Senin, 25 September 2017

Perang Enam Hari: Kemenangan Israel


Perang Enam Hari adalah konflik bersenjata antara Israel melawan Mesir, Suriah, dan Yordania yang terjadi antara tanggal 5 - 10 Juni 1967. Perang ini berhasil dimenangkan oleh Israel dan Israel mendapatkan banyak wilayah dari negara lawannya. Awal mula konflik ini dapat dilihat dari tahun 1948 dimana para pemukim yahudi di Palestina mendeklarasikan berdirinya negara Israel. Deklarasi ini pun diakui oleh negara-negara besar seperti AS dan Uni Soviet, namun berbeda dengan negara-negara Arab yang tidak mau mengakui kedaulatan Israel karena Israel merdeka ketika sengketa antara penduduk Arab dan Yahudi di Palestina belum terselesaikan.

Penolakan ini pun berujung pada diadakannya invasi terhadap Israel yang dilakukan oleh koalisi negara-negara Arab pada 1948. Perang hanya berlangsung setahun, meskipun perang telah berakhir namun permasalahan antara penduduk arab Palestina dan Israel belum terselesaikan. Akhirnya para penduduk arab Palestina pun mengadakan serangan gerilya terhadap wilayah Israel dan banyak dari gerilyawan ini yang menjadikan negara tetangga seperti Suriah, Yordania, dan Mesir sebagai markas mereka.

Geram atas serangan yang dilakukan gerilyawan Palestina, Israel pun melancarkan serangan ke markas gerilyawan di desa As Samu yang berada di wilayah Yordania pada 1966. Serangan ini pun memancing kemarahan dari pemerintah Yordania karena serangan Israel tersebut juga mengenai warga sipi Yordania. Selain dari Yordania, gerilyawan Palestina yang bermarkas di Suriah juga melancarkan serangan mereka terhadap Israel. Menanggapi hal ini pemerintah Israel mengancam Suriah akan mengambil langkah militer jika Suriah tetap membantu gerakan gerilya Palestina.

Sesudah keluarnya ancaman itu, Suriah segera memperingatkan Mesir kalau Suriah akan diserang oleh Israel. Karena sebelumnya Suriah dan Mesir menyepakati perjanjian militer dimana kedua negara akan saling membantu jika salah satu dari mereka diserang maka Mesir segera melakukan mobilisasi dan menempatkan pasukannya di Semenanjung Sinai. Selain karena memiliki hubungan aliansi dengan Suriah, alasan Mesir ikut membantu perang terhadap Israel karena Mesir masih dendam kepada Israel karena Israel bersama Inggris dan Prancis pernah menyerang wilayah Mesir ketika tengah terjadi krisis atas kepemilikan Terusan Suez pada 1956.


Mesir vs Israel
Pada bulan Mei 1967, Mesir melarang kapal-kapal Israel untuk beroperasi di Selat Tiran yang terletak antara Sinai dan Arab Saudi. Khawatir dengan situasi ini akhirnya pada bulan Juni 1967 pemerintah Israel memulai serangan terhadap Mesir dengan harapan dapat melumpuhkan militer negara tersebut. Akhirnya perang dimulai pada 5 Juni 1967 ketika pesawat tempur Israel mengadakan serangan udara besar-besaran yang menargetkan lapangan udara Mesir. Akibat dari serangan ini Mesir kehilangan lebih dari 300 pesawat tempurnya. Masih di hari yang sama pasukan darat Israel menyerang wilayah Mesir dari Sinai Utara dan Selatan.

Pasukan Israel pun menyerang pasukan Mesir yang terkonsentrasi di Abu-Ageila. Penyerangan ini berjalan mulus karena sebelumnya pasukan penerjung payung Israel telah menyabotase artileri milik Mesir. Setelah bertempur selama 3,5 hari pasukan Israel berhasil menduduki Abu-Ageila. Akhirnya pada tanggal 8 Juni 1967, Israel sukses menaklukan wilayah Semenanjung Sinai.

Suriah vs Israel
Kesalahan informasi yang diterima Suriah yang berisi bahwa Mesir berhasil mengalahkan Israel dan bersiap menyerang ibukota Israel di Tel Aviv, membuat Suriah ikut terjun ke medan perang. Suriah membuka serangannya dengan melancarkan serangan udara terhadap pemukiman Israel di Galilea. Pesawat tempur Israel berhasil mencegat dan berhasil menjatuhkan 3 pesawat tempur Suriah. Pada 5 Juni 1967 Israel membalas dengan mengadakan udara besar-besaran. Pangkalan udara dan 30 pesawat tempur Suriah berhasil dihancurkan oleh AU Israel. Setelah melewati 5 hari pertempuran, Suriah mengajukan tawaran gencatan senjata namun ditolak oleh Israel setelah mendapatkan informasi dari intelejen Israel akhirnya pada tanggal 9 Juni 1967 pasukan Israel menyerang Dataran Tinggi Golan yang berada di perbatasan Israel-Suriah.

Setelah diawali dengan serangan udara yang menghancurkan gudang logistik dan meriam milik Suriah, pasukan darat Israel menembus pertahanan yang dibangun oleh pasukan Suriah. Meskipun dihadapkan oleh medan pegunungan yang sulit, tentara Israel masih bisa menunjukan superioritasnya. Pasukan Israel terus bergerak kedalam wilayah Suriah sementara pasukan Suriah hanya bisa sesekali menahan serangan Israel dan mundur. Akhirnya pada 10 Juni 1967, Israel berhasil menguasai Dataran Tinggi Golan dan perang dengan Suriah pun berakhir dengan kemenangan Israel.

Israel vs Yordania
Tanggal 5 Juni 1967, pasukan Yordania mulai membombardir wilayah timur Israel dengan tembakan artileri. Hujan tembakan artileri tersebut lalu diikuti oleh serangan udara oleh pasukan Yordania. Israel lantas membalas serangan-serangan tersebut dengan serangkaian serangan udara & tembakan misil darat yang sukses menghancurkan beberapa pesawat tempur & stasiun radar milik Yordania.

Pada sore hari tanggal 5 Juni 1967, pasukan Israel bergerak untuk merebut Yerusalem. Meski awalnya mendapat kesulitan karena bertempur dengan pasukan Yordania yang lebih terlatih, berkat kombinasi serangan AD dan AU Israel, pertahanan Yordania sukses ditembus pada 7 Juni 1967 dan pasukan Israel sukses memasuki wilayah timur Yerusalem. Di sekitar Yerusalem masih berlangsung pertempuran sengit antar kedua pihak.

Awalnya Yordania mampu menahan serangan pasukan Israel dan berhasil menghancurkan kendaraan tempur Israel. Namun serangan udara yang dilancarkan Israel selama 2 jam mampu menghancurkan pasukan Yordania. Akhirnya Yordania menarik pasukannya dan wilayah Tepi Barat dikuasai oleh Israel.

Pasca Perang
Kesuksesan Israel mengalahkan tiga negara tetangganya membuat Israel keluar sebagai pemenang Perang 6 Hari. Dalam perang ini korban jiwa dari negara-negara Arab cukup banyak Mesir kehilangan 15.000 tentaranya, Yordania kehilangan 6.000 tentaranya, sementara Suriah kehilangan 2.500 tentaranya. Berbeda dengan lawan mereka, Israel yang kehilangan 900 tentaranya.

Faktor penyebab kemenangan Israel atas negara-negara Arab lawannya adalah superioritas pesawat tempur Israel atas pesawat tempur negara-negara Arab ditambah data intelejen yang diperoleh dari agen Israel. Selain itu kurangnya kordinasi dan semangat tempur pasukan Mesir, Suriah, dan Yordania juga berpengaruh terhadap hasil perang.

Wilayah Israel bertambah luas akibat dari keberhasilannya menguasai wilayah negara-negara tetangganya selama perang. Di sebelah selatan, mereka mendapatkan Semenanjung Sinai &
Jalur Gaza dari Mesir. Sementara di sebelah timur, mereka mendapatkan Tepi Barat dari Yordania & Dataran Tinggi Golan dari Suriah.

Kekalahan yang diderita negara-negara Arab tidak membuat mereka berhenti untuk memerangi Israel. Sebulan sejak perang berakhir Mesir dan Yordania terlibat perang kecil-kecilan dengan Israel hingga tahun 1970. Memasuki tahun 1973, Mesir dan Suriah kembali terlibat perang besar dengan Israel di Perang Yom Kippur. Perang pun berakhir dengan disepakatinya gencatan senjata dan Mesir kembali mendapatkan wilayah Sinai melalui Perjanjian Camp David, dan hingga saat ini konflik antara Israel dan Palestina terus berlanjut.

-Wellesley/Wellington
Sumber: OA Line Historypedia

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon