Senin, 19 Februari 2018

Babylonia yang Masyhur

Pertama kita bahas ialah peradaban Babylonia. Ada banyak peradaban lain hasil turunan peradaban Mesopotamia, khususnya Sumeria, yaitu Assyria, Persia, dan lain-lain. Mengapa Babylonia lebih diutamakan? Karena dari semua peradaban masa kuno Mesopotamia, Babylonia-lah yang memiliki wilayah kekuasaan terluas. Belum pernah ada sebelumnya kerajaan sebesar itu di belahan bumi mana pun. Bisa dibilang, ambisi kerajaan- kerajaan lain sesudah keruntuhan Babylonia untuk memperluas wilayah atau mencapai kemakmuran, terinspirasi dari kisah sukses Babylonia.

Meneruskan peradaban yang dibangun bangsa Sumeria, Babylonia sebagai kota, berdiri di wilayah tepian sungai Eufrat. Lokasi tepatnya sekarang berada di wilayah Irak bernama Al Hillah. Sejarawan mencatat, ada dua masa kemunculan dan kejayaan kerajaan Babylonia, yang pertama adalah di masa 1792 – 1234 SM. Sementara paruh kedua kehadiran Babylonia berada di kisaran waktu 629 – 539 SM. Ada baiknya, sekarang kita menilik paruh pertama dahulu.
❂ Hammurabi dan Babylonia yang adil dan makmur
Sebetulnya, Babylonia sudah berusia cukup tua di antara kota-kota lain yang bermunculan di Mesopotamia. Sejarah mencatat Babylonia sudah ada di masa 2200 SM. Tapi perkembangan yang sungguh-sungguh pesat hingga akhirnya Babylonia pantas disebut sebagai peradaban tersendiri, hadir ketika raja yang bernama Hammurabi bertahta tahun 1792 SM. Ia berkuasa selama 42 tahun, dan selama itu pula, Babylonia menjadi kerajaan terbesar dan terkaya di seantero Mesopotamia.

Batu hukum hammurabi
Sebab kemasyhuran Babylonia tahap pertama tidak hanya karena penaklukan kerajaan tetangga saja, tetapi juga adanya keteraturan dalam masyarakat yang membuat penduduk Babylonia hidup nyaman dan terkendali. Keadaan itu bisa muncul karena adanya peraturan dan hukum tertulis yang diciptakan oleh Hammurabi, dan kini biasa disebut sebagai “Hukum Hammurabi”. Peninggalan hukum Hammurabi yang ditulis di sebuah tiang batu, kini dapat dilihat di museum Louvre, Paris, Prancis.

Bahkan untuk ukuran masa kini, hukum yang diciptakan Hammurabi sangatlah adil dan berpihak pada rakyat kecil. Ada satu bait dari peraturan yang ia ciptakan berbunyi, “Barang siapa yang kuat tidak boleh menindas mereka yang lemah.” Selain itu, masyarakat Babylonia kebanyakan juga dilindungi oleh hukum Hammurabi dari kesewenang-wenangan yang bisa dilakukan oleh tabib yang mencelakakan, atau ahli bangunan yang bekerja seenak hati. Sungguh, selain makmur karena wilayah kekuasaan yang luas, penduduknya juga bahagia karena kehidupan yang adil. Sayangnya, usai Hammurabi wafat, peradaban Babylonia mulai mengendur, hingga akhirnya tahun 1234 SM, kota itu dihancurkan oleh Bangsa Assyria. Suatu hal yang mustahil terjadi di masa pemerintahan Hammurabi.
❂ Babylonia “kedua”, Kembalinya Masa Kejayaan
Bangsa Assyria ternyata tidak menghancurkan sepenuhnya kota Babylonia. Tahun 626 SM, mereka membangun kembali kota itu. Salah satu penerus kerajaan Babylonia lama, yaitu raja Nabopolassar, berjuang selama 60 tahun, mengumpulkan pengikut, senjata, dan bekal untuk mengusir bangsa Assyria dari wilayah yang sebenarnya menjadi kekuasaannya. Seusai Raja Nabopolassar mangkat, putranya, Nebuchadnezzar II menggantikan posisi ayahnya. Nebuchadnezzar II meninggal tahun 562 SM, di masa pemerintahannya ia berhasil menjadi raja paling masyhur dari Babylonia jilid dua itu. Ia menaklukkan wilayah Yerusalem, dan memperluas wilayah Babylonia bahkan melebihi apa yang sudah dicapai oleh Hammurabi. Babylonia juga menjadi metropolitan Timur Tengah di masa kuno, karena disinyalir, kota itu sudah dihuni 250.000 jiwa ketika Nebuchadnezzar II berkuasa.

Taman gantung Babylonia
Dari segi arsitektur, Babylonia merupakan kerajaan makmur yang memiliki banyak bangunan megah sebagai penanda keunggulan teknologi dan peradaban. Suatu hal yang tidak ada tandingannya di masa yang sama.
Kabarnya, sekeliling kota Babylonia berdiri tembok tebal yang dilapisi batu bata berwarna biru, dan dihiasi bermacam patung hewan. Tak sampai di situ, Babylonia baru memamerkan pencapaian teknologi yang paling luar biasa dengan pembangunan Taman Gantung Babylonia. Nebuchadnezzar membangunnya atas permintaan sang istri, Amytis, yang sedang sakit, dan merasa lebih sehat jika bisa melihat kembali pemandangan tumbuhan hijau sebagaimana dulu ia lihat di kampung halamannya. Alih- alih membawa sang istri kembali ke daerah asalnya di pegunungan, Nebuchadnezzar membangun gedung bertingkat setinggi 25 Meter, yang berbentuk seperti pyramid kuno Mesir, dan setiap lantainya berisi tanaman yang digantung.

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon