Senin, 13 November 2017

Great Northern War, Tamatnya kejayaan Swedia di Utara


Great Northern War atau Perang Utara Raya adalah konflik yang terjadi antara tahun 1700 sampai 1721 yang melibatkan Swedia melawan koalisi anti-Swedia yang meliputi Rusia, Denmark, dan Polandia-Lithuania. Beberapa negara lain nantinya juga bergabung dalam koalisi anti-Swedia seperti Inggris, Prussia, dan Hanover.

Pada abad 17, Swedia adalah salah satu negara adidaya di wilayah Skandinavia. Swedia turut serta dalam berbagai perang dan mengadakan serangkaian perluasan wilayah hingga menimbulkan rasa tidak suka dari negara-negara tetangganya. Misalnya Rusia yang menginginkan wilayah Swedia yang berada ditepi Laut Baltik sehingga jalur laut menuju Samudra Atlantik terbuka. Sementara itu Denmark berniat mencaplok wilayah Scania dan beberapa wilayah lain yang diambil Swedia dari Denmark karena perang antar kedua negara tersebut di abad 17. Kemudian ada Polandia-Lithuania yang berambisi merebut Livonia agar sektor ekonomi Swedia melemah, sebagai informasi Swedia dan Polandia-Lithuania adalah rival dagang di kawasan Baltik.

Pada tahun 1679, Charles XII yang baru berumur 15 tahun naik tahta menjadi raja Swedia. Hal ini dimanfaatkan oleh negara anti-Swedia untuk menghajar Swedia karena rajanya yang masih terlalu muda dan belum berpengalaman dalam memimpin sebuah negara. Dibentuklah koalisi yang terdiri dari Rusia, Polandia-Lithuania, dan Denmark untuk memerangi Swedia dengan harapan bisa mendapatkan wilayah yang mereka inginkan.

Bulan Maret 1700, pasukan Denmark menginvasi wilayah Holstein , sekaligus menjadi awal dimulainya Perang Utara Raya. Tidak lama berselang, Saxony selaku salah satu negara bagian penyusun Polandia-Lithuania juga melakukan invasi ke wilayah Livonia (sekarang termasuk wilayah Lithuania). Rusia juga tidak mau ketinggalan & wilayah yang menjadi sasaran penyerbuan Rusia adalah Narvia & Ingria (keduanya terletak di tepi Laut Baltik). Kendati dikeroyok tiga negara sekaligus, Swedia mampu bertahan dan mengadakan perlawanan.

Negara pertama yang didepak dari perang adalah Denmark. Setelah berhasil menahan invasi Denmark, Swedia lantas melancarkan serangan balasan ke wilayah Denmark. Angkatan laut dan prajurit darat Swedia mampu memukul mundur pasukan Denmark sampai ke Copenhagen, yang merupakan ibukota Denmark. Denmark pun akhirnya mengkahiri perang dengan Swedia melalui Perjanjian Traventhal.

Sementara Swedia tengah menghajar Denmark. Polandia dibawah raja Augustus menginvasi Livonia, namun invasi ini mampu dibendung Swedia ketika Charles XII memindahkan pasukannya ke Livonia. Kegagalan juga menimpa Rusia ketika prajurit Swedia mampu mengalahkan prajurit Rusia yang jumlahnya jauh lebih banyak di Narva pada 19 November 1700.

Antara tahun 1700 sampai 1706 Charles XII memfokuskan untuk menaklukan Polandia agar memudahkan invasi berikutnya ke Rusia. Pada 1701 pasukan Swedia mengalahkan Polandia di Riga, setahun kemudian Swedia berhasil menduduki Warsawa dan tahun 1704, Charles XII menjadikan Stanislaw Leszczynski sebagai raja boneka di Polandia. Akhirnya Polandia berhasil dikuasainya sepenuhnya pada 1706 setelah Augustus II mau mengakui kekuasaan Stanislaw dan setuju untuk mengakhiri perang.

Dua kawannya sudah berhasil disingkirkan oleh Swedia tidak membuat Rusia menyerah begitu saja bahkan masa ketika Swedia berperang di Polandia dimanfaatkan Rusia untuk membangun kembali pasukannya. Pada 1708 giliran Rusia yang diinvasi oleh Swedia. Awalnya Swedia mampu maju ke dalam wilayah Rusia namun akibat faktor kesulitan dalam pengiriman logistik dan musim dingin yang datang, Swedia berhasil dikalahkan Rusia di Poltava pada bulan Juni 1709 dan invasi Swedia terhadap Rusia pun mampu dibendung Rusia.

Setelah kekalahannya di Poltava, Charles III mengungsi ke wilayah Kesultanan Ottoman dan disana dia membujuk Sultan Ahmed III agar membantu Swedia untuk berperang melawan Rusia. Perang singkat antara Ottoman dan Rusia pun terjadi di wilayah Sungai Pruth tahun 1710 sampai 1711. Kedua belah pihak akhirnya sepakat untuk mengakhiri perang pada 1713.

Sementara Charles tengah mengasingkan diri negara yang semula menyerah kepada Swedia melanjutkan perlawanannya. Denmark menginvasi Scania pada 1710 sementara raja Polandia, Augustus II kembali merebut tahtanya dari Stanislaw. Situasi ini memaksa Charles XII untuk kembali ke Swedia pada 1714.

Pada 1715 Prusia dan Hanover bergabung melawan Swedia kemudian disusul oleh Inggris yang mendeklarasikan perang terhadap Swedia pada 1716. Situasi makin memburuk bagi Swedia ketika harus kehilangan wilayah Stralsund pada akhir 1715 dan Wismar ditahun  berikutnya sehingga Swedia kehilangan seluruh wilayahnya di Eropa Timur dan Tengah. Namun Swedia masih bisa merasakan kemenangan ketika berhasil menaklukan Kristiania (sekarang Oslo) di Norwegia.

Charles XII pun memimpin sendiri pasukannya untuk menguasai Norwegia namun naas pada 11 Desember 1718, Charles gugur tertembak di kepala ketika sedang mengepung benteng Frederikshald.

sumber: OA Historypedia Line

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon