Minggu, 28 Januari 2018

Sejarah Angkringan

Loading...

Angkringan ini identik dengan Nasi Kucing (nasi ditambah dengan sambal teri atau oseng yang dibungkus kecil). Rata-rata harganya hanya Rp.1000-2000,-/bungkus. Pasti siapapun yang pernah datang ke Jogja pernah melihat atau malah sering nongkrong dan makan di sini. Tahu ga sih bagaimana asal usul angkringan? Yuk disimak.

Angkringan adalah sebuah gerobak dorong untuk menjual berbagai macam makanan dan minuman di pinggir jalan di Jawa Tengah dan Jogyakarta. Di Solo angkringan dikenal sebagai warung hik (Hidangan Istimewa a la Kampung) atau wedangan.

Kata angkringan memiliki dua asal usul yang bertama adalah angkring yang berarti alat dan tempat jualan makanan keliling yang pikulannya berbentuk melengkung ke atas. Versi kedua asal kata angkringan adalah Angkring yang artinya duduk santai, biasanya dengan melipat satu kaki ke atas kursi. Di Jawa, hal ini disebut "Metangkling".

Mbah Pairo, merupakan pelopor atau nenek moyangnya Warung Angkringan. Mbah Pairo adalah seorang pendatang dari Cawas pada tahun 1950-an. Karena pada waktu itulang wilayah Cawas, Klaten merupakn wilayah yang tandus dan tidak subur sehingga tidak ada yang bisa diharapkan untuk menyambung hidup. Hingga akhirnya Mbah Pairo pergi untuk mencari peruntungan di tempat lain dan sampailah beliau di Kota Jogja.

Akhirnya dengan sebuah pikulan sebagai alatnya karena pada waktu itu belum ada gerobak seperti yang ada saat ini beliau mulai menjajakan nasi yang sekarang lebih populer dengan sebutan Nasi Kucing. Dari sinilah Sejarah Warung Nasi Kucing atau Angkringan Jogja dimulai. Bertempat di plataran Stasiun Tugu Mbah Pairo menggelar dagangannya. Pada waktu itu angkringannya dikenal dengan sebutan Ting-Ting Hik (dibacanya: Hek) karena beliau selalu berteriak “Hiiik…Iyeek” ketika menjajakan dagangannya. Istilah HIK adalah nama yang sekarang dikenal di Solo seperti yang diatas kita uraikan tadi. Angkringan Mbah Pairo semakin berkembang dan pada tahun 1969 diteruskan oleh Lik Man, putra Mbah Pairo.

Lik Man adalah pedagang Nasi Angkringan yang kini menempati sebelah utara Stasiun Tugu dan sempat beberapa kali berpindah lokasi. Menu Angkringan dijual dengan harga yang terbilang murah, salah satu faktor inilah yang membuat semakin banyak peminatnya. Rata-rata menu Angkirngan adalah nasi kucing, gorengan, sate usus, sate telur puyuh, keripik dan lain-lain. Minuman yang dijualpun beraneka macam seperti teh, jeruk, kopi, tape, wedang jahe dan susu.

Meski harganya murah, namun konsumen warung ini sangat bervariasi. Mulai dari tukang becak, kuli bangunan, pegawai kantor, mahasiswa, seniman, bahkan hingga pejabat dan eksekutif.

Angkringan adalah salah satu bentuk perjuangan seseorang dalam menghadapi kemiskinan. Artinya adalah, dalam keadaan yang serba kesusahan dan modal yang seadanya tapi tetap berjuang untuk mendirikan sebuah usaha dan memenuhi kebutuhan hidup.

sumber: OA Historypedia Line

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon