Rabu, 27 September 2017

Sparta, Athena, dan Runtuhnya Yunani Kuno

Apabila kita ditanya mengenai Yunani Kuno, tentu saja kita mengingat dua hal yaitu Sparta dan Athena. Sparta dikenal sebagai tentara yang tak terkalahkan dan Athena sebagai tempat lahirnya sistem demokrasi. Memang pada masa Yunani Kuno, Sparta dan Athena merupakan dua kekuatan utama di Yunani sampai penaklukan Aleksander Agung dari Yunani hingga Persia.

Sejak dibuatnya sistem militer yang tangguh oleh Lycurgus pada tahun 776 SM, Sparta berhasil menguasai daerah Semenanjung Peloponnesos (barat daya Yunani). Sparta menjadi diakui sebagai negara kota (polis) terkuat dan diakui sebagai pemimpin bangsa Yunani. Sparta sudah sepantasnya memimpin perjuangan kemerdekaan melawan penjajah Persia sebanyak dua kali.

Namun, polis Athena yang berkembang pesat dengan sistem demokrasi dan perdagangan bebasnya. Athena berhasil mengalahkan tentara Persia dengan taktik inovatif yaitu melemahkan bagian tengah untuk mengepung tentara Persia di Marathon pada tahun 490 SM. Tentara Sparta terlambat datang karena harus merayakan tradisi keagamaan yang melarang berperang selama satu minggu.

Sepuluh tahun kemudian, Raja Leonidas mengorbankan dirinya dan 300 prajurit terbaik Sparta untuk mengulur waktu dalam beberapa hari selama tentaranya dan polis-polis Yunani mempersiapkan tentaranya. Pemimpin Athena, Themistocles, menerima ramalan untuk membangun ‘tembok kayu’ untuk mengalahkan tentara Persia yang sangat banyak. Sparta membangun tembok untuk melindungi diri, sedangkan Athena menafsirkan lain dengan membangun angkatan laut yang sangat kuat. Angkatan Laut Athena berhasil menghancurkan kapal-kapal tentara Persia di Teluk Salamis.

Angkatan laut yang sangat kuat ini juga dapat digunakan sebagai kapal dagang. Dominasi perdagangan laut Athena di Yunani menciptakan kekayaan yang berlimpah. Athena menggunakannya untuk ‘menyogok’ berbagai kota mitra dagang untuk bergabung membentuk Liga Delos (Delian League). Hal ini menandakan bahwa kekuatan Sparta sudah dapat ditandingi oleh Athena.

Ketakutan Sparta akan kehilangan statusnya sebagai pemimpin bangsa Yunani dan arogansi Athena yang sedang naik daun membuat hubungan mereka menjadi panas. Sedikit gesekan dan kesalahpahaman saja dapat memicu perang besar-besaran di seluruh Yunani. Hal ini terbukti dengan dikeluarkannya dekrit Megara oleh Athena. Megara hanyalah polis kecil yang beraliansi dengan Sparta, namun perdagangannya dikuasai oleh Athena. Hal ini menyebabkan ekonomi Megara jatuh dan Megara memprotesnya kepada Sparta. Negosiasi untuk mencegah perpecahan pun gagal karena arogansi kedua belah pihak. Perang Pelloponesos pun dimulai pada tahun 431 SM.

Kekuatan yang berbeda antara Athena dan Sparta membuat pertempuran berlangsung alot dan lama. Sparta yang kuat dalam angkatan darat tak mampu menembus tembok kota Athena, sedangkan Athena yang kuat dalam angkatan laut tak mampu menyerang wilayah pusat Sparta di tengah daratan. Salah satu kejadian yang mengejutkan adalah Pertempuran Pylos dan Sphacteria. 292 tentara Sparta yang saat dikepung seharusnya berjuang hingga titik darah penghabisan seperti pendahulu mereka melainkan memutuskan untuk menyerahkan diri.

Perang terus berlanjut hingga Sparta dan sekutunya, berhasil membangun angkatan laut yang dengan pimpinan Lysander berhasil menghancurkan angkatan laut Athena di Aegospotami pada tahun 405 SM. Usaha membangun angkatan laut Sparta ini dibantu oleh pundi-pundi emas dari Persia yang menganut strategi devide et impera. Pada akhirnya, Athena berhasil dikalahkan setahun kemudian dan berlawanan dengan kemauan sekutu terbesarnya (Thebes dan Korintus) untuk menghancurkan kota Athena, Sparta hanya membuatnya tunduk.

Hegemoni Sparta tidak berlangsung lama. Ketidaksukaan sekutu Sparta terhadap kebijakannya yang terlalu mendominasi dan imperialis, perang kembali pecah namun berhasil dipadamkan. Ironi terbesarnya adalah perdamaian dimediasi dan ditegakkan oleh Raja Persia, Artaxerxes II (King’s Peace atau Peace of Antalcidas) pada tahun 387 SM. Sparta yang seharusnya menjadi pelindung bangsa Yunani dari serangan lawan menjadi boneka dari musuhnya sendiri.

Perang Pelopponesos yang berlangsung 27 tahun ini menandakan akhir dari kejayaan kebudayaan Yunani Kuno. Perang ini telah menghancurkan hampir seluruh lahan pertanian, berbagai bangunan kebudayaan, dan membunuh ribuan rakyat yang dapat menjadi ilmuwan, filsuf, dan budayawan. Jumlah pasukan elit Sparta merosot dari 5,000 tentara pada masa Leonidas menjadi 2,800 tentara pada Pertempuran Mantineia pada pertengahan perang hingga 700 tentara pada Pertempuran Leuctra di mana kekuasaan Sparta akhirnya tunduk di tangan kota Thebes pada tahun 371 SM.

Tak sampai 80 tahun kemudian, seluruh Yunani berhasil dikuasai oleh Aleksander Agung dari Makedonia yang tidak dianggap sebagai bangsa Yunani sepenuhnya.


Oleh: Stephen Halim
Sumber:
Campbell,  Duncan. Warrior 163: Spartan Warrior 735-331 BC.
De Souza, Phillip. Essential Histories 027: The Peloponnesian War 431-407 BC.

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon