Minggu, 24 Desember 2017

Alasan Jepang Menyerah Kepada Sekutu

Loading...

Alasan Jepang untuk menyerah memang banyak, antara lain:
- Ada serangan Uni Soviet ke Manchuria yang memporak-porandakan Kwantung Army, pasukan darat Jepang yang terkuat.
- Ada juga dua bom atom yang telah diledakkan diatas kota Hiroshima dan Nagasaki.
- Jangan lupa pengeboman konvensional oleh AS yang dilakukan sejak 1944 dan telah memporak-porandakan kota-kota Jepang.

Akan tetapi, dapat dilihat bahwa ancaman invasi oleh AS dan Sekutu Barat dianggap sebagai ancaman yang lebih besar daripada serangan Soviet. Lagipula, memang masuk akal apabila Jepang lebih takut kepada AS, Inggris, dan Sekutu Barat karena merekalah yang bisa menyerang Jepang secara langsung. Alasannya adalah karena Sekutu Barat memiliki superioritas laut dan udara yang tidak dimiliki oleh Uni Soviet di Front Pasifik.

Ancaman serangan Soviet ke Kepulauan Jepang sendiri jauh lebih kecil, sebab kemampuan AL Soviet di Pasifik minim karena sebagian besar dari industri perang Uni Soviet dialihkan untuk melawan Jerman di darat. Walaupun begitu, kekalahan Kwantung Army oleh Uni Soviet mempengaruhi faksi AD Jepang/IJA sehingga mereka lebih dapat menerima penyerahan Jepang.

Apabila kita lihat lagi, pimpinan perang Jepang yang sangat menentukan detik-detik menuju penyerahan Jepang terdiri dari 6 orang, yaitu:
- Perdana Menteri(Suzuki)
- Menteri Luar Negeri(Togo)
- Menteri AD(Anami)
- Menteri AL(Yonai)
- Kepala Staf Umum AD(Umezu)
- Kepala Staf Umum AL(Toyoda).

Secara umum, kabinet Jepang pada akhir PD II cenderung memilih untuk melanjutkan perang sampai titik nadir. Dari keenam orang tersebut, hanya Yonai saja yang diketahui memiliki keinginan untuk menyerah sejak kekalahan Jepang pada Pertempuran Leyte Gulf. Walaupun begitu, setelah serangan Soviet ke Manchuria dan meledaknya bom atom di Nagasaki, Suzuki dan Togo mulai condong kepada penyerahan, seperti Yonai. Sementara itu Anami, Toyoda dan Umezu tetap bersikeras untuk berperang sampai akhir.

Pada waktu siang hari di 9 Agustus 1945, seluruh kabinet pemerintahan Jepang mengadakan rapat dan menghabiskan 3 jam berdebat tanpa resolusi. Begitu pula pada pertemuan kedua dari sore sampai malam hari yang juga tak berujung pada sebuah keputusan. Setelah pertemuan kedua ini, PM Suzuki pun menawarkan untuk melaksanakan Konferensi Kekaisaran, dimana sang Kaisar ikut dalam rapat tersebut, tetapi tetap saja tidak terjadi sebuah konsensus.

Akhirnya, PM Suzuki pun bertanya kepada Kaisar Showa mengenai pendapatnya. Hirohito memilih untuk mengakhiri perang antara Jepang dengan Sekutu sebab ia melihat bahwa melanjutkan perang hanya akan berujung pada kehancuran Jepang. Menteri AL, Yonai, juga memberikan pendapatnya bahwa dengan adanya bom atom dan serangan Soviet, penyerahan Jepang memiliki alasan yang masuk akal apabila rakyat mencoba mempertanyakan mengapa Jepang menyerah.

Keesokan harinya, pada tanggal 10, Jepang pun menjawab bahwa mereka akan menerima Deklarasi Potsdam dengan syarat tidak ada perubahan dalam pemerintahan Jepang. Pada tanggal 12, pemerintah Sekutu mengirim balasan yang menekankan pada penyerahan tak bersyarat.

Pada tanggal 14, kabinet bertemu lagi dan Menteri Anami, serta Kepala Staf AD dan AL, Umezu dan Toyoda, tetap mencoba mempengaruhi sang Kaisar untuk tetap berperang. Walaupun begitu, Hirohito bersikeras untuk tetap menyerah. Akhirnya Jepang pun mengirim pernyataan bahwa mereka menerima penyerahan tak bersyarat dan Hirohito pun merekam teks penyerahan di hari itu juga untuk diberitahukan pada keesokan harinya kepada rakyat Jepang.

Mengenai pemberontakan yang terjadi pada 12-15 Agustus untuk merebut rekaman pernyataan penyerahan Jepang kepada Sekutu, mereka memang gagal dalam mengambil rekaman tersebut dan salah satu jendral AD berhasil membujuk para pemberontak untuk kembali ke markasnya masing-masing.

Setelah rakyat Jepang mendengar rekaman tersebut pada 15 Agustus, sebagian besar tidak semua langsung paham makna daripada rekaman itu sebab teks tersebut ditulis dengan:
- Tidak menyebutkan kata 'menyerah' atau penyerahan sama sekali melainkan hanya menyatakan bahwa mereka akan mengakhiri perang.
- Ditulis dalam Bahasa Jepang Klasik yang tidak terlalu dimengerti oleh masyarakat.

Reaksi terhadap penyerahan Jepang kepada Sekutu di Jepang sendiri bervariasi. Ada yang tidak terlalu peduli dan melanjutkan hidup seperti biasa. Banyak juga yang bunuh diri dengan pedang atau menggunakan pistol dan granat. Ada yang meratapi nasib mereka dekat kediaman sang Kaisar.

Lalu, masih ada beberapa pertanyaan, apakah AS perlu meledakkan bom atom? Jawabannya susah didapatkan. Di satu sisi, bom atom disiratkan dalam teks penyerahan Jepang, dapat disimpulkan bahwa bom atom mempercepat penyerahan Jepang. Di sisi yang lain, apabila pasukan Soviet tidak menghancurkan Kwantung Army, bisa saja para jenderal dan menteri AD Jepang tidak mendukung penyerahan Jepang dan pemberontakan yang lebih besar bisa terjadi.

Penyerahan Jepang ini sebenarnya krusial kepada apakah Operation Downfall perlu dilaksanakan. Operation Downfall adalah penyerangan Sekutu ke Jepang yang dibagi menjadi:
- Operation Olympic(serangan kepada Kyushu)
- Operation Coronet(serangan kepada Honshu)
Operation Downfall akan melibatkan setidaknya 5 juta prajurit Sekutu dan 4 juta prajurit Jepang serta setidaknya 20 juta penduduk Jepang yang akan membantu mempertahankan Jepang. Taksiran korban terluka dan meninggal apabila Operation Downfall benar-benar dilaksanakan mencapai lebih dari 5 juta orang.

Setelah Jepang menyerah, pada 28 Agustus 1945 dimulailah Pendudukan/Okupasi Jepang oleh Sekutu yang dilaksanakan oleh AS dan didukung oleh Persemakmuran Inggris. Pada saat Pendudukan Jepang, ada juga Tribunal Militer Internasional bagi Timur Jauh yang dilaksanakan untuk mengadili tokoh-tokoh Jepang pada PD II.

Upacara resmi penyerahan Jepang terjadi pada 2 September 1945 di USS Missouri, yang ditandatangani oleh:
1. Menteri Luar Negeri Mamoru Shigemitsu atas nama Kaisar Jepang dan Pemerintahan Jepang. Menteri Luar Negeri Togo telah mundur beberapa hari sebelumnya.
2. Kepala Staf Umum AD Yoshijiro Umezu atas perintah dan atas nama Markas Umum Kekaisaran Jepang.
3. Jenderal Besar Douglas MacArthur sebagai Komandan Tertinggi Sekutu.
4. Laksamana Armada Laut Chester Nimitz untuk AS.
5. Jenderal Hsu Yung-chang untuk Cina.
6. Laksamana Bruce Fraser untuk Inggris
7. Letnan Jenderal Kuzma Derevyanko untuk Uni Soviet.
8. Jenderal Thomas Blamey untuk Australia.
9. Jenderal Philippe Leclerc untuk Prancis.
10. Kolonel Lawrence Moore untuk Kanada.
11. Letnan Laksamana C.E.L. Helfrich untuk Belanda.
12. Wakil Marsekal Udara Leonard M. Isitt untuk Selandia Baru.

Dan akhirnya, setelah 6 tahun dan 1 hari sejak Invasi Polandia oleh Jerman pada 1 September 1939, Perang Dunia II berakhir.

Sementara itu, semua jajahan Jepang yang diperoleh pada PD II dikembalikan kepada negara masing-masing. Jajahan Jepang yang diperoleh Jepang sebelum PD II dibagikan kepada  Sekutu sebagai kompensasi, yaitu:

- AS: Okinawa, Kep. Amami, Kep. Ogasawara dan jajahan Jepang di Micronesia.
- Uni Soviet: Sakhalin dan Kep. Kuril.
- Inggris: Kep. Andaman dan Nicobar, Hong Kong dan Kep. Solomon.
- Republik Cina: Taiwan dan Penghu.

Pendudukan Jepang dimulai setelah MacArthur datang ke Jepang. MacArthur mengutamakan distribusi makanan sebab ada kelaparan hebat di Jepang yang berlangsung sampai 1947. Ia juga menginstruksikan agar prajurit Sekutu agar tidak memakan makanan milik Jepang yang langka serta sampai 1948, pengibaran Hinomaru tanpa izin tidak diperbolehkan. Pada 27 September, Hirohito dan MacArthur bertemu untuk pertama kalinya.

Tribunal Militer Internasional Timur Jauh yang dibentuk untuk mengadili tokoh-tokoh Jepang pada PD II dimulai pada Januari 1946 dan akan dibahas di post lainnya apabila admin MacArthur rajin :P

Dampak langsung dari Pendudukan Jepang adalah:
- Demilitarisasi Jepang. Walaupun begitu, pada 1954 dibentuk Pasukan Bela Diri Jepang yang bertujuan mempertahankan Jepang dan diletakkan dalam kuasa Kepolisian Jepang.
- Pembaharuan Ekonomi Jepang. Tanah di Jepang yang sebelumnya dimiliki oleh tuan tanah dijual pada 1950-an kepada para petani dan pengusaha tanah.
- Demokratisasi. Setelah Pendudukan Jepang, wanita diberikan hak memilih dan para tahanan politik di Jepang dibebaskan.
- Hak buruh untuk melakukan perkumpulan dan aksi industrial dibuat.

Pada 8 September 1951, Konferensi San Francisco dilakukan sebagai perjanjian damai antara Jepang dan 48 negara menandatanganinya. Aset Luar Negeri Jepang yang berjumlah
$25,300,000,000 dipindahtangankan kepada negara-negara Sekutu dan Jepang juga membayar $1,012,080,000 sebagai kompensasi kepada negara-negara Sekutu.


sumber: OA 21th Century History

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon