Sabtu, 15 Juli 2017

Perang Paraguay (1864-1870)

Perang Paraguay adalah perang yang terjadi antara Paraguay melawan aliansi Argentina, Brazil, Uruguay, perang ini juga disebut War of Triple Alliance karena Argentina, Brazil, Uruguay menyepakati Treaty of Triple Alliance untuk bersama melawan Paraguay. Perang Paraguay berlangsung dari 1864-1870 dan perang ini jadi konflik paling berdarah sepanjang sejarah Amerika Latin karena jumlah korban yang sangat banyak (440.000 jiwa).

Sebab utama dari perang ini adalah situasi politik di Uruguay, di negara itu terdapat 2 partai politik dominan yaitu Partai Blanco yang dekat dengan Paraguay dan Partai Colorado yang disokong Brazil, Argentina. Persaingan kedua partai yang terus berlanjut ditambah intervensi Brazil dan Argentina di urusan politik Uruguay membuat pemerintah Paraguay khawatir terlebih lagi setelah Brazil melakukan invasi ke Uruguay tahun 1864 yang sekaligus menumbangkan pemerintah Partai Blanco dan digantikan oleh Partai Colorado membuat geram Paraguay, akhirnya Fransisco Solano Lopez, presiden Paraguay mendeklarasikan perang ke pihak Brazil, perang pun pecah bulan Oktober 1864.

Paraguay pun langsung melancarkan offensive ke Brazil dengan menyerang Mato Grosso bulan desember 1864 dan Rio Grande do Sul diawal tahun 1865, Paraguay meminta izin ke Argentina untuk memakai wilayahnya supaya mempermudah serangan ke Rio Grande do Sul namun Argentina menolak memberi izin, akhirnya Paraguay juga mendeklarasikan perang ke Argentina dan langsung menyerang Corrientes, Argentina.

Mei 1865 pemerintah Brazil, Argentina, Uruguay mengadakan pertemuan rahasia dan menyepakati  Treaty of Triple Alliance yang isinya ketiga negara itu sepakat untuk bersama melawan Paraguay sampai presiden Lopez lengser atau terbunuh. Dengan disepakatinya Treaty of Triple Alliance, Paraguay harus berhadapan dengan 3 negara sekaligus. Akhir bulan Mei pasukan aliansi berhasil merebut kembali Corrientes. Di front laut AL Brazil meraih kemenangan dengan mengalahkan armada Paraguay di Pertempuran Riachuelo dibulan Juni 1865. Setelah gagal menyerang Argentina, Paraguay juga mengalami kegagalan saat menyerang Uruguay setelah dikalahkan pasukan aliansi di Pertempura Yatay.

Kekalahan yang dialami Paraguay dimanfaatkan pihak aliansi untuk melancarkan serangan balik menginvasi Paraguay. 16 April 1866 pasukan aliansi mengadakan invasi ke Paraguay dengan menyebrangi sungai Parana, Paraguay mencoba sekuat tenaga untuk menahan pergerakan pasukan aliansi dan berhasil memenangkan beberapa pertempuran namun tidak sampai menghentikan invasi pasukan aliansi. Lopez pun berupaya menghancurkan pasukan aliansi dengan mengadakan serangan balik besar-besaran, 35000 pasukan aliansi dan 25000 pasukan Paraguay bertemu di Pertempuran Tuyuti, pertempuran paling berdarah dalam sejarah Amerika Latin namun lagi-lagi kekalahan menimpa Paraguay setelah mendapat perlawanan keras dari pasukan aliansi dan gempuran meriam Brazil.

September 1866, setelah ditimpa sial lagi di Pertempuran Curuzu, Lopez mengundang presiden Argentina, Bartolomè Mitre untuk menawarkan gencatan senjata, namun Mitre menolak permintaan Lopez karena pihak aliansi akan mengakhiri perang jika poin dari Treaty of Triple Alliance terpenuhi jadi satu satunya... atau dua duanya cara untuk mengakhiri perang adalah Presiden Lopez harus turun jabatan atau harus mati.

Akhir tahun 1866, kondisi pasukan Aliansi mulai mengalami penurunan setelah muncul pemberontakan di Argentina pada bulan November 1866, menularnya wabah kolera di kubu pasukan Aliansi pada bulan Maret 1867, & timbulnya perpecahan dalam rantai komando pasukan Aliansi di bulan Agustus 1867. Kesempatan ini dimanfaatkan Paraguay untuk membalas kekalahan sebelumnya. Akhirnya offensive pasukan aliansi dihentikan setelah aliansi kalah di Pertempuran Curupayty, jendral pihak aliansi saling menyalahkan atas kekalahan ini dan timbulah perpecahan di kubu aliansi.

Tahun 1868 posisi pimpinan tentara aliansi yang semula dipegang Mitre digantikan oleh Marquess de Caxias, dibawah kepemimpinan Caxias pasukan aliansi ditingkatkan kualitasnya seperti diberi senapan yang lebih canggih, kualitas jendral yang ditingkatkan, dan menyembuhkan prajurit yang terkena wabah penyakit dan kini kubu aliansi siap melakukan serangan kedua.

Awal tahun 1868 pasukan aliansi yang berkekuatan 52 ribu tentara mengepung Humaitá salah satu kota penting Paraguay dan kota itu akhirnya jatuh bulan Februari 1868, kini ibukota Asunción terisolasi dan pasukan aliansi siap menyerang ibukota Paraguay itu. Sebelum mencapai Asunción, pihak aliansi meraih kemenangan di beberapa pertempuran seperti Pertempuran Avay, Pertempuran Lomas Valentinas, dan merebut Angostura, kota penting terakhir sebelum Asunción. 24 Desember Lopez mendapat surat dari Caxias yang meminta Lopez untuk menyerah, tapi Lopez menolak permintaan itu. Asunción pun berhasil diduduki tanggal 1 Januari 1869 dan presiden Lopez kabur ke Cerro Leon. Setelah Asunción diduduki seisi kota dijarah dan Kaisar Brazil, Pedro II membuat pemerintahan sementara disana, perlawanan Paraguay yang semula selalu melakukan serangan besar besaran berganti jadi perang gerilya.

Setelah merebut ibukota fokus kubu aliansi kini mencari dan menangkap Lopez. Keinginan tersebut akhirnya terwujud setelah pada bulan Maret 1870, pasukan Aliansi berhasil menemukan kamp rahasia Paraguay di tengah hutan yang ditempati oleh Lopez. Awalnya pasukan Aliansi meminta Lopez menyerahkan diri, namun Lopez menolak & mencoba melawan sambil berseru bahwa ia lebih suka mati di tanah airnya. Lopez pun akhirnya tewas di tangan pasukan Aliansi & dengan tewasnya Lopez, maka berakhir pula Perang Paraguay.

Jumlah korban tewas paling besar harus ditanggung oleh Paraguay yang kehilangan 300.000 nyawa rakyatnya alias lebih dari 60% populasi total negaranya. Di pihak lawan, jumlah korban tewas jika ditotal mencapai 100.000 jiwa di mana mayoritasnya adalah orang Brazil. Tingginya jumlah korban tewas bukan hanya akibat terbunuh dalam perang, tapi juga akibat wabah kelaparan & kolera.
Selain korban jiwa, Paraguay juga menanggung kerugian material yang sangat parah. Situasi tersebut pada gilirannya memaksa pemerintahan Paraguay untuk mencari pinjaman dari luar negeri dalam jumlah amat besar untuk membangun kembali negaranya. Paraguay juga kehilangan 40% wilayahnya karena dicaplok oleh Argentina & Brazil di mana wilayah-wilayah yang hilang tersebut umumnya adalah wilayah industri & perkebunan yang sebelumnya amat vital bagi perekonomian Paraguay.

Dan perang ini juga memperburuk keadaan ekonomi Brazil yang membuat pemerintah Brazil mencari pinjaman ke negara lain, namun hutang Brazil dapat dilunasi hanya dalam waktu 10 tahun. Sementara itu Argentina berhasil mendapat wilayah baru yang membuat teritori Argentina makin luas dan jadi salah satu negara termakmur di Amerika Selatan. Dan bagi Uruguay perang ini jadi akhir dari intervensi negara asing yang selalu ikut campur urusan pemerintahan Uruguay.

Sumber: Line Historypedia

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon