Senin, 13 November 2017

Perang Sipil Samoa, Arena persaingan kolonial di Pasifik

Loading...


Samoa adalah kepulauan yang berada di Oseania, Samudra Pasifik. Saat ini kepulauan Samoa terbagi dua di sebelah barat menjadi Samoa yang merdeka sedangkan sebelah timur menjadi teritori sebrang laut AS. Terbaginya kepulauan Samoa tak lepas dari perang sipil yang pernah terjadi di kepulauan tersebut di akhir abad 19.

Sejak pertama kali ditemukan pada 1722 oleh pelaut Belanda bernama Jacob Roggeveen, Samoa mulai didatangi oleh orang Barat terlebih ketika bangsa barat berlomba-lomba memperluas wilayah koloninya, keinginan untuk menaklukan Samoa pun timbul karena letaknya yang strategis dan dapat digunakan untuk tempat pengisian bahan bakar  batu bara bagi kapal yang berlayar di pasifik.

Untuk meningkatkan hubungan dengan penduduk asli Samoa negara barat membangun kantor konsuler seperti Inggris pada 1847, AS pada 1853, dan Jerman pada 1861. Jerman berhasil menjalin hubungan baik dengan penduduk Samoa ketika mereka memperbolehkan Jerman membangun pelabuhan di Saluafata pada 1879.

Pada November 1884 raja Samoa, Malietoa mengajukan permintaan ke Inggris agar Samoa dijadikan koloni Inggris. Tindakan ini mengundang rasa tidak suka dari Jerman yang merupaka rival Inggris karena jika Samoa jatuh ke tangan Inggris maka upaya Jerman untuk menguasai Samoa pun bisa gagal terwujud lantas Jerman menanggapi situasi ini dengan mendukung gerakan anti raja Malietoa.

Pada tahun 1887 pecah perang sipil antara pendukung raja Malietoa dan  Tamasese yang dimenangkan oleh pihak Tamasese. Tamasese pun menjadi raja baru Samoa bulan September 1887. Tak lama kemudian konflik baru pun datang ketika kelompok anti Tamasese memicu konflik bersenjata. Jerman pun bertindak dengan mengirimkan kapal perangnya ke Samoa pada 1888.

Tindakan Jerman yang terang-terangan mendukung gerakan pemberontak menimbulkan kecaman dari Amerika Serikat yang kemudian juga mengirimkan kapal perangnya ke Samoa sementara Inggris yang juga tidak suka terhadap tindakan Jerman juga mengirim kapal perang yang sebatas hanya memantau perkembangan situasi Samoa dari jauh.

Ketegangan AS dan Jerman pun terhenti ketika badai topan menerjang Samoa yang menenggelamkan kapal perang kedua negara sementara itu dukungan terhadap raja Tamasese pun menurun drastis akhirnya diselenggarakan perundingan yang melibatkan negara barat yang mengembalikan raja sebelumnya, Malietoa kembali ke tahtanya. Wilayah Kerajaan Samoa pun dibagi menjadi 2 dimana bagian barat menjadi wilayah operasi Jerman sedangkan bagian timur adalah wilayah operasi AS & Inggris.

Pada tahun 1898 perang sipil baru kembali pecah di Samoa ketika wafatnya raja Malietoa. Ada dua kandidatt yang bersaing untuk mendapatkan tahta Kerajaan Samoa yaitu anak dari raja Malietoa, Tanumafili dan Mataafa. Perang antar keduanya pun pecah pada 31 Desember 1898. Kali ini negara barat kembali melakukan intervensi di perang sipil ini. Kubu Mataafa didukung oleh Jerman sedangkan kubu Tanumafili didukung oleh AS & Inggris.

Pasukan Mataafa semula unggul di medan perang namun situasi berubah ketika kapal perang AS & Inggris membombardir kota Apia dan mendaratkan pasukannya disana. Konflik yang kembali menghancurkan Samoa memaksa Jerman, AS, dan Inggris untuk mengadakan perundingan pada Mei 1889. Hasilnya adalah membubarkan Kerajaan Samoa dan membagi kepulauan Samoa dimana wilayah barat menjadi wilayah kekuasaan Kekaisaran Jerman dan wilayah timur dikuasai Amerika Serikat.

Pada perkembangannya Samoa Barat kemudian duduki oleh Selandia Baru ketika saat Perang Dunia 1 pecah, Selandia Baru merebut Samoa dari tangan Jerman dan akhirnya Samoa Barat mendapat kemerdekaannya ditahun 1962 sementara Samoa Timur tetap menjadi teritori sebrang laut Amerika Serikat.

sumber: OA Historypedia Line

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon