Senin, 13 November 2017

Mitos SBMPTN yang tidak boleh dipercaya

Tags


Banyak berita-berita tidak benar yang berkeliaran tentang SBMPTN dikalangan siswa tingkat akhir SMA. Terkadang berita itu dipercaya begitu saja tidak diklarifikasi terlebih dahulu. Tulisan ini saya dapatkan dari OA Line Road To PTN dan saya mengamini bahwasannya mitos-mitos ini tidak benar dan dapat meresahkan.

Dead Score (Nilai Mati) 
Apakah kalian pernah mendengar ini? Jika kalian pernah mendengar ini atau bahkan percaya akan hal ini artinya kalian sudah termakan Mitos pertama dan terhangat. Mitos? Nilai mati cuma mitos? Yaa, nilai mati tak perlu kalian pikirkan lagi karena ini hanya mitos belaka.
Sebenernya apa itu nilai mati? Sederhananya nilai mati adalah niai terendah yang harus kalian capai untuk lulus dari suatu pekerjaan. Jika nilai kalian kurang dari nilai mati maka kalian tidak lulus pekerjaan tersebut. Banyak yang berkata jika kita mengisi dan mendapat nilai minus kita gagal dan boleh mendapat nilai minus jika dari keseluruhan mata uji tidak diisi. Adapun yang mengatakan nilai mati itu adalah 2,5, jadi ketika kita kurang dari 2,5 disalah satu mata uji kita kitdak lulus.

Banyak sekali nilai mati yang beredar tanpa dasar di pasar informasi saat ini, hati-hati! Perlu kalian ketahui di dalam SBMPTN hanya memiliki nilai 4 jika jawaban kalian benar, jika salah -1 dan nilai 0 jika kalian tidak mengisinya. Tidak ada nilai selain itu di web resmi SBMPTN atau pun didalam panduan SBMPTN yang ada.
Jadi dapat disimpulkan Nilai mati itu Tidak Ada dan hanya MITOS. Usahakan kalian tidak perlu memikirkan hal yang satu ini karena dapat mengganggu kenyamanan kalian dalam mempersiapkan SBMPTN yang sebentarlagi muncul dihadapan kalian.

Harus Mengikuti Tes IPC Jika Lintas Jurusan 
Banyak sekali beranggapan jika kalian adalah anak IPA dan kalian akan mengambil jurusan akutansi yang jelas itu adalah jurusan IPS maka kalian harus mengambil jurusan IPC, apakah benar harus IPC? Tidak. Sebenarnya ini hanyalah salah persepsi karena yang di sebutkan diatas salah diartikan, jika kejadian demikian maka kalian hanya mengambil tes Soshum saja.
Hal seperti ini juga menjadi mitos yang beredar dan membuat pusing karena info yang tidak jelas. Telah jelas bahwa pengelompokan jenis tes SBMPTN sudah di jelaskan pada web resmi SBMPTN yang mengelompokan Saintek, Soshum, dan IPC (jenis ujian) berdasarkan jurusan yang akan diambil.
Misalkan kalian mengmbil jurusan matematika dan akutansi maka kalian akan masuk jenis ujian IPC tidak melihat jurusan apapun ketika kalian SMA. Jika kalian hanya mengambil jurusan matematika maka kalian akan masuk jenis tes Saintek walaupun kalian saat SMA berada di jurusan IPS.
Tempat Tes Mempengaruhi Seleksi 
Ada yang beranggapan ketika kalian memilih jurusan di universitas A kalian harus mengikuti ujian di universitas tersebut, apakah benar? Tidak, itu hanya mitos. Kalian tidak perlu ujian di universitas yang kalian pilih karena itu tidak mempengaruhi kalian akan diterima atau tidak.
Sudah jelas bahwa penilaian lolos SBMPTN  hanya berdasarkan nilai tes dan nilai keterampilan (di jurusan tertentu). Jadi kalian bebas memilih tempat tes yang menurut kalian nyaman (dengan syarat dan ketentuan yang berlaku).
Kelulusan SBMPTN Ditentukan oleh Pasing Grade 
Pasing grade adalah nilai minimal yang harus kalian dapat untuk masuk ke jurusan yang kalain pilih dan biasanya dalam bentuk persentase yang di gunakan hanya sebagi acuan belajar kalian dalam mengukur sampaimana persiapan yang kalian miliki. Misalkan jurusan matematika Unpad pasing grade nya adalah 36%  yang artinya kalian harus memiliki nilai yang lebih dari 36% untuk bisa masuk ke matematika Unpad.
Namum, hal yang seperti ini banyak yang salah mengartikan yang membuat poin 4 ini menjadi mitos penentu kelulusan SBMPTN yang di yakini banyak orang. Jika sistim ini yang digunakan untuk menentukan kelulusan kalian, mengapa pada website resmi SBMPTN hanya menampilkan daya tampung dan jumlah peminat saja? Bukannya pasing grade yang ditampilkan?
Nah, jika kita pikir lagi SBMPTN itu menggunakan sistim menjaring. Misalkan suatu program studi hanya memiliki 50 kuota artinya program studi ini hanya mengambil 50 orang dengan nilai tertinggi yang mengambil tes program studi tersebut. Jika menggunakan sistim pasing grade dan program studi tersebut memiliki pasing grade sebesar 30% sedangkan peserta yang memiliki pasing grade diatas 30% ada 150 orang, maka akan berapa orang yang diterima jika kuotanya hanya 50? Apakah 100 dari mereka harus berdiri ketika kuliah?
Perbedaan Peluang Masuk Antara Bidikmisi dan Non-bidikmisi 
Bidikmisi adalah beasiswa full yang ada dijenjang S1 yang diberikan pada siswa cerdas dengan tingkat perekonomian rendah. Banyak yang beranggapan bahwa peluang bidik misi lolos SBMPTN lebih kecil dari pada non-bidikmisi. Hal tersebut adalah mitos yang selalu membuat peserta bidikmisi berkecil hati untuk lolos SBMPTN. Parameter penilaian hanyalah nilai tes dan tidak disebutkan bahwa bidikmisi memiliki kuota tersendiri.

Walaupun setiap Perguruan Tinggi memiliki kuota bidikmisi masing-masing tetapi hal tersebut tidak menjadikan perbedaan peluang diterimanya peserta bidikmisi dan non-bidikmisi. SBMPTN hanya mengukur kalian dari nilai tes bukan dari latarbelakang kalian.
Pembobotan pada Mata Uji 
Dalam tes SBMPTN terdapat berbagai mata uji yang disajikan dan hal ini memunculkan mitos bahwa ada pembobotan mata uji berdasarkan jurusan yang diambil. Misalkan jurusan kedokteran yang diperlukan nilai mata uji matematika lebih besar dari mata uji fisika. Jadi berdasarkan info ini kita harus lebih meninggkatkan nilai mata uji yang bersesuaian pada jurusan yang kita ambil.

Info seperti ini hanyalah mitos justru artinya berlawanan dengan apa yang dijelaskan pada website resmi SBMPTN. Dijelaskan bahwa semua bobot mata uji sama dan tidak ada mata uji yang diabaikan, dengan begini maka sudah jelas tidak ada pembobotan pada mata uji tertentu di jurusan tertentu.
Ada Universitas yang Tidak mau di Nomor Duakan 
Info seperti ini mulai beredar pada SNMPTN, mungkin ini adalah faktanya bahwa arang sekali yang diterima SNMPTN pada pilihan kedua atau ketiganya tetapi kita tidak tahu apakah memang terjadi pada SNMPTN atau tidak. SBMPTN pun banyak mendapat isu yang seperti itu, apakah benar itu berlaku pada SBMPTN juga? Tidak.

Hal yang seperti itu hanya mitos pada SBMPTN karena SBMPTN menggunakan sistem yang tidak dikelola oleh pihak universitas dan pada faktanya banyak yang diterima pada jalur SBMPTN pada pilihan kedua dan ketiganya. Jadi kalian tidak boleh percaya dengan hal yang satu ini.
Tidak Diterima jika Tidak Mengikuti Try Out pada Univesitas yang Dipilih 
Sebelum tes SBMPTN dilaksanakan banyak sekali Univesitas dan lembaga pendidikan mengadakan try out SBMPTN dan menggunakan mitos ini menjadi senjata mereka untuk menarik peserta yang banyak. Tidak diterima jika tidak mengikuti try out pada universitas yang dipilih adalah mitos yang disalahgunakan oleh oknum yang ingin mengambil keuntungan.
Try Out SBMPTN yang bertujuan mengenalkan bagaimana pelaksanaan TES SBMPTN di salah artikan oleh peserta SBMPTN akibat mitos ini. Ikut atau tidaknya kalian pada try out tersebut tidak mempengaruhi lolos atau tidaknya kalian.
Demikianlah tadi hal-hal yang harus kalian para pendaftar SBMPTN yang seharusnya diketahui, bahwa informasi yang disebutkan adalah mitos seputar SBMPTN. Infomasi adalah senjata penting dalam perang, ibaratkan SBMPTN ini adalah perang maka yang memegang banyak informasi ia lah pemenang dalam perang tersebut.

Butuh soal saintek: Klik disini
Butuh Soal Soshum: Klik disini
Ebook Materi Saintek: Klik disini
Ebook Materi Soshum: Klik disini
kisi-kisi SBMPTN 2018: Klik disini

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon