Senin, 29 Januari 2018

23 Januari 1950: Kudeta APRA.

Loading...


Peristiwa Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil atau Kudeta 23 Januari adalah peristiwa yang terjadi pada 23 Januari 1950 di mana kelompok milisi Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang ada di bawah pimpinan mantan Kapten KNIL Raymond Westerling yang juga mantan komandan Depot Speciale Troepen (Pasukan Khusus) KNIL, masuk ke kota Bandung dan membunuh semua orang berseragam TNI yang mereka temui.

Aksi gerombolan ini telah direncanakan beberapa bulan sebelumnya oleh Westerling dan bahkan telah diketahui oleh pimpinan tertinggi militer Belanda.

APRA merupakan pemberontakan yang paling awal terjadi setelah Indonesia diakui kedaulatannya oleh Belanda. Hasil Konferensi Meja Bundar yang menghasilkan suatu bentuk negara Federal untuk Indonesia dengan nama RIS (Republik Indonesia Serikat).

Nama Ratu Adil diambil sebagai alat propagandanya. Ia mengambil dari kitab ramalan Jawa Kuna Ramalan Jayabaya yang meramalkan kedatangan seorang Ratu Adil yang merupakan keturunan Turki. Westerling yang tercatat lahir di Istanbul, Turki, memandang dirinya sebagai sang Ratu Adil yang diramalkan akan membebaskan rakyat Indonesia dari tirani.

Target kudeta Westerling sendiri adalah mempertahankan negara Pasundan dan berusaha menentang Republik Indonesia. Kudeta Westerling menggunakan metode Putcht karena kudeta ini dilakukan oleh suatu faksi dalam angkatan perang. Pasukan APRA terdiri dari pelarian militer KNIL, KL, bahkan mantan pejuang yang kecewa.

Di sisi lain kondisi politik dalam negeri Indonesia masih belum stabil karena banyaknya pemberontakan-pemberontakan yang bersifat separatis seperti DI/TII (Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia), serta situsi militer Indonesia yang masih compang-camping karena tersita perhatiannya untuk menumpas pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pimpinan Muso di Madiun.

Pada hari Kamis tanggal 5 Januari 1950, Westerling mengirim surat kepada pemerintah RIS yang isinya adalah suatu ultimatum. Ia menuntut agar Pemerintah RIS menghargai negara-negara bagian, terutama Negara Pasundan serta Pemerintah RIS harus mengakui APRA sebagai tentara Pasundan. Pemerintah RIS harus memberikan jawaban positif dalm waktu 7 hari dan apabila ditolak, maka akan timbul perang besar.

Pada 10 Januari 1950, Hatta menyampaikan bahwa pihak Indonesia telah mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Westerling.

Pada 23 Januari 1950, pasukan-pasukan desersi RST (Pasukan khusus KNIL, Korps Speciale Troepen), mengikuti perintah Westerling melakukan aksi militer ke Kota Bandung. Mereka menembak mati setiap anggota TNI yang ditemukan di jalan. Pertemputran sengit terjadi dan menewaskan  94 orang dari TNI. Sedangkan dari pihak APRA tidak ada korban sama sekali.

Pasukan Westerling menduduki semua tempat penting di Kota Bandung selama beberapa jam saja hingga akhirnya Mayor Jenderal Engels, Komandan KNIL di Bandung, membujuk agar segera meninggalkan kota itu.

Sementara sejumlah anggota pasukan RST yang dipimpin Sersan Meijer menuju Jakarta untuk menangkap Soekarno dan menduduki tempat-tempat penting. Untungnya, dukungan dari pasukan KNIL dan Tentara Islam Indonesia (TII) yang diharapkan Westerling tidak muncul sehingga upaya serangan ke Jakarta gagal.

sumber OA Historypedia Line

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon