Senin, 29 Januari 2018

Perang Zulu, ketika tombak mampu menyaingi senapan

Loading...

Perang Zulu atau Anglo-Zulu War adalah konflik militer antara Inggris dan Zulu yang berlangsung pada tahun 1879. Zulu sendiri adalah etnis yang tinggal di wilayah Afrika Selatan dan etnis Zulu juga mendirikan sebuah kerajaan bernama Kerajaan Zulu yang didirikan tahun 1816 oleh Raja Shaka.

Pada akhir abad 19 sebagian wilayah Afrika Selatan merupakan koloni Inggris selain itu juga berdiri Republik Transvaal yang dibentuk oleh Boer dan Kerajaan Zulu. Inggris berniat untuk menguasai seluruh wilayah Afrika Selatan karena wilayah tersebut kaya akan berlian dan wilayahnya strategis karena menjadi penghubung antara Samudra Hindia dan Atlantik. Pada tahun 1877 Republik Transvaal tunduk menjadi bawahan Inggris. Setelah menguasai Transvaal. Karena merasa terancam oleh ekspansi Inggris raja Zulu saat itu, Cetshwayo memobilisasi pasukannya hingga berjumlah 40.000 prajurit.

Pada 11 Desember 1878, Sir Bartle Frere yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Cape Colony mengirim ultimatum ke Raja Cetshwayo yang berisi tuntutan agar Kerajaan Zulu membubarkan militernya dalam 30 hari. Cetshwayo pun menolak keras isi ultimatum tersebut dan akhirnya pada bulan Januari 1879 pasukan Inggris yang dipimpin oleh Lord Chelmsford menginvasi Kerajaan Zulu. Dalam hal persenjataan pasukan Inggris lebih unggul dari Zulu karena pasukan Inggris dilengkapi oleh senapan dan meriam sedangkan prajurit Zulu hanya bersenjatakan tombak pendek dan tameng yang terbuat dari kulit hewan.

Dalam invasinya Lord Chelmsford membagi pasukannya menjadi tiga kelompok. Tanggal 20 Januari 1879, pasukan tengah Inggris mendirikan kamp di bukit Isandlwana. Tanggal 22 Januari, pasukan kolom tengah Inggris diserang oleh sejumlah prajurit Zulu. Mengira kalau serangan tersebut dilakukan oleh pasukan inti Zulu, sebagian pasukan Inggris kemudian mengejar pasukan Zulu tadi. Alangkah terkejutnya pasukan tersebut ketika yang mereka temukan kemudian ternyata adalah pasukan Zulu berjumlah 20.000 personil yang sedang beristirahat. Jauh lebih banyak dibandingkan pasukan kolom tengah Inggris yang jumlah personilnya tidak sampai 2.000 personil.

Sekitar 10.000 prajurit Zulu menyerang kamp Inggris di Isandlwana yang pertahanannya lemah karena sebagian pasukan yang harusnya mempertahankan kamp tersebut terbunuh saat mengejar pasukan inti Zulu tadi. Karena kalah jumlah pasukan Inggris menderita kekalahan dan 1300 tentara Inggris terbantai di Isandlwana selain itu senapan dan amunisi pasukan Inggris dirampas oleh prajurit Zulu.

Sekitar 4000 prajurit Zulu dikirim ke wilayah koloni Inggris di Natal dan mereka bertemu dengan pos militer Rorke's Drift yang dijaga oleh 150 prajurit Inggris yang beberapa diantaranya adalah prajurit yang selamat dari pertempuran di Isandlwana. Pada 23 Januari 1879 pasukan Zulu menyerang pos Rorke's Drift dan pertempuran pun berlangsung selama 12 jam. Berkat pertahanan yang didirikan di wilayah pos dan tembakan dari senapan Inggris, pasukan Inggris berhasil membunuh 500 prajurit dan membuat pasukan Zulu mundur dari Rorke's Drift.

Sementara itu di luar Natal, begitu kabar mengenai Pertempuran Isandlwana sampai ke pasukan kolom kiri, Kolonel Evelyn Wood selaku komandan pasukan tersebut memerintahkan pasukannya untuk menghentikan invasi & mendirikan perkemahan sementara di Kraal yang posisinya relatif mudah dipertahankan. Di kolom kanan, kendati mereka tidak sampai dibantai seperti pasukan kolom tengah, perkemahan yang mereka dirikan di Eshowe & berjarak tidak jauh dari pantai timur Afrika berada dalam kondisi terkepung.

Berita kekalahan pasukan Inggris di Isandlwana sampai ke London dan pemerintah pusat Inggris sadar kalau lawannya kali ini bukan lawan yang mudah dikalahkan. Akhirnya pemerintah Inggris mengirim bantuan ke Afrika Selatan yang sampai disana pada bulan Maret. Titik balik perang ini terjadi pada 29 Maret ketika 2000 pasukan Inggris berhasil mengalahkan 20.000 pasukan Zulu di Kambula. Pasukan Inggris kemudian bergerak ke Eshowe untuk mengusir pasukan Zulu yang sudah mengepung tempat tersebut selama 3 bulan. Mereka sempat dicegat oleh pasukan Zulu di Gingindlovu, namun serangan tadi berhasil dipatahkan & pengepungan pasukan Zulu di Eshowe berhasil dihentikan.

Setelah meraih serentetan kemenangan melawan Zulu, pasukan Inggris melancarkan serangan terakhir ke Ulundi pada 4 Juli 1879. Satu persatu prajurit Zulu tumbang usai menerima tembakan dari prajurit Inggris yang dilengkapi senapan mesin Gatling. Raja Cetshwayo sempat melarikan diri namun berhasil ditangkap pada bulan Agustus. Tertangkapnya Cetshwayo menandai berakhirnya Perang Zulu. Pasca perang Inggris tidak membubarkan Kerajaan Zulu namun memecah kerajaan tersebut menjadi 13 wilayah yang dipimpin oleh seorang kepala suku. Cetshwayo sempat kembali ke Kerajaan Zulu pada 1883 dan memimpin wilayah tersebut namun pemerintahannya tidak berjalan lama karena banyak pihak yang menentang pemerintahannya akhirnya Cetshwayo pun melarikan diri dan wafat setahun kemudian.

Posisi Cetshwayo sebagai raja kemudian digantikan oleh putranya, Dinuzulu. Untuk melindungi dirinya dari pihak-pihak yang menentang kekuasaannya, Dinuzulu menjalin kesepakatan dengan negara Transvaal . Transvaal bersedia memberikan bantuan militer kepada Dinuzulu. Sebagai gantinya, sebagian wilayah Zulu harus diserahkan kepada Transvaal. Namun dijalankannya kesepakatan tersebut ganti menuai rasa tidak suka dari Inggris yang ingin menjaga supaya negara-negara Boer tetap lemah & tidak memiliki akses ke laut. Maka, pada tahun 1887 Inggris menaklukkan Zulu & meleburnya dengan daerah koloni Natal.

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon