Sabtu, 28 Oktober 2017

SLBM

Loading...

SLBM (submarine-launched ballistic missile) pada dasarnya merupakan rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam. SLBM modern biasanya membawa beberapa hulu ledak yang disimpan dalam multiple independently targetable reentry vehicles (MIRVs), hal ini memungkinkan satu rudal menghantam lebih dari satu sasaran. Sebagai catatan, SLBM memiliki mekanisme pengoperasian yang berbeda dengan rudal jelajah yang diluncurkan dari kapal selam. SLBM modern berkerabat dekat dengan rudal balistik antarbenua (ICBM) karena memiliki jarak jelajah diatas 5,500 kilometer atau 3,000 mil laut, bahkan SLBM dan ICBM dapat dikatakan sebagai satu jenis rudal yang sama. Seluruh SLBM milik Amerika Serikat menggunakan bahan bakar padat, sementara seluruh SLBM milik Uni Soviet dan Rusia menggunakan bahan bakar cair kecuali RSM-56 Bulava, yang mulai operasional pada tahun 2014.

Kapal selam peluncur rudal balistik bertenaga nuklir (SSBN) pertama di dunia adalah USS George Washington (SSBN-598) yang membawa 16 buah rudal Polaris A-1, USS George Washington mulai masuk jajaran tugas pada bulan Desember 1959 dan melaksanakan "SSBN deterrent patrol" pertama pada bulan November 1960 hingga Januari 1961. USS George Washington juga merupakan kapal selam pertama yang berhasil meluncurkan SLBM dari dalam laut pada tanggal 20 Juli 1960 menggunakan rudal Polaris A-1. Sementara SSBN pertama milik Soviet yang dapat membawa 16 buah SLBM adalah Project 667A (kelas Yankee) yang mulai bertugas di tahun 1967, 32 buah SSBN kelas Yankee selesai dibangun pada tahun 1974. Ketika SSBN kelas Yankee masuk jajaran tugas, Amerika Serikat telah membuat 41 SSBN yang disebut "41 for Freedom".

Bagaimana cara SLBM meluncur dari dalam air? Untuk mempermudah, Admin hanya akan membahas mekanisme peluncuran rudal UGM-133 Trident II. Pertama, kapal selam harus berada pada kedalam periskop (periscope depth). Saat komando peluncuran diberikan, rudal dilontarkan dari tabung peluncuran menggunakan uap bertekanan tinggi yang dihasilkan dari ruang bakar berbahan bakar padat, gas yang memuai didalam tabung peluncuran menekan rudal keatas, dan keluar dari kapal selam. Dalam hitungan detik, rudal menembus permukaan air dan subsistem thrust vector control (TVC) pada stage pertama diaktifkan secara otomatis, pada saat itu rudal telah berada kira-kira 10 meter (33 kaki) diatas kapal selam, hal ini memungkinkan aktuator hidrolik untuk menempel pada nozzle stage pertama. Tak lama kemudian, motor stage pertama menyala dan terbakar selama 65 detik hingga kehabisan bahan bakar, selain itu, aerospike yang terletak pada nozzle dikembangkan sesaat setelah stage pertama menyala untuk membentuk aliran udara yang diperlukan. Ketika motor stage pertama kehabisan bahan bakar, subsistem TVC pada stage dua diaktifkan. Motor stage pertama dilepaskan dari rudal menggunakan peledak di penghubung interstage. Setelah stage pertama dilepaskan, motor stage kedua menyala dan terbakar selama 65 detik. Nose fairing (bagian hidung roket) dilontarkan, berpisah dari rudal. Saat nose fairing berpisah dari rudal, giliran subsistem TVC stage ketika yang aktif, dan akhirnya peledak memisahkan motor stage kedua dari rudal. Lalu, motor stage ketiga dinyalakan, mendorong rudal selama 40 detik. Ketika motor stage ketiga kehabisan bahan bakar, Post Boost Control System (PBCS) menyala, dan motor stage ketiga dilepaskan.

Bagaimana cara SLBM mencapai sasaran? UGM-133 Trident II menggunakan stellar-inertial atau astro-inertial navigation. Sistem navigasi ini menggunakan letak bintang untuk menambah akurasi sistem pemandu inertial setelah peluncuran. Dikarenakan akurasi rudal bergantung pada pengetahuan sistem navigasi akan lokasi tepat rudal tersebut saat terbang, fakta bahwa bintang merupakan titik rujukan tetap untuk menentukan posisi rudal membuat sistem ini sangat efektif untuk menambah akurasi. Pada rudal Trident, sistem ini bekerja dengan menggunakan satu kamera yang dibuat untuk mencari satu bintang tertentu di lokasi yang telah diperkirakan. Bila rudal sedikit melenceng dari titik rujukan bintang tersebut, maka hal ini mengindikasikan bahwa sistem panduan inertial tidak berada tepat pada sasaran dan koreksi pada lintasan rudal harus segera dilakukan.

Equipment section, bersamaan dengan MIRV, mengarahkan reentry vehicles (RV) menuju Bumi. RV lalu dilepas dari platform MIRV. Untuk mencegah daya dorong PBCS menggangu pelepasan RV, equipment section melakukan Plume Avoidance Maneuver (PAM). Bila RV terganggu oleh daya dorong dari nozzle PBCS, nozzle tersebut akan dimatikan hingga RV telah berada cukup jauh dari MIRV. PAM hanya digunakan saat nozzle menggangu area disekitar RV. PAM merupakan fitur tambahan pada Trident II yang dipasang untuk menambah akurasi. Tingkat akurasi yang tinggi pada Trident II hanya memungkinkan rudal ini untuk melenceng sejauh 90 meter dari sasaran, menjadikan Trident II sebagai salah satu SLBM paling akurat saat ini. Sebagai perbandingan, RSM-56 Bulava milik Rusia dapat melenceng sejauh 350 meter, SLBM milik Rusia lainnya, R-29RMU Sineva dapat melenceng sejauh 500 meter. Meskipun ICBM RS-28 Sarmat yang sedang dikembangkan oleh Rusia memiliki akurasi hingga hanya mentolerir pelencengan sejauh 16 meter, rudal ini tidak dapat diluncurkan dari kapal selam sehingga tidak masuk kategori SLBM. Trident II mampu mencapai kecepatan hingga Mach 24 pada terminal phase. SLBM milik Perancis, M51 bahkan dapat mencapai kecepatan Mach 25. Kini, beberapa SLBM Rusia yang telah pensiun dikonversi menjadi roket peluncur satelit Volna dan Shtil', baik untuk diluncurkan dari kapal selam maupun dari stasiun peluncuran di darat.

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon