Sabtu, 28 Oktober 2017

Tabrakan Kapal Selam USS George Washington

Loading...

Pada tanggal 9 April 1981, kapal selam nuklir USS George Washington milik Angkatan Laut Amerika Serikat sedang berada di "periscope depth" saat bertabrakan dengan kapal kargo komersial seberat 2.390 ton berbendera Jepang Nissho Maru di Laut Tiongkok Timur, sekitar 110 mil laut (130 mil, 200 km) dari Sasebo, Jepang. USS George Washington segera naik ke permukaan dan mencari kapal tersebut. Akibat kondisi kabut tebal pada saat itu, kru USS George Washington melihat Nissho Maru berlayar menjauh tanpa melihat adanya kerusakan. Setelah memanggil pesawat patroli maritim P-3 Orion untuk mencari Nissho Maru, USS George Washington berlayar menuju pelabuhan untuk menjalani perbaikan, sementara kru P-3 Orion terbang kembali ke Pearl Harbor dari Guam. Tanpa diketahui awak USS George Washington, Nissho Maru tenggelam sekitar 15 menit setelah tabrakan terjadi. Dua awak Nissho Maru berkebangsaan Jepang hilang, 13 orang awak lainnya diselamatkan oleh Angkatan Laut Bela Diri Jepang (JMSDF), sementara USS George Washington mengalami kerusakan ringan namun masih dapat berlayar.

Kecelakaan itu sempat membuat hubungan Amerika Serikat dan Jepang menjadi renggang, terlebih kecelakaan tersebut terjadi sebulan sebelum jadwal pertemuan antara Perdana Menteri Jepang Zenko Suzuki dan Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan diadakan. Jepang mengkritik Amerika Serikat karena tidak memberi tahu pemerintah Jepang terkait kecelakaan tersebut selama 24 jam setelah kecelakaan terjadi, dan menuntut untuk mengetahui alasan mengapa USS George Washington naik ke permukaan padahal kapal selam tersebut hanya berjarak sekitar 20 mil laut (23 mil, 37 km) dari perairan teritorial Jepang.

Angkatan Laut Amerika Serikat awalnya menyatakan bahwa USS George Washington sedang mengeksekusi manuver "crash dive" (menyelam dengan cepat) selama tabrakan, dan kemudian segera muncul kembali ke permukaan, tapi kru tidak bisa melihat kapal Jepang tersebut akibat terhalang oleh kabut dan hujan. Laporan awal yang dirilis beberapa hari kemudian menyatakan bahwa baik USS George Washington dan pesawat P-3 Orion sebenarnya telah mendeteksi Nissho Maru di dekatnya, tetapi keduanya tidak bahwa menyadari Nissho Maru sedang berada dalam kesulitan.

Pada tanggal 11 April, Presiden Reagan dan pejabat Amerika Serikat lainnya secara resmi menyatakan belasungkawa atas kecelakaan itu, menawarkan kompensasi, dan meyakinkan orang Jepang agar tidak perlu khawatir tentang kontaminasi radioaktif. Sesuai kebijakan standar, Pemerintah Amerika Serikat menolak untuk mengungkapkan apa yang dilakukan kapal selam tersebut di dekat wilayah kedaulatan Jepang dan menolak memberi kepastian apakah kapal selam tersebut sedang dipersenjatai dengan rudal nuklir atau tidak. (sikap tersebut merupakan bagian dari kebijakan pemerintah dan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk tidak mengkonfirmasi atau menyangkal keberadaan senjata nuklir di sebuah kapal). Angkatan Laut Amerika Serikat yang mengaku bertanggung jawab atas insiden tersebut lantas menegur komandan dan petugas dek USS George Washington.

Pada tanggal 31 Agustus, Angkatan Laut Amerika Serikat merilis laporan akhir yang menyimpulkan bahwa kecelakaan dihasilkan oleh serangkaian kebetulan yang diperparah akibat kesalahan awak kapal selam. Setelah bertabrakan dengan Nissho Maru, USS George Washington yang mengalami rusak ringan diperbaiki dengan suku cadang dari USS Abraham Lincoln yang sedang menunggu untuk dibesituakan di Puget Sound Naval Shipyard.

Ini bukan pertama kalinya kapal selam nuklir bertabrakan dengan kapal lain, USS Greenville pernah bertabrakan dengan kapal berbendera Jepang Ehime Maru di lepas pantai Hawaii pada tanggal 9 Februari 2001. Pada tanggal 11 Februari 1992, kapal selam nuklir Angkatan Laut Amerika Serikat USS Baton Rogue bertabrakan dengan kapal selam nuklir B-276 Kostroma milik Angkatan Laut Rusia dan Maret 1993, kapal selam nuklir USS Grayling milik Angkatan Laut Amerika Serikat bertabrakan dengan kapal selam nuklir K-407 Novomoskvosk milik Angkatan Laut Rusia, kedua kecelakaan tersebut terjadi saat kapal selam Amerika Serikat menguntit kapal selam Rusia di dekat pangkalan AL Rusia, Severomorsk. Pada malam tanggal 3 Februari 2009, kapal selam nuklir HMS Vanguard milik Angkatan Laut Kerajaan Inggris yang sedang berpatroli di timur Samudera Atlantik dengan membawa 16 rudal balistik Trident II D5 dengan total 48 buah hulu ledak nuklir bertabrakan dengan kapal selam nuklir Triomphant milik Angkatan Laut Perancis yang baru saja pulang bertugas dengan membawa 16 rudal balistik M45 dengan 48 hulu ledak nuklir, tidak ada korban jiwa dan kebocoran radioaktif dalam kecelakaan ini, kedua kapal selam sedang berada dalam posisi menyelam dan diduga penyebab tabrakan adalah akibat dari kapal yang dirancang untuk sulit dideteksi lawan ditambah sonar yang berada dalam mode patroli senyap.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon