Kristen tetap bertahan sampai sekarang. Adanya reformasi gereja juga mengubah kondisi politik di Eropa. Pemikiran bebas mulai berkembang.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon