Minggu, 14 Januari 2018

Propaganda Udara: Peran Radio Republik Indonesia Dalam Menyuarakan Berita Kemerdekaan


“Sekali di Udara, Tetap di Udara”. Kalimat ikonik inilah yang hingga kini sekarang menjadi slogan Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai lembaga yang berorientasi untuk kepentingan masyarakat Indonesia. Bila kita melihat jauh ke belakang, kita dapat menelusuri hubungan yang erat antara berdirinya RRI dengan peristiwa kemerdeakaan Indonesia dengan perannya dalam “propaganda udara”. RRI dalam penyebarluasan kabar kemerdekaan Indonesia tidak hanya ke seluruh Indonesia, tetapi juga ke seluruh dunia. Pada tahun 1946, pemancar RRI Yogyakarta berhasil menyiarkan The Voice of Free Indonesia yang dibawakan oleh Molly Warner, seorang Australia bersimpati terhadap perjuangan bangsa Indonesia sehingga kabar kemerdekaan semakin terdengar ke suluruh dunia

Ketika mendengar kabar menyerahnya Jepang pada sekutu, para pemuda segera mendesak untuk menyegerakan kemerdekaan Indonesia. Setelah melewati silang pendapat yang menegangkan, akhirnya momen yang dinanti-nanti tiba. Ir. Sukarno didampingi Drs. Mohammad Hatta membacakan proklamasi yang mengatasnamakan bangsa Indonesia pada hari Juma’at tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 pagi di Pegangsaan Timur 56 Jakarta (Sekarang Jalan Proklamasi). Melalui proklamasi ini, Indonesia terbebas dari belenggu penjajahan dan lahir sebagai negara baru yang berdaulat dan merdeka. Namun, berita maha penting ini tidak mudah untuk disebarluaskan dari Jakarta. Taktik “kucing-kucingan” dengan Jepang inilah yang dilakukan para pemuda beberapa saat setelah proklamasi disuarakan. Para pemuda yang melakukan hal tersebut bukan berarti tidak menemui konsekuensi karena sekali saja salah langkah, ‘kepala’ merekalah taruhannya. Berkenaan dengan hal itu, perlu upaya memanfaatkan kantor berita Domei dan surat kabar Asia Raya. Selain itu, usaha Jusuf Ronodipuro dari Hosokyoku (pusat siaran radio pendudukan di Merdeka Barat) bersama dengan Sjahruddin (wartawan kantor berita Domei) dan Bachtiar Lubis yang berhasil mengudarakan teks proklamasi sehigga siarannya tertanggkap di Singapura dan seluruh dunia sangatlah penting.


Jusuf Ronodipuro memberitahu Dr. Abdulrachman Saleh bahwa terhitung sejak 18 Agustus 1945, siaran radio Jepang sudah dihentikan. Hal ini tentu sangat menggelisahkan masyarakat karena tidak tahu apa yang harus dilakukan dan menjadi buta berita. Dengan situasi dan kondisi demikian, dapat disimpulkan bahwa radio adalah media komunikasi yang efektif untuk berhubungan dengan rakyat. Pemerintah harus segera mengambil tindakan mengingat tentara sekutu sudah menduduki Jawa dan Sumatera untuk melucuti tentara Jepang dan memelihara keamanan hingga dilangsungkan pengambilalihan kekuasaan atas Indonesia. Membentuk organisasi siaran radio  nasional adalah jalan keluar yang tepat untuk mengonsolidasi kekuataan rakyat. Langkah yang diambil adalah mengadakan pertemuan dengan 8 orang bekas HosokyokuI di Jakarta. Hingga pada 11 September 1945, bertempat dikediaamn Adang Kadarusman di Menteng, Dr. Abdulrachman Saleh memimpin rapat yang menandai kelahiran Radio Republik Indonesia. Peserta rapat terdiri dari utusan daerah, seperti Jakarta, Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya, dan Malang. Beberapa keputusan yang diambil antara lain: lahirnya Tri Prasetya RRI dan peringatan hari RRI. Tanggal inilah yang kemudian diperingati sebagai Hari Radio Republik Indonesia (RRI).

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon