Rabu, 04 Oktober 2017

Perang Emu, ketika tentara dibuat kewalahan menghadapi burung emu


Setelah Perang Dunia I usai pada 1918, para veteran perang dari angkatan bersenjata Australia kesulitan mencari lapangan pekerjaan. Menanggapi hal ini pemerintah Australia lantas membagikan tanah yang berada di barat Australia kepada para veteran perang ini supaya mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup dengan bertani. Namun di tahun 1932 para petani ini mendapat masalah karena sekitar 20.000 burung Emu (Dromaius novaehollandiae) menyerang ladang-ladang mereka.

Para petani yang kesal pun melaporkan kejadian ini ke Kementrian Pertahanan Australia, untuk menangani masalah emu ini akhirnya Menteri Pertahanan, Sir George Pearce pun turun tangan dengan mengerahkan tentara Australia untuk mengusir burung emu dari ladang para petani. Pasukan dari 7th Heavy Battery dari pasukan artileri Australia dibawah pimpinan Mayor G.P.W Meredith ditugaskan untuk memburu para burung ini dengan hanya dilengkapi oleh 2 senapan mesin Lewis dan 10.000  amunisi.

Perburuan pun dimulai pada 2 November 1932, terlihat 50 ekor emu di ladang yang berada di Distrik Campion, Meredith dan pasukannya pun berangkat ke lokasi terlihatnya emu itu. Ketika serangan kejutan dilancarkan burung-burung emu itu berpencar dan berlari membentuk kelompok kecil, karena emu yang berpencar dan terus berlari tentara Australia sangat kesulitan untuk menembak tepat sasaran sehingga hanya beberapa ekor saja yang berhasil dibunuh.

Pada tanggal 4 November 1932, prajurit Australia menyergap sekitar 1000 ekor burung emu, sialnya ketika tembakan dilepaskan tiba-tiba senjata yang digunakan tentara Australia macet dan mereka hanya berhasil membunuh 12 ekor emu, sementara sisanya berhasil melarikan diri. Pada tanggal 8 November, Komandan Utama Operasi Mayor Meredith menyadari musuh mereka lebih cepat dan lebih lihai daripada bayangan awal mereka, sekarang, mereka kini tidak lagi mencoba taktik penyergapan statis,karena hasil yang buruk sebelumnya, Mayor memutuskan untuk menempatkan senapan mesin di bagian belakang truk dan mencoba untuk mengejar Emu sambil menembakan senjata mereka pada waktu yang bersamaan.

Namun, ini lebih mudah untuk dikatakan daripada dilakukan, di satu sisi, truk harus menerjang medan off-road yang bergelombang naik turun yang berarti peluru yang ditembakkan tidak akan stabil, juga para penembak Lewis machinegun harus memegangi senjata mereka di saat yang bersamaan dengan satu tangan, dan situasi yang tidak stabil akan lebih mengguncang senapan ketika ditembakan, dan sebagai hasilnya, tidak ada Emu yang terbunuh pada hari itu. Setelah menghabiskan lebih dari 2.500 butir amunisi dengan kurang dari 200 ekor emu yang berhasil dibunuh. Mayor Meredith berencana untuk membatalkan seluruh operasi perang.

Setelah pasukan Australia ditarik mundur, invasi emu terhadap ladang para petani tetap berlanjut. Para petani ini pun kembali menyampaikan keluhannya kepada pemerintah Australia sehingga militer Australia kembali dikerahkan untuk menumpas burung nakal ini. Pada 13 November operasi perburuan emu dimulai dan operasi ini berjalan lebih sukses daripada operasi sebelumnya. Pada 2 hari pertama 40 emu terbunuh dan setiap minggu mereka berhasil membunuh 100 ekor emu sampai tanggal 2 Desember, Mayor Meredith pun dipanggil kembali ke markas besar dan operasi perburuan emu pun diakhiri.

Meskipun operasi kedua berjalan lebih sukses namun prajurit Australia gagal untuk memenuhi tujuan utama mereka untuk menumpas seluruh emu yang menyerang ladang petani Australia, faktor kesulitan tentara Australia dalam memburu emu adalah "taktik perang" burung emu yang berlarian ke segala arah dan berpencar sehingga tentara Australia kesulitan dalam menembak tepat sasaran. Pada tahun 1934, 1943, dan 1948 para petani ini kembali mengeluhkan tentang sekelompok burung emu yang sering menyerang ladang mereka. Ternyata mengalahkan emu tidak semudah yang prajurit Australia kira, bahkan pemimpin perburuan emu, Mayor Meredith mengungkapkan situasi yang dihadapinya ketika berhadapan dengan emu

"If we had a military division with the bullet-carrying capacity of these birds it would face any army in the world...They can face machine guns with the invulnerability of tanks. They are like Zulus whom even dum-dum bullet could not stop"
-Mayor Meredith

Sumber: OA Line Historypedia 

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon