Minggu, 24 September 2017

Pertempuran Pelusium, Pertempuran yang Ditentukan oleh Kucing

Loading...

Pertempuran Pelusium adalah salah satu pertempuran yang penting nan unik dalam sejarah yang terjadi pada tahun 525 sebelum masehi, dimana Mesir dikalahkan oleh Persia, dan Persia menjadi penguasa baru di Mesir. Pertempuran ini dikenal sebagai salah satu pertempuran di zaman kuno yang menggunakan perang psikologi dengan menggunakan Kucing.

   Kucing adalah hewan populer di kalangan masyarakat Mesir Kuno dan diasosiasikan dengan dewi Bastet (juga dikenal dengan Bast) yang muncul di kebudayaan sebagai dewi bertubuh wanita dan berkepala kucing. Dewi Bastet adalah Dewi Rumah Tangga, rahasia wanita, kesuburan, dan kelahiran.

   Saking cintanya rakyat Mesir Kuno terharap kucing,  jika Anda ketahuan melukai atau bahkan membunuh kucing, tamatlah riwayat Anda, karena mereka yang melukai/membunuh kucing akan dihukum mati. Seperti yag dilaporkan Herodotus, orang Mesir yang terjebak di bangunan yang terbakar, akan menyelamatkan kucingnya terlebih dahulu sebelum menyelamatkan diri dan memadamkan apinya.

   Balik lagi ke topik, Pelusium adalah kota penting Mesir yang terletak ditimur delta sungai Nil. Di masa kuno, kota ini adalah gerbang dari Timur ke Mesir. Dari sudut pandang militer, jika ingin menguasai Mesir tentunya harus menguasai kota ini terlebih dahulu.

   Alasan dari Persia untuk menginvasi Mesir, berdasarkan sumber dari Herodotus adalah karena sang raja,  Cambyses II marah setelah menemukan fakta bahwa dirinya telah tertipu oleh penguasa Mesir, Amasis. Cambyses II sebelumnya meminta anak perempuan Amasis untuk dinikahkan dengannya. Menduga bahwa putrinya hanya akan dijadikan selirnya, Raja Amasis enggan menyerahkan putrinya. Namun karena Ia juga takut akan kekuatan dari Kerajaan Persia yang dipimpin Cambyses II , Amasis mengirimkan Nitetis, putri dari penguasa Mesir sebelumnya yang disamarkan sebagai putrinya. Tidak disangka, Nietis malah memberitahu kelicikan Amasis kepada Cambyses.
t e r t i p o e, Cambyses II murka dan memutuskan untuk menyerang Kerajaan Mesir.

   Sebelum memulai invasinya, Raja Cambyses II menghimpun pasukan dalam jumlah besar, mengumpulkan para sekutunya, dan membuat persetujuan dengan orang-orang Arab untuk menyuplai air selama pasukannya melintasi gurun Sinai. Ketika Cambyses II tiba di kota Pelusium, Amasis telah mati dan digantikan oleh anaknya Psammenitus (Psamtek III).

   Tidak banyak detail mengenai jalannya pertempuran. Herodotus mengatakan pertempuran berjalan dengan sengit, kedua belah pihak menderita korban yang banyak, tapi di akhir pertempuran Bangsa Mesir bisa dikalahkan. Para sejarahwan mengatakan bahwa Persia tetap akan menang tanpa menghiraukan taktik yang digunakan berkat pengalaman militer yang mumpuni dari Raja Cambyses II ketimbang sang Pharaoh muda Psametik III dan Militer Persia yang jauh lebih kuat, dilengkapi dengan baik dan berpengalaman. Selain itu pasukan bayaran Yunani yang berada dipihak Mesir, pergi meninggalkan mereka dan malah bergabung dengan pasukan Persia. Sang penasehat militer kerajaan Mesir, Phanes dari Halicarnassus juga bergabung dengan Persia. Sang Pharaoh muda terpaksa mempersiapkan sendiri pertahanan kerajaannya.

Loading...
   Psametik III memperkuat posisinya di Pelusium, dekat dengan mulut sungai Nil, dan menunggu serangan Persia sembari mempekuat ibukotanya di Memphis. Benteng Pelusium adalah benteng yang kuat dan memiliki perbekalan yang baik untuk menahan serangan musuh. Pasukan Mesir berhasil menghalau beberapa serangan awal yang dilancarkan Persia.

   Mengetahui pasukannya dipukul mundur, Raja Cambyses II tiba-tiba mengubah taktiknya. Sang Raja Persia mengetahui bahwa Mesir memuja dan menyayabgi kucing dengan simbolnya yaitu Dewi Bastet. Cambyses II menyuruh pasukannya menggambar kucing di perisainya, dan dalam pertempurannya sendiri , membawa banyak kucing serta hewan-hewan lain seperti anjing dan hewan apapun yang dianggap keramat. Beberapa sumber bahkan mengatakan bahwa pasukan Persia mengikat kucing hidup di perisainya.

   Taktik absurb nan gila ini ternyata berhasil dengan sangat baik. Bangsa Mesir melihat hewan-hewan kesayangannya dijadikan tameng hidup lebih memilih menyerah daripada melukai hewan-hewan keramatnya. Sebagian memilih mundur ke ibukotanya di Memphis, sembari dikejar dan dibantai selama perjalanan. Mereka yang selamat dari Peluseum memperkuat posisinya di Memphis, namun akhirnya dikepung dan jatuh ke tangan Persia. Psametik III dijadikan tawanan dan diperlakukan dengan baik oleh Cambyses II hingga dirinya mencoba untuk memberontak  dan dieksekusi.

   Setelah pertempuran, dikatakan bahwa Cambyses II melempar kucing-kucing ke muka pasukan Mesir yang telah kalah. Ia juga mencaci mereka yang lebih memilih menyerah dan melepaskan kemerdekaan mereka demi keselamatan kucing-kucing tersebut. Walaupun begitu , penolakan bangsa Mesir untuk bertarung demi kepercayaan mereka (dalam hal ini untuk tidak melukai  kucing) – apapun bayarannnya- menunjukkan betapa luar biasanya pengabdian dan kebudayaan Bangsa Mesir.

OA Line Historypedia

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon