Selasa, 06 Februari 2018

Ratu-ratu Kuat Pemimpin Aceh Kuno

Loading...


Disaat banyak kaum konservatif yang sibuk mengharamkan pemerintahan perempuan, rupanya kerajaan Islam Aceh Kuno pernah mencapai kejayaannya di bawah pemerintahan para Sultanah, sama seperti Ottoman yang punya Hürrem Sultan dan Inggris dengan Ratu Elizabeth I

Di balik hukim syariatnya yang sangat kuat, rakyat Aceh ternyata pernah dipimpin oleh ratu atau sultanah. Masa pemerintahan Sultanah ini tidak hanya sebentar, namun berlangsung hingga 58 tahun, yakni pada masa Kesultanan Aceh Darussalam, kerajaan Islam yang sebenar-benarnya itu.

Sebelum Kesultanan Aceh Darussalam berdiri, Aceh juga telah mempunyai wanita pemimpin. Ia adalah penguasa ke-6 Kerajaan Samudera Pasai, yakni Sultanah Nihrasiyah Rawangsa Khadiyu.

Sultanah Nirhasiyah merupakan ratu pertama di Aceh dan satu-satunya sultanah dalam riwayat pemerintahan Samudera Pasai yang berdiri sejak 1267 serta diyakini sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara bahkan di Asia Tenggara itu. Ratu Nihrasiyah berkuasa selama 28 tahun, dari 1400 sampai 1428 (Solichin Salam, Malahayati, Srikandi dari Aceh, 1995:20)

Sultanah Nihrasiyah termasuk penguasa paling gemilang yang membangkitkan kerajaannya dari trauma akibat serangan Majapahit. Dipimpin langsung oleh Gajah Mada, Majapahit menyerbu Samudera Pasai sejak masa Sultan Malik Az-Zahir (1346-1383) yang tidak lain adalah kakek Nihrasiyah, dan berlanjut ke era ayahnya, Sultan Zain Al-Abidin (1383-1400).

Dalam buku Wali Songo dengan Perkembangan Islam di Nusantara karya Abdul Halim Bashah (1993:62) disebutkan, Ratu Nihrasiyah berperan besar dalam memajukan Samudera Pasai, termasuk menjadikannya sebagai pusat perkembangan agama Islam yang besar dan kuat.

Sepeninggal Sultanah Nihrasiyah sejak 1428, Samudera Pasai berangsur-angsur mundur (Abdullah Ishak, Islam di Nusantara Khususnya di Tanah Melayu, 1990:91). Riwayat Samudera Pasai benar-benar tamat setelah pada 1524 seluruh wilayahnya dikuasai oleh Kesultanan Aceh Darussalam di bawah pimpinan Sultan Ali Mughayat Syah (1496-1528).

Sejak tahun 1641, Kesultanan Aceh Darussalam diperintah oleh raja perempuan, yakni Sultanah Safiatuddin. Ia adalah anak tertua Sultan Iskandar Muda (1607-1636) yang lahir dengan nama Putri Sri Alam pada 1612. Seperti yang tercatat di berbagai referensi, Sultan Iskandar merupakan penguasa Aceh Darussalam yang paling jaya dan mashyur.

Sultan Iskandar Muda yang wafat pada 1636 tidak punya putra mahkota dan digantikan oleh Sultan Iskandar Tsani, menantu almarhum atau suami Putri Sri Alam. Iskandar Tsani adalah putra Sultan Ahmad Syah, Sultan Pahang (kini wilayah Malaysia) yang menikah dengan Putri Sri Alam setelah Sultan Iskandar Muda menaklukkan Pahang pada 1617.

Era Sultan Iskandar Tsani tidak lama, dari 1636 hingga 1641 yang merupakan tahun kematiannya. Situasi politik yang mendesak saat itu kemudian menempatkan Putri Sri Alam sebagai pemimpin Kesultanan Aceh Darussalam berikutnya dengan gelar Paduka Sri Sultanah Ratu Safiatuddin Tajul-’Alam Syah Johan Berdaulat Zillu’llahi fi’l-’Alam binti al-Marhum Sri Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Syah.

Perdebatan perkara pemimpin perempuan dalam pemerintahan Islam ternyata telah terjadi pada saat itu. Ada sejumlah kalangan yang tidak setuju atas naik tahtanya Sri Putri Alam atau Ratu Safiatuddin. Terjadilah beberapa kali aksi pemberontakan juga upaya pengkhianatan untuk mendongkel kepemimpinannya.

Situasi bertambah runyam karena Sultanah Safiatuddin juga harus menghadapi ancaman dari luar seiring mulai menguatnya pengaruh VOC dari Belanda setelah berhasil merebut Malaka dari Portugis pada awal 1641

Ratu Safiatuddin berhasil mempertahankan hubungan diplomasi dengan kerajaan-kerajaan lain sehingga nama besar Kesultanan Aceh Darussalam tetap terjaga. Tak hanya itu, di masa kekuasaannya, Aceh Darussalam mengalami kemajuan pesat dalam berbagai bidang, termasuk ekonomi, agama, hukum, seni dan budaya, hingga ilmu pengetahuan (Usman Husein & Hasbi Amiruddin, Aceh Serambi Mekkah, 2008:52).

Dalam masa pemerintahan Ratu Safiatuddin inilah perpustakaan negara didirikan dan diperluas. Selain itu, sang ratu juga memberikan dukungan penuh kepada para sastrawan dan kaum intelektual untuk mengembangkan bakat. Inilah masa yang melahirkan para cendekiawan macam Hamzah Fanshuri, Nuruddin Ar-Ranirry, Syeh Abdur Rauf, dan lain lain.

Sultanah Safiatuddin berkuasa selama 34 tahun hingga wafat pada 1675. Sepeninggal sang ratu pertama, Kesultanan Aceh Darussalam masih dipimpin oleh para perempuan tangguh sampai 24 tahun setelahnya, yaitu berturut-turut Sultanah Naqi al-Din Nur al-Alam (1675-1678), Sultanah Zaqi al-Din Inayat Syah (1678-1688), sampai masa pemerintahan Sultanah Kamalat Syah Zinat al-Din (1688-1699).

Ternyata, Bumi Serambi Mekkah yang menerapkan syariat hukum Islam pernah memiliki rekam sejarah abad kejayaan di bawah kepemimpinan perempuan adalah fakta sejarah yang tidak terbantahkan.

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon