Minggu, 12 Maret 2017

Supersemar


51 tahun telah berlalu namun Supersemar masih layak diperbincangkan dan kerap menuai kontroversi. Surat yang “ditandatangani” oleh Presiden Sukarno pada tanggal 11 Maret 1966 ini masih menyimpan sejumlah misteri. Menilik sisi sejarahnya, surat ini boleh dikatakan sebagai titik awal dari sebuah peralihan kepemimpinan Nasional dari Orde Lama yang dipimpin Sukarno menuju Orde Baru di bawah kekuasaan Soeharto. Supersemar telah mengantarkan Letnan Jendral Soeharto kepada pucuk kekuasan Republik Indonesia. Apa sebenarnya isi dari Supersemar?

Surat Perintah ini berisi perintah Presiden Sukarno kepada Letn.Jend Soeharto untuk mengambil langkah-langkah yang dirasa perlu untuk memulihkan ketertiban dan keamanan umum. Perintah kedua yaitu meminta Soeharto untuk melindungi presiden, semua anggota keluarga, beserta hasil karya dan ajarannya. Akan tetapi, Soeharto tidak menjalankan perintah tersebut dan justru mengambil tindakan berdasarkan interpretasinya sendiri.

Dengan adanya dorongan kekuatan anti-PKI, Soeharto pun mengadakan Sidang MPRS demi mengkukuhkan Supersemar. Pada tanggal 20 Juni - 6 Juli 1966, MPRS mengadakan Sidang Umum. 
Mengenai pemindahan kekuasaan, baik secara eksplisit maupun implisit jelas tidak tercantum di dalam surat tersebut. Bahkan, dalam pidato Sukarno di persidangan MPRS pada 17 Agustus 1966, ia menegaskan bahwa Supersemar bukanlah “transfer of sovereignity” dan bukan pula “transfer of authority”. Pidato pertanggungjawaban nya yang berjudul “Nawaksara” itu ditolak oleh MPRS. Pada waktu yang sama, MPRS menetapkan TAP MPRS No. IX/MPRS/1966 tentang Supersemar.

Alih-alih melindungi Sukarno, Soeharto justru menjadikan Sukarno sebagai “tahanan rumah” di Istana Bogor, dan kemudian di Wisma Yaso di Jakarta. Sukarno juga diinterogasi oleh Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban). Sukarno baru diberhentikan setelah mengalami sakit parah. Selama sakit, Presiden pertama ini tidak mendapatkan perawatan yang baik, hingga akhirnya meninggal pada 21 Juni 1970.

Saat ini, setidaknya terdapat tiga jenis salinan dari Supersemar yang disimpan di ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia). Akan tetapi ketiganya memiliki versinya masing-masing.  Pertama, Supersemar yang diterima dari Sekretariat Negara, dengan ciri: jumlah halaman dua lembar, menggunakan kop Burung Garuda, diketik rapi, dan di bawahnya tercantum tanda tangan beserta nama "Sukarno".

Kedua, Supersemar yang diperoleh dari Pusat Penerangan TNI AD dengan ciri: jumlah halaman satu lembar, berkop Burung Garuda namun dengan ketikan yang tidak serapi versi pertama. Penulisan ejaan sudah menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku pada saat itu. Jika pada versi pertama di bawah tanda tangan tertulis nama "Sukarno", pada versi kedua tertulis nama "Soekarno".

Ketiga, Supersemar yang didapat dari Yayasan Akademi Kebangsaan, dengan ciri: jumlah halaman satu lembar, sebagian surat robek sehingga tidak utuh lagi, dengan kop surat yang tidak jelas, hanya berupa salinan. Tanda tangan Soekarno pada versi ketiga ini juga berbeda dengan versi pertama dan kedua.

Soeharto memang tak lagi berkuasa, juga tidak ada dampak langsung secara politis terhadap Republik Indonesia hari ini, namun pengungkapan misteri Supersemar akan memiliki arti bagi bangsa Indonesia. Setidaknya sebagai bangsa yang merdeka, sejarah kita dapat diceritakan secara jelas.

Akan tetapi, hingga hari ini, upaya pengungkapan misteri mengenai Supersemar boleh dikatakan menemui jalan buntu. Surat aslinya tidak diketahui keberadaannya, bak ditelan bumi, ia hilang secara misterius.

Penulis: Arif Rizal Maulana (Ilmu Sejarah UI 2015)

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon