Sabtu, 04 Maret 2017

SNMPTN Bersifat Subjektif


Tulisan saya dapatkan dari official LINE Info 3 SMA. Tulisan ini menganai subjektivitas dalam SNMPTN. Saya mendukung pendapat dari penulis tersebut bahwasannya jalur undangan atau yang biasa disebut SNMPTN bersifat subjektif. Saya pernah menulis bahwasannya lebih baik anda memilih SBMPTN daripada SNMPTN

KENAPA HARUS MILIH SBMPTN DARIPADA SNMPTN?

Berikut kutipan tulisan tersebut
Banyak calon mahasiswa yang penasaran dengan mekanisme penerimaan PTN, banyak juga yang menganggap sistem penerimaan PTN saat ini tidak adil. Sebelum dilanjutkan, mari kita samakan persepsi dulu tentang makna subjektif dan objektif supaya pembicaraan ini tetap dalam satu frekuensi. Menurut KBBI, subjektif adalah adjektiva yang bermakna; "mengenai atau menurut pandangan (perasaan) sendiri, tidak langsung mengenai pokok atau halnya", sedangkan objektif adalah adjektiva yang bermakna; "mengenai keadaan yang sebenarnya tanpa dipengaruhi pendapat atau pandangan pribadi".
Mengapa SNMPTN disebut subjektif?
Penilaian dalam SNMPTN berasal dari banyak variabel, bukan hanya nilai rapot siswa. Salah satu admin Info 3 SMA memiliki dosen yang menjadi panitia SNMPTN dan beliau menyatakan bahwa penilaian SNMPTN juga akan melihat riwayat sekolah, alumni sekolah yang berada di kampus dan daerah asal. Sedangkan dalam SBMPTN, penilaian dilakukan murni berdasarkan hasil tes siswa. Hal ini juga yang menjawab mengapa banyak siswa IPA yang lolos ke ranah IPS.
Lalu, dimana letak subjektivitasnya?
Penilaian SNMPTN yang melihat variabel lain selain nilai rapot jelas menunjukkan subjektivitas. Kalau penilai ingin objektif, maka penilaian SNMPTN harus menggunakan nilai rapot saja(titik) Disebut subjektif karena penilaian tidak murni berdasarkan pencapaian siswa. SBMPTN disebut objektif karena penilaiannya murni berdasarkan hasil tes siswa. Satu lagi yang sangat subjektif dalam SNMPTN adalah adanya kebijakan afirmatif (affirmative action, you can Google for the long description), yaitu dengan mengakomodasi calon mahasiswa dari daerah 3T. Pertanyaan kemudian, apakah subjektivitas SNMPTN salah? Jelas tidak. SNMPTN undangan adalah undangan. Ya, undangan! Ibarat kamu ingin mengundang orang-orang ke acara di rumah kamu, kamu pasti akan memilih siapa yang ingin kamu undang. Kamu pasti akan menghindari mengundang orang-orang yang punya peluang berbuat kerusuhan, supaya kenyamanan acara di rumah kamu terjaga. That's fair. That's natural. Kebijakan afirmatif dalam SNMPTN pun sebagai bentuk kewajiban bagi pemerintah dalam rangka pemerataan pendidikan. Supaya pendidikan tidak hanya terpusat pada daerah perkotaan dan ekonomi mampu. Mengapa dalam posting-posting Info 3 SMA admin lebih menekankan calon mahasiswa untuk berjuang lewat jalur tes (SBMPTN atau apapun)? Karena jalur undangan sudah tidak bisa diapa-apakan lagi. Yang terjadi biarlah terjadi, kamu tidak bisa memodifikasi rapot demi lolos di SNMPTN, itu curang. Satu-satunya cara yang fair adalah bersaing di tes tulis. Seandainya kamu sudah belajar untuk SBMPTN tapi kamu lolos SNMPTN, itu rejeki kamu. Apa kamu bakal menyesal? ilmu tidak ada yang sia-sia.


Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon