Selasa, 20 Februari 2018

Mesir yang Megah

Loading...

❂ Tanah subur hadiah sungai Nil
Ketika di Mesopotamia banyak kerajaan kota tumbuh dan berkembang, sekelompok petani membangun wilayahnya sendiri di pinggir sungai Nil. Wilayah itu terbentang amat luas, sekitar 700 mil (1.100 kilometer) di selatan laut Mediterania. Letaknya saat ini di bagian utara benua Afrika. Para petani itu sebelumnya mendiami wilayah yang panas, berdebu, dan kering. Mereka menyebut daerah itu sebagai deshret atau “tanah merah”. Mereka lantas mengetahui suatu fakta, ketika sungai nil meluap di musim hujan, ada lumpur lengket yang menutupi tanah di sepanjang tepian sungai Nil. Tanah yang tertutup lumpur itu ternyata sangat subur, dan kelompok petani itu kemudian pindah ke sana. Mereka menamainya, kemet alias “tanah hitam”. Wilayah itulah cikal bakal Mesir yang akan menjadi peradaban besar dan berkuasa selama lebih dari 3.000 tahun.

Selama periode 5000-3300 SM, kelompok petani itu menggali kanal untuk menanggulangi banjir dari sungai Nil dan mengairi sawah mereka. Sungai Nil begitu berperan dalam mengembangkan pertanian dan kebudayaan masyarakat setempat. Banyak kalangan hingga saat ini berpendapat bahwa peradaban Mesir merupakan “hadiah” dari sungai Nil. Kehidupan masyarakat di wilayah tersebut mustahil berjalan tanpa dukungan air yang melimpah yang disediakan oleh sungai tersebut. Mulai dari kebutuhan irigasi untuk ladang gandum, anggur, serta bawang mereka, hingga pemanfaatan lumpur sungai untuk membuat kerajinan tembikar dan bahan baku rumah tinggal, semuanya berasal dari sungai Nil.
❂ Bersatunya dua kerajaan kuno Mesir dan kelahiran dinasti Firaun
Piramida Giza 
Komunitas petani di Mesir berkembang menjadi sebuah kerajaan kecil, lengkap dengan rajanya sendiri. Sejak 3300 SM, kerajaan itu memiliki tradisi untuk menguburkan raja mereka yang kaya ke dalam sebuah kuburan berbentuk kotak besar dari batu bata yang dinamakan Mastabas. Perkembangan pesat peradaban masyarakat di sana membuat kerajaan kecil itu pecah menjadi dua. Ada Mesir Atas dan ada Mesir Bawah. Tahun 3100 SM, raja Menes dari Mesir Atas menyerbu Mesir Bawah, dan menyatukannya menjadi satu kerajaan besar lagi. Ibu kota kerajaan Mesir bersatu itu berada di Memphis. Raja Menes memulai sebuah periode dinasti penguasa Mesir yang pertama selama hampir 400 tahun lamanya. Barusetelah dinasti Meneshabis, muncul dinasti baru dan bentuk kerajaan yang lebih besar di periode waktu 2649-2134 SM. Pada masa Raja Zoser (2630-2611 SM), muncul bangunan pertama khas Mesir yang akan kondang sampai zaman ini, yaitu Piramida, di Sakkara. Bangunan bertingkat berbentuk Limas yang disusun dari batu itu berfungsi untuk menguburkan raja beserta harta bendanya.

Ketika muncul dinasti Firaun, sebuah sebutan resmi untuk raja Mesir yang dianggap titisan Dewa, maka dimulailah proyek-proyek Piramida berikutnya yang tak kalah megah dan canggih. Kekuasaan Firaun sangat mutlak, akibat kepercayaan masyarakat Mesir bahwa mereka merupakan putra dari dewa Ra, atau dewa Matahari. Konon, rakyat biasa tidak boleh menatap Firaun langsung, dan kalau pun seseorang ingin mendekati Firaun, siapa pun dia harus merangkak dan tidak diperbolehkan berjalan biasa ke arahnya. Tercatat 31 dinasti menyandang status Firaun untuk setiap rajanya yang naik tahta, sebelum akhirnya kerajaan itu melemah dan takluk di tahun 323 SM oleh serangan Alexander yang Agung dari kerajaan Macedonia.
❂ Tutankhamun, sang Firaun terbesar


Tutankhamun
Dari banyak Firaun yang pernah berkuasa di kerajaan Mesir, satu nama dikenal sebagai salah satu raja terbesar, selain Ramses II (1290-1224 SM), adalah Tutankhamun. Masa berkuasanya terjadi dari tahun 1347 sampai 1339 SM. Tutankhamun adalah anak dari raja Akhenaten. Ibu Tutankhamun adalah ratu Nefertiti yang terkenal karena bersama suaminya, menghapuskan cara pemujaan dewa-dewa Mesir kuno yang jumlahnya banyak, menjadi hanya menyembah satu dewa saja, yaitu Ra, atau dewa matahari. Ayah dan ibu Tutankhamun jugalah yang memindahkan ibu kota Mesir ke Armarna.

Tutankhamun sendiri terkenal karena ia Firaun satu- satunya yang naik tahta ketika masih anak-anak. Pada masa kekuasaannya, Mesir mencapai puncak kekuasaan. Tapi intrik politik membuat ia terbunuh, kemungkinan besar oleh saudaranya Ay yang berkonspirasi dengan jenderal Horemheb. Ia meninggalkan seorang istri, saudara tirinya sendiri, Ankhsenamun. Saat meninggal, Tutankhamun baru berusia 18 tahun.

Tutankhamun dimakamkan di Lembah Luxor, sebuah ceruk di tebing dekat sungai Nil, yang dibangun khusus untuk pemakaman keluarga Firaun dan pejabat penting kerajaan. Banyak aroma mistis terkait makam Tutankhamun. Seperti lazimnya makam raja-raja Mesir, di dalam makam ditimbun perhiasan dan harta benda lain yang sangat banyak. Oleh karena itu, ada banyak pencoleng yang masuk dan menjarah perhiasan- perhiasan tersebut. Konon hanya makam Tutankhamun lah yang tidak pernah tersentuh oleh siapa pun selama berabad-abad. Hingga akhirnya, makam Tutankhamun di Luxor ditemukan oleh arkeolog Inggris, Howard Carter tahun 1922, dan ia menemukan 5000 benda, termasuk ukiran hingga perhiasan emas.

Lukisan pernikahan orang Mesir kuno
❂ Kehidupan masyarakat Mesir
Masyarakat Mesir seperti keluarga para rajanya, sangat memerhatikan penampilan. Semua orang mempergunakan perhiasan. Jika masyarakat yang kaya menggunakan perhiasan dari permata atau emas, maka yang miskin akan memanfaatkan tembaga atau faince (kuarsa, bahan pembuat kaca) untuk dijadikan perhiasan. Mereka semua juga selalu memakai pakaian, dan uniknya, gaya berpakaian bangsa Mesir tidak pernah berubah selama ribuan tahun. Gaya pakaian untuk pria biasanya adalah melilitkan semacam kain linen warna putih di pinggang, yang akan menyerupai rok zaman sekarang. Sementara wanita Mesir memakai gaun panjang tipis dan memanfaatkan krim pelembap, serta mengecat kuku dan memberi pewarna bibir, seperti lipstick di masa sekarang.

Masyarakat Mesir baik dari golongan raja atau tidak, mementingkan kehidupan berkeluarga. Bagi mereka memiliki banyak anak merupakan keharusan. Rata-rata orang Mesir menyukai musik, tarian, pesta, juga pawai-pawai yang meriah. Orang biasa di Mesir rata- rata memiliki satu rumah dengan kamar yang jumlahnya biasanya hanya tiga buah. Sepertinya, satu-satunya unsur masyarakat yang tidak merasakan pola hidup seperti itu hanyalah budak, karena mereka dijadikan pelayan oleh keluarga kerajaan maupun masyarakat biasa.

Masyarakat Mesir juga sangat memercayai sihir dan dewa-dewa. Banyak kuil didirikan untuk memuja dewa- dewa tersebut. Kebanyakan dewa digambarkan sebagai manusia berkepala burung elang, atau berkepala jackal (anjing hutan). Salah satu contoh monumen untuk memuja dewa mereka yang terkenal adalah patung Sphinx di daerah Giza, dekat dengan Piramida Giza yang terbesar. Sphinx dipercaya merupakan dewa yang menjaga masyarakat Mesir, dan digambarkan sebagai manusia berkepala singa. Sampai sekarang, patung itu masih tegak berdiri, hanya saja, oleh sebab yang sangat misterius dan masih menjadi perdebatan sejarawan dan arkeolog, kini hidung Sphinx hilang separuh.
❂ Hieroglif yang misterius


Hieroglif
Peradaban Mesir merupakan peradaban yang sudah mengenal tulisan. Arkeolog memperkirakan tulisan di Mesir berkembang pada periode 3300 hingga 3100 SM, yang disebabkan hubungan mereka dengan bangsa Sumeria yang lebih maju. Nama Hieroglif sendiri berasal dari bahasa Yunani yang artinya adalah “tulisan yang suci”. Sementara itu, masyarakat Mesir menamai tulisan mereka sebagai “kata-kata dari dewa”, karena mereka percaya bangsa Mesir diberi pengetahuan soal tulis- menulis dari dewa Toth.

Hieroglif sekilas terlihat seperti kolom-kolom yang berisi gambar-gambar kecil dalam beragam bentuk. Jangan merasa bingung jika kamu tidak bisa membacanya. Kenapa? Karena pada zaman Mesir kuno dahulu, kebanyakan orang juga tidak bisa membaca dan menuliskannya. Hanya mereka yang terlatih sebagai juru tulis istana yang bisa membaca sekaligus menulisnya. Orang-orang yang bisa menulis ini digaji sangat tinggi oleh kalangan bangsawan dan pejabat. Kabarnya, mereka satu-satunya pekerja yang dibebaskan dari pajak oleh Firaun. Seiring hancurnya peradaban Mesir, hilang pula orang-orang yang memiliki kemampuan membaca tulisan unik tersebut.

Mungkin manusia modern tidak akan bisa membaca hieroglif, jika pada tahun 1799 pasukan Kaisar Prancis, Napoleon, tidak menemukan sebuah lempengan batu yang berisi huruf-huruf seperti hieroglif di daerah Rosetta, Mesir. Oleh seorang ahli bernama Jean Francois Champollion, batuitu dipelajari dania menemukansebuah fakta bahwa hieroglif adalah sebuah perlambang huruf yang bisa dibaca, tidak sekadar dipahami gambarnya. Jadilah batu yang kini disebut batu Rosetta itu panduan bagi setiap orang yang ingin membaca hieroglif.
❂ Piramida dan budaya Mesir Memperlakukan orang mati
Orang Mesir kuno percaya bahwa kematian bukanlah sebuah akhir. Kehidupan saat ini akan tetap berhubungan dengan alam sesudah mati. Ditambah lagi, orang Mesir percaya bahwa setiap orang memiliki tiga unsur pembentuk jiwa, yaitu ka, ba, dan akh. Agar unsur- unsur itu tetap terjaga, tubuh si manusia harus tetap dalam keadaan baik pula. Hal-hal itu yang membuat orang Mesir kuno memiliki tradisi membalsem jenazah alias mengawetkannya. Proses pembalseman itu dimulai dengan cara mengeluarkan seluruh organ dalam si jenazah lewat lubang-lubang tubuh. Kemudian, jenazah ditaburi garam dan dikeringkan dengan serbuk damar yang dicampuri natron. Usai dikeringkan, maka tubuh akan dililiti linen di seluruh tubuh dan menjadi jenazah terbungkus yang kita sebut mummy. Akan tetapi, jangan dikira semua orang di Mesir diawetkan. Karena biayanya yang mahal, hanya keluarga kerajaan atau orang kaya saja yang mampu melakukan itu semua.

Para Firaun lebih “gila” lagi, mereka tidak hanya ingin diawetkan. Mereka juga memiliki tradisi untuk membangun sebuah kuburan yang dilengkapi fasilitas megah dan dibekali dengan banyak harta. Mereka percaya bahwa mereka butuh panduan dan bekal selama berada di alam baka. Komplek kuburan megah berbentuk limas itulah yang disebut Piramida. Setiap proyek pembangunan Piramida bisa dipastikan adalah proyek kolosal, karena memerlukan ribuan budak yang dipaksa bekerja siang dan malam, selama bertahun-tahun untuk membangun kuburan batu yang tinggi dan besar itu. Kemungkinan besar, banyak insinyur Mesir kuno yang dikerahkan karena desain dalam Piramida sangat rumit, penuh ruangan rahasia, labirin, serta jebakan sebelum akhirnya mencapai komplek makam rajanya sendiri.
❂ Cleopatra, ratu terakhir


Cleopatra
Hingga tahun 69 SM, kerajaan Mesir masih ada. Namun, kerajaan itu tidak lagi berdaulat karena sudah ditaklukkan oleh Jenderal Macedonia yang terkenal, Alexander yang Agung. Di masa-masa usai penaklukan, yang berkuasa di Mesir adalah anak buah Alexander yang bernama Jenderal Ptolemy. Darigaris keturunan Ptolemy, Cleopatra lahir. Ia dikenal sebagai gadis bangsawan yang sangat cerdas, konon juga cantik jelita. Namun, soal kecantikan itu masih simpang siur. Demikian pula soal ras. Kemungkinan besar, karena berasal dari keluarga pencampuran antara ras kulit putih Macedonia dengan suku asli Mesir yang berkulit gelap, maka Cleopatra juga memiliki warna kulit pencampuran seperti itu.

Ia menjadi ratu tahun 51 SM ketika ayahnya wafat bersamaan dengan adik tirinya, yang kebetulan juga bernama Ptolemy, naik tahta sebagai raja. Intrik politik sempat membuatnya terusir dari kerajaan. Pelakunya adalah wali Ptolemy, keluarga tiri Cleopatra. Pada saat Cleopatra hidup, Macedonia yang berkuasa di sepanjang Eropa dan Asia, sudah digantikan posisinya oleh kerajaan RomawiKuno. Merasa terdesak keadaan dan ingin mengembalikan tahtanya, Cleopatra akhirnya berhubungan dengan Julius Caesar, jenderal dan penguasa kerajaan Romawi yang tersohor. Caesar rupanya jatuh cinta pada Cleopatra, sehingga ia tanpa ragu, menyerang Mesir, menggulingkan keluarga Ptolemy, dan menjadikan Cleopatra ratu tunggal kerajaan Mesir.

Berkat bantuan itu, Cleopatra dan Caesar makin intim berhubungan hingga akhirnya menikah. Mereka memiliki anak bernama Caesarion. Kehidupan Cleopatra pada masa pernikahan dengan Caesar selalu berpindah- pindah dari Mesir ke Romawi, atau sebaliknya, karena Caesar sering kali mengundangnya datang ke Roma. Aktivitas itu terpaksa berakhir ketika Caesar terbunuh tahun 44 SM. Masa berkabung Cleopatra tidak lama. Usai Caesar tewas, Roma bergolak dan banyak jenderal saling berebut tahta, salah satunya adalah Mark Antony. Ketika ia datang ke Mesir untuk meminta bantuan, tak disangka, ia jatuh cinta pada Cleopatra. Jadilah mereka menikah, dan memiliki tiga orang anak.

Gabungan antara Cleopatra dan Mark Antony adalah persekutuan politik yang sangat kuat dan ambisius. Keduanya berupaya mengambil alih kekaisaran Romawi. Sayangnya usaha mereka digagalkan oleh jenderal yang bernama Octavian. Dalam pengejaran yang dilakukan oleh Octavian hingga Alexandria (kota pelabuhan yang diberi nama sama seperti Alexander yang Agung, dan kini menjadi tempat bagi universitas paling bergengsi di Mesir, Al-Azhar), Cleopatra melakukan tipu muslihat dan mengatakan bahwa ia meninggal. Kabar itu ditanggapi serius oleh Mark Antony, sehingga ia bunuh diri karena sedih mengetahui kabar istrinya meninggal.

Mengetahui suaminya meninggal, Cleopatra tidak memiliki pilihan lain kecuali berdamai dan meminta maaf pada Octavian. Akan tetapi, rupanya tawaran itu ditolak oleh Octavian mentah-mentah. Merasa tersudut, Cleopatra memutuskan bunuh diri untuk menjaga martabatnya. Kematiannya terjadi tahun 30 SM. Dengan meninggalnya Cleopatra, peradaban Mesir yang terbentang selama 3.000 tahun ikut runtuh sepenuhnya. Sebuah peradaban benua Afrika yang sangat kaya, mewah, dan juga kolosal di pinggir sungai Nil, yang jejaknya masih bisa kita temui hingga sekarang. Banyak teolog juga yang memperkirakan bahwa kebudayaan Mesirpantas dikenang, karena ia memberi fondasi konsep penyembahan satu tuhan, yang di masa-masa berikutnya berpengaruh terhadap kelahiran agama Samawi, seperti Yahudi, Kristen, dan Islam.

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon