Minggu, 19 Maret 2017

Masa Muda Adolf Hitler

Loading...

source: pinterest.com
Pada tahun 1919, Adolf Hitler pada usia 30 tahun adalah seorang yang tidak berarti. Dia tingal di Munchen, dalam barak batalyon cadangan dari resimennnya pada masa perang. Dia tidak memiliki tempat tinggal lain dan tidak menginginkannya sama sekali. Pengabdiannya sebagai tentara Jerman ternyata merupakan masa yang paling bahagia dalam hidupnya, yang sebelumnya tanpa tujuan. Para veteran lain berjalan dengan angkuh di jalan dan merampas medali serta tanda pangkat perwira yang mereka jumpai. Bagi Hitler, perbuatan seperti ini dikutuk. Dia menghormati militer dan apa pun yang dapat memulihkan kebesaran Jerman. Cintanya kepada Jerman benar-benar anej, sebab Jerman sebenarnya bukanlah tanah airnya. Dia adalah orang Austria

Adolf Hitler lahir pada tanggal 20 April 1889 di kota kecil Braunau di dekat sungai Inn yang menjadi perbatasan antara Austria dan Bavaria. Beberapa leluhurnya mungkin petani Ceko. Ayahnya pegawai kecil pabean, sedangkan ibunya seorang pembantu. Masa mudanya dia ceritakan kemudian sebagai masa perjuangan dan kemiskinan-meskipun dengan keras dia melarang orang lain menyelidiknya. Sebenarnya gaji ayahnya cukup untuk hidup enak dan mencari sekolah yang baik bagi keluarganya.

Hitler membenci sekolah; sekolah mengganggu hiburan kesukaannya, yakni melamun. Salah satu angkanya yang "memuaskan" adalah menggambar, dan dari sinilah mulainya sebuah lamunan. Kehidupan ayahnya membosankan sebagai birokrat bukanlah idamannya. Dia ingin menjadi seniman atau arsitek. Dia sering menghabiskan waktunya berjam-jam lamanya untuk membuat sketsa, monumen dan rumah khayal yang megah.

Pada usia 16 tahun, Hitler meninggalkan kota kecil Linz, kampung halamannya, menuju Wina yang gemerlapan-dan merupakan pukulan baginya. Dia melamar pada Akademi Seni Rupa yang mentereng, tetapi ditolak. Sketsa percobaannya dinilai "kurang berbobot". Dia kemudian hidup dengan dana dari ibunya yang sudah janda. Setelah ibunya meninggal, dia hidup dari dana pemerintah bagi yatim piatu pegawai negeri. Dana ini berakhir sewaktu dia mencapai umur dewasa resmi, dan harus berdikari.

Menurut Hitler sendiri, tahun-tahun kehidupannya di Wina merupakan "masa yang paling menyedihkan dalam hidupku." Kemalangan itu sendiri sebenarnya lebih disebabkan oleh kemalasan dan sikap Hitler sendiri yang tidak mau merendahkan diri dan bergabung dengan kalangan yang membosanka, yakni pekerja jelata. Dia mendapat nafkah dengan menjual cat air warna khusus. Dia membuat poster yang mengiklankan sabun dan bedak anti keringat. Kadangkal, dia menjajakan sketsanya mengenai tempat-tempat terkenal di Wina seperti Katedral St. Stepehen dan Istana Schonbrunn. Hidupnya terpaksa dijalani secara sederhana; dia tidak minum minuman keras, tidak merokok, tidak makan daging, dan hanya makan sayuran.

Dalam keadaan frustasi, Hitler muda teracuni oleh hasutan anti-Yahudi yang marak pada masa itu di Wina. Kota internasional ini telah menarik orang dari segala penjuru Kemaharajaan Habsburg-orang Ceko, Serbia, Slovenia, Krosia, Polandia, Hongaria, Rumania dan Ruthenia-sehingga mengancam kekuasaan konservatif yang lama dipegang oleh kelompok yang disebut orang Austria Jerman. Pembuat pamflet membendung gelombang manusia yang beraneka bahasa ini, dan pada khususnya menyebarkan kebencian terhadap imigran Yahudi. Keturunan Jerman, demikian pernyataan mereka, adalah ras unggul yang tidak boleh dicemari: lagi pula, warganya harus dipersatukan di dalam Jerman Raya.

Hitler-yang memiliki hobi membaca secara tidak sistematis buku-buku rasis yang berpikiran sempit, melamun serta menipu diri sendiri-segera ia berubah menjadi orang nasionalis Jerman yang fanatik yang berpusatkan pada identitas darah dan tanah. Nasionalisme Jermannya ini berasal dari pemikiran-pemikiran Fichte, Hegel, Treitsche, Nietzsche, dan Richard Wagner. Opera-opera Wagner yang bergemuruh, dengan tekanannya pada mitologi-mitologi Teutonik dan Jerman memiliki pengaruh besar terhadapnya, sementara tulisan-tulisan Nietzsche juga menarik perhatiannya. Nietzche mengkhotbahkan istilah "manusia super" (ubermensch), mahluk sempurna dalam hal pikiran dan tubuhnya, yang mencampakkan moralitas demi nilai-nilai "kekerasan". Dengan cara ini, Nietzsche menyanjung ide-ide mengenai kekerasan dan kekuatan. Hitler dan kamu Nazi kemudian menyelsaikan dan menyalahgunakan ide-ide ini untuk menciptakan suatu negara totaliter yang bengis, Di mata Hitler, pahlawan Jerman Nordik adalah prototipe manusia super, tetapi mereka harus dibebaskan dari norma-norma moralitas kristiani yang dibenci Hitler karena asal-usulnya Yahudinya.
source: Historyplace.com
Bagi Hitler muda, pecahnya Perang Dunia I pada tahun 1914 dianggap sebagai berkat yang membebaskan dari kehidupan yang menyedihkan. Seniman gagal berusia 25 tahun itu menyadari bahwa dia bisa menjadi seorang pahlawan Jerman dalam konflik itu, Dia memutuskan bahwa tindakanlah, bukan kata-kata, yang akan menjadi jalan hidupnya. Meskipun masih tercatat sebagai warga negara Austria, Hitler, yang telah pindah ke Munchen pada tahun 1913, berhasil bergabung dalam Tentara Jerman melalui sebuah petisi pribadi kepada Kaisar Wilhelm II. Dia terdaftar sebagai anggota resimen infanteri Bavaria dan ditugaskan sebagai kurir di Front Barat di Flandria. Segera keberaniannya diakui dengan penganugrahan medali Salib Besi Kelas Dua, dan kemudian dengan Salin Besi Kelas Satu yang lebih didambakan-penghormatan yang jarang diberikan kepada seorang kopral.

Hitler adalah tentara teladan, kadang kala terlalu besar bagi beberapa orang di kompinya. Seorang teman mengenangnya sebagai "gagak putih di antara kami yang tidak mau ikut kalau kami mengutuk perang." Selain dipandang istimewa oleh rakan-rekannya, Hitler juga dianggap sebagai orang mujur. Kecuali serangan gas yang sementara waktu membutakannya menjelang akhir perang, satu-satunya cedera selama empat tahun perang hanyalah luka di kaki. Hitler selamat dari perang dengan keyakinan bahwa dia telah disisakan untuk menjalankan misi istimewa dalam hidupnya.

Sumber: Nino Oktorino, Sieg Heil! Kisah pendirian Reich Ketiga

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon