Senin, 02 Oktober 2017

Tumbuhnya TNI dan Sejarah TNI


Jika kita bicara sejarah TNI, maka kita perlu tarik kebelakang bagaimana TNI bisa terbentuk hingga sampai sekarang ini. Kita tentu tahu bahwasannya Tentara adalah unsur penting dalam pembentukan suatu negara. Dalam nasihatnya dalam buku Il Principle Machiavelli mengatakan “Kelangsungan kekuasaan negara membutuhkan dua unsur yang pertama adalah hukum dan tentara yang baik”.  Negara Indonesia lahir tahun 1945 tepat pada tanggal 17 Agustus. Dalam hal ini Negara Indonesia lahir belum memiliki tentara untuk menjaga kedaulatannya. Maka Pada tanggal 22 Agustus 1945 PPKI(Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) memutuskan bahwa dibentuk tiga badan sebagai wadah perjuangan rakyat. Yang pertama adalah KNIP(Komite Nasional Indonesia Pusat) yang kelak nanti menjadi cikal bakal lembaga legislatif DPR, Kedua adalah PNI merupakan partai tunggal negara pada saat itu, ketiga adalah BKR(Badan Keamanan Rakyat) yang merupakan cikal bakal TNI. Pada tanggal 23 Agustus Presiden Soekarno mengumumkan pembentukan BKR, dalam hal ini Soekarno mengajak pemuda bekas PETA, Heiho, atau pun pemuda dari organisasi para militer lainnya, untuk bekerja pada BKR dan sedia menjadi tentara kebangsaan untuk mempertahankan kemerdekaan pada waktu itu. Mengingat bahwasannya sekutu dalam hal ini juga Belanda mulai merapat ke Indonesia.
Pada tanggal 5 Oktober 1945 pemerintah mengeluarkan maklumat pembentukan tentara kebangsaan yang diberi nama Tentara Keamanan Rakyat. Setelah pembentukan ini Pemerintah memanggil eks Perwira KNIL dan golongan Pribumi yang mempunyai pangkat tertinggi dari semua perwira pribumi eks KNIL pada waktu itu yaitu Mayor Uoerip Soemohardjo. Selain dari KNIL pemerintah mengundang para eks PETA Heiho, atau  yang mengenyam pendidikan militer Jepang untuk bahu-membahu membangun organisasi militer resmi profesional. Setelah itu Oerip Soemohardjo membentuk Markas Besar Tertinggi Tentara Keamanan Rakyat, lalu Urip dengan MBTTKR melakukan pengumuman “diserukan oleh markas tertinggi agar pemuda para bekas prajurit Peta Heiho kaigun Heiho barisan pelopor dan lain-lain memasuki TKR” . Pada tanggal 20 Oktober Pemerintah menggumumkan susunan tertinggi di Kementrian keamanan rakyat dan TKR Oerip mendapatkan kepercayaan sebagai Kepala Staff Umum TKR dengan pangkat Letnan Jenderal. Pimpinan tertinggi atau Jendral Besar dipegang oleh Supriyadi namun Supriyadi sendiri tidak muncul. eks Perwira PETA  tersebut dikabarkan dibunuh oleh tentara Jepang. Tentu dipilihnya Oerip sebagai KSU TKR karena kemampuan Urip dalam mengorganisasi tentara dapat diandalkan dan kemampuan teknis dalam hal ketentaraan, berbeda halnya dengan eks Perwira PETA yang tak pernah mendapat pendidikan staf atau pengorganisasian layaknya Perwira didikan KNIL.
Pada tanggal 31 Oktober 1945 Oerip menandatangani pengumuman pembukaan Akmil Jogja ini merupakan sekolah militer pertama yang dikelola langsung oleh pemerintah Indonesia yang baru merdeka pada saat itu. Akmil Jogja merupakan bentuk keseriusan negara dalam membentuk tentara profesional yang berstandar internasional. Dalam upaya melakukan pendidikan militer Akmil Jogja banyak menemukan kendala seperti masalah finansial, kurikulum, hingga seragam. Akmil Jogja merupakan pelopor pendidikan perwira pertama di Indonesia sekolah-sekolah militer lainnya lalu didirikan pasca didirikannya Akmil Jogja tersebut, seperti sekolah Akmil Tangerang, sekolah Kadet di Jawa Timur dan Sumatera, serta sekolah Opsir di Palembang.
 Adanya kekosongan Pimpinan Tentara Keamanan Rakyat, yang di mana Seharusnya yang di mana seharusnya Supriyadi memimpin tentara keamanan rakyat, maka atas dasar inisiatifnya Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo mengadakan rapat besar pada tanggal 12 November 1945 yang dihadiri oleh perwira perwira Tentara Keamanan Rakyat pada saat itu. Perwira-perwira Tentara Keamanan Rakyat merupakan bekas perwira dari eks KNIL dan Perwira PETA yang merupakan tentara buatan Jepang pada saat itu. Dalam rapat tersebut berlangsung panas dikarenakan para eks perwira PETA menuduh eks KNIL adalah unsur Kolonialisme Belanda dan bisa saja berkhianat kepada rakyat Indonesia. Rapat tersebut berlangsung panas dan seperti Rapat Para Koboy, para peserta datang ke ruangan rapat dengan menyandang pistol di pinggang. Ada juga yang membawa samurai dan klewang  . Dalam rapat ini diadakan pemilihan Pucuk Pimpinan Tertinggi Tentara Keamanan Rakyat. Akhirnya para peserta setuju bahwasannya Panglimaa Tentara Keamanan Rakyat dipegang oleh Soedirman. Soedirman yang tadinya berpangkat Kolonel seketika menjadi seorang Jendral.
Tentara Keamanan Rakyat berganti nama menjadi Tentara Keselamatan Rakyat pada tanggal 7 Januari 1946 berdasarkan keputusan pemerintah. Lalu selang beberapa hari kemudian tepat tanggal 26 Januari diganti nama lagi menjadi Tentara Republik Indonesia. Berdasarkan keputusan pemerintah juga pada tanggal 15 Mei 1947 Presiden Republik Indonesia Soekarno mengeluarkan penetapan tentang penyatuan tentara Republik Indonesia dengan Laskar Laskar perjuangan menjadi satu organisasi tentara. Tanggal 3 Juni 1947 Soekarno meresmikan penyatuan tentara-tentara dengan unsur-unsur laskar-laskar perjuangan menjadi satu wadah tentara nasional dengan nama Tentara Nasional Indonesia. Panglima tertinggi tetap dipegang oleh Jendral Sudirman.
 Di tengah situasi Agresi Militer Belanda, kondisi ekonomi yang morat-marit serta Perjanjian Renville yang merugikan bangsa Indonesia membuat ruang gerak bangsa Indonesia terbatas, Maka perlu diadakan reformasi pada tubuh TNI. Bung Hatta ditunjuk Presiden Soekarno untuk menjadi Perdana Menteri Sekaligus merangkap sebagai Menteri Pertahanan pada tanggal 29 Januari 1948. Bung Hatta lalu mengeluarkan kebijakan Rera yang dikenal sebagai restrukturasi dan rasionalisasi TNI. Kebijakan ini ditunjukan untuk membuat tentara benar-benar dari golongan profesional saja.  Penataan ini dimaksudkan mencari bentukan akhir dari Organisasi Tentara di Indonesia.  Dalam hal ini yang dimaksud dengan  rasionalisasi dan restrukturasi merupakan pengurangan jumlah tentara besar-besaran dikarenakan pada waktu itu tentara banyak dari golongan pemuda biasa yang tidak pernah mengenyam pendidikan militer. Namun ada indikasi bahwasannya program Rera tersebut adalah upaya penyingkiran orang-orang berhaluan kiri dalam tubuh tentara. Tapi ada pertimbangan alasan ekonomi dalam Rera tersebut, pemerintah tidak bisa membiayai angkatan perang yang besar, dikarenakan situasi ekonomi yang tidak menemukan kepastian. Program Hatta tersebut membuat para pemuda yang menjadi tentara kehilangan pekerjaannya. Menjadi tentara pada waktu itu merupakan sebuah kebanggan serta menaikan status sosial seseorang. Kelak orang-orang yang tersingkir karena kebijakan Hatta menjadi pasukan pembrontak PKI Madiun.


Daftar Pustaka:
-Oerip Seomohardjo: Bapak Tentara Yang Dilupakan. Historia No.32 III 2016
-Mabes TNI(2000). Sejarah TNI Jilid I(1945-1949). Jakarta: Pusat Sejarah dan            Tradisi TNI.
-Anderson, David..2008.Kudeta Madiun 1948. Yogyakarta: MedPress
-Website Sejarah TNI:http://tni.mil.id/pages-10-sejarah-tni.html

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon