Senin, 09 Oktober 2017

Ketika Raffles Merebut Kraton Yogyakarta

Stamford Raffles. Seorang pegawai dari East India Company yang diperintahkan untuk berkuasa atas wilayah jajahan Belanda yang telah direbut Inggris pada September 1811. Orang banyak mengingat jasa-jasanya dalam biologi dan budaya, tetapi sedikit catatan sejarah mengenai apa yang sebenarnya ia lakukan di Indonesia selama kurang lebih 5 tahun.

Akan tetapi, Raffles bukanlah seorang "pahlawan" yang serta merta melakukan hal-hal baik bagi Indonesia. Ia menyerang Kraton Jogjakarta, merebut Palembang, merebut Pulau Bangka dan menyebabkan kekacauan dengan sistem sewa tanah miliknya. Akan tetapi, dalam post ini saya akan membahas secara khusus mengenai serangan Inggris pada Kraton Yogyakarta.


> Latar Belakang
Beberapa bulan setelah direbutnya jajahan Belanda dan, secara tidak langsung, Perancis oleh Inggris, administrasi Inggris menemukan korespondensi antara Susuhunan Surakarta dan Sultan Yogyakarta. Sang Susuhunan mencoba untuk mempengaruhi Sultan agar memberontak melawan Inggris.

Anehnya, Raffles memutuskan untuk menyerang Yogyakarta, bukan Surakarta, padahal jelas bahwa sang Susuhunan yang memulai korespondensi ini. Mungkin saja keputusan ini dipengaruhi oleh wilayah dan pengaruh Yogyakarta yang lebih besar. Apapun itu, pada 17 Juni 1812, pasukan Inggris sampai di benteng lama Belanda di Yogayakarta.

Pasukan Inggris hanya berjumlah 1200 orang, campuran antara prajurit Inggris dan sepoy India, sementara pasukan Kraton berjumlah 11 ribu orang. Akan tetapi, pasukan Kraton juga memiliki meriam dan senapan, walaupun jumlah meriam milik Kraton lebih sedikit dan tak sebagus milik Inggris.

Dengan sampainya seribu dua ratus pasukan Inggris di bawah komando Rollo Gillespie, pertempuran antara dua kerajaan yang terpisah beberapa ribu kilometer jauhnya akan dimulai.


> Pertempuran
Pada 17 Juni, pasukan Inggris sampai dan membombardir Kraton dari benteng Belanda itu. Pasukan Kraton juga balas menembak menggunakan meriam-meriam miliknya. Selama tiga hari, tembak-menembak antara pasukan-pasukan ini terjadi.

Pada hari yang keempat, pada 20 Juni, pasukan Inggris berhenti menembak dan menyerang secara tiba-tiba, dengan Gillespie sebagai pemimpin serangan dan Raffles yang menjaga benteng Belanda.

Sebelum serangan Inggris sampai pada dinding-dinding Kraton, keadaan di dalam Kraton sudah kacau. Walau Belanda telah berurusan dengan orang Jawa selama lebih dari berpuluh-puluh tahun, permasalahan selalu berakhir dengan perjanjian dan pakta, bukan dengan peperangan.

Serangan tersebut terbukti ampuh. Walau pada awalnya pasukan Kraton dapat menahan serangan Inggris, ketika redcoat Inggris dan sepoy India memasuki dinding Kraton, perlawanan dari pasukan Kraton pun hilang dan kekacauan merebak.

Sang pangeran, anak dari sang Sultan, ditemukan meringkuk di pintu gerbang Taman Sari yang digembok. Beberapa pasukan Kraton bertahan dalam masjid Kraton dan seorang prajurit Kraton berhasil melukai Gillespie sendiri, walau setelah itu si prajurit tersebut tertembak dikepalanya, atau menurut Gillespie, "kepalanya meletus".

Pertahanan di masjid tersebut dibungkam dengan beberapa tembakan meriam dan pasukan Inggris memasuki Kraton Dalam dan menagkap sang Sultan, menggiringnya melalui Alun-Alun, membawanya ke benteng Belanda dan memasukkannya ke sebuah ruangan di belakang benteng.


> Dampak-dampak
Terhitung 23 pasukan Inggris dan India meninggal dan 76 lainnya terluka, sementara beribu-ribu orang Jawa meninggal. Tentu saja, setelah kemenangan tersebut, penjarahan massal dimulai, oleh prajurit Inggris dan India.

Setidaknya 20 ribu pound berbentuk emas, perhiasan dan barang berharga lainnya dijarah, atau sekitar satu juta dollar dalam mata uang sekarang. Untungnya, emas dan perhiasan Kraton selamat dan dikembalikan kepada sang pangeran dan hampir tak ada pemerkosaan* yang terjadi, walau cukup banyak manuskrip dan catatan berharga dalam Kraton diambil Raffles dan dibawa ke Inggris.

Sang pangeran dimahkotai sebagai Sultan Hamengkubuwono III di benteng Belanda, bukan di Kraton, dan sebuah perjanjian ditulis mengenai pengakuan Yogyakrta atas "supremasi Pemerintah Inggris atas Pulau Jawa".

Sultan yang lama, Hamengkubuwono II**, diasingkan ke Penang, dan salah satu dari saudaranya yang bernama Notokusumo berpihak pada Inggris, sehingga ia diberikan kekuasaan atas tiga ribu rumah tangga, bagaikan sebuah kerajaan dalam kerajaan, dan diberikan nama "Pakualam". Raffles pun kembali ke pesisir utara Jawa pada 23 Juni.

Menurut Raffles, “The blow which has been struck at Djocjo Carta has afforded so decisive a proof to the Native Inhabitants of Java of the strength and determination of the British Government, that they now for the first time know their relative situation and importance. The European power is now for the first time paramount in Java.”

Apabila saya simpulkan, Raffles kurang lebih menulis, "Pukulan yang diberikan di 'Djocjo Carta' menjadi bukti pada orang asli Jawa atas kekuatan Pemerintah Inggris. Kekuatan Eropa di Jawa menjadi tak tertandingi."

Diponegoro, anak dari Sultan Hamengkubuwono III, akan memberontak pada tahun 1820an, melawan Belanda. Pada saat serangan di tahun 1812 ini, ia berusia 26 tahun. Sudah pasti serangan Inggris ini berdampak pada persepsi Diponegoro mengenai orang Eropa.


> Sumber OA Historypedia Line

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon