Minggu, 14 Januari 2018

Hari Buruh dan Perjuangan Buruh


Kongres Sosialis Dunia di Paris pada tahun 1886 menjadi titik tolak sebuah hari yang menjadi lambang perlawanan buruh dalam menuntut hak-haknya. Kongres Paris saat itu mengeluarkan resolusi yang menetapkan tanggal 1 Mei sebagai hari buruh sedunia merujuk pada peristiwa pemogokan buruh Haymarket di Amerika Serikat pada tahun 1886. Resolusi ini mendapat sambutan yang hangat dari berbagai negara dan sejarak tahun 1890, tanggal 1 Mei diperingati sebagai hari buruh di berbagai negara. Hari buruh selalu diindentikan sebagai simbol perlawanan para buruh dimana disuatu hari tersebut  para buruh melakukan mogok massal dan demonstrasi besar-besaran menuntut hak-hak mereka.
Di Indonesia sendiri, pada masa-masa awal kemerdekaan peringatan hari buruh dirayakan dengan penuh gairah. Dukungan negara pada perayaan ini diwujudkan dengan maklumat yang dikeluarkan Kementrian Sosial yang dipimpin oleh Maria Ulfah, yang mengistruksikan agara para buruh yang merayakan tetap diberi upah dan diizinkan mengibarkan bendera merah disamping bendera merah putih. Pelaksanaan perayaan 1 Mei dilakukan dengan serius seperti pada perayaan di tahun 1947 yang dilakukan Sentral Organisasi Boeroeh Seloeroeh Indonesia (SOBSI) dengan mengadakan perayaan di Jakarta yang dihadiri serikat-serikat buruh dari berbagai kalangan dimana lagu Internasionale dikumandangkan.
Pada masa Orde Baru, perayaan hari buruh identik dengan gerakan kiri sehingga danggap terlarang, karena pada saat itu hal yang identik dengan ideologi komunisme sangat dilarang keberadaannya. Sehingga, penetapan hari buruh Internasional yang jatuh tanggal 1 Mei, sempat ditiadakan pada masa Orde Baru. Langkah awal pemerintah Soeharto untuk menghilangkan perayaan May Day dilakukan dengan mengganti nama Kementrian Perburuhan pada Kabinet Dwikora menjadi Departemen Tenaga Kerja. Tindakan pemerintahan Orde Baru yang represif membuat perayaan hari buruh menjadi berkurang bahkan berangsur-angsur hilang.

Pasca jatuhnya Orde Baru, mulailah perayaan hari buruh internasional dilakukan, pada 1 Mei 2000 perayaan hari buruh dirayakan besar-besaran yang diikuti dengan mogok massal selama satu minggu. Aksi mogok massal ini membuat para pengusaha ketar-ketir hingga PT.SANYO mengancam pindah ke Malaysia jika mogok massa terus dijalankan. Selain itu, perayaan hari buruh juga mengajukan tuntutan untuk menjadikan tanggal 1 Mei sebagai hari libur nasional. Namun, sikap pemerintah tidak berubah hingga akhirnya pada tahun 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono resmi menandatangani Peraturan Presiden yang menetapkan bahwa 1 Mei sebagai hari libur nasional bersamaan dengan perayaan hari buruh yang diperingati seluruh penduduk dunia. Perayaan hari buruh hingga sekarang terus berlangsung dan menjadi simbol dimana buruh-buruh terus memperjuangkan hak-haknya sambil mengepalkan tangan ke udara dan dan berseru, buruh seluruh dunia, BERSATULAH.

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon