Minggu, 26 Februari 2017

Ketidakadilan Pendidikan Kita

Tags


Apakah anda merasa ada ketidakadilan pendidikan di Indonesia yang ada rasakan? kira-kira apa yang anda rasakan? Pernakah anda merasa kecewa dengan kondisi pendikan kita saat ini? Jika anda merasakan ketidakadilan berarti kita satu pendapat. Saya membuat blog ini pun dari rasa ketidakadilan dalam pendidikan Indonesia. Jika kita ingin mendapatkan akses pendidikan terbaik maka kita perlu mengeluarkan uang lebih. Padahal tentunya tidak semua dari kita mempunyai uang untuk mengakses fasilitas pendidikan yang baik. Ini yang membuat saya begitu geram dengan kondisi yang pendidikan kita. Saya akan menjabarkan pandangan saya tentang penddikan kita yang begitu tidak adil. Saya pun tau bahwasannya pandangan saya bersifat subjektif. Namun saya berhak menyuarakan pendapat saya tentang pendidikan kita.
1. Distribusi Guru
 Guru adalah komponen terpenting dalam hal pendidikan dasar sampai tingkat menengah atas. Tentunya tanpa guru maka tidak akan pernah ada transfer ilmu. Saya menaruh guru di nomer pertama karena inilah permasalah krusial yang utama. Guru-guru yang berkualitas baik lebih banyak tersebar di kota-kota besar Indonesia. Akibatnya apa yang terjadi.Kualitas pendidikan yang baik pada umumnya hanya ada di kota besar saja. Ini merupakan biang keladi utama masalah pendidikan kita. Apakah ini berpengaruh besar? jelas ini berpengaruh besar terutama dalam meneruskan pendidikan yang lebih tinggi lagi. Sekolah yang mempunyai guru-guru yang terbaik akan lebih banyak mempunyai peluang untuk memasukan muridnya ke Perguruan Tinggi Negeri terbaik yang ada di negara ini.
2. Stigma Sekolah Favorit
Saya mewajari ada hal ini dalam pendidikan. Saya rasa bukan di Indonesia saja. Sekolah favorit akan melahirkan murid unggulan. Sangking unggulannya mereka hampir mustahil tersaingi oleh murid dari sekolah biasa. Saya mengalami hal ini sendiri, saya tidak memungkiri saya memang dari sekolah favorit juga dahulu. Permasalahan ini masih ada kaitannya dengan nomer satu. Sekolah favorit mempunyai guru-guru berkualitas. Tentunya akhirnya muridnya pun berkualitas. Jangankan bicara daerah, di Jakarta pun amat terasa sekali akibatnya. Sekolah-sekolah favorit akhirnya banyak memasukan muridnya ke PTN terkenal di Jakarta-Depok. Sedangkan sekolah yang tidak favorit boro-boro, satu pun sudah sukur. Sekolah-sekolah favorit ini sendiri memasukinya juga susah, mereka yang menginginkan sekolah favorit harus ikut tambahan les diluar jam sekolahnya. Tentunya ini tidak akan bisa diakses oleh orang-orang miskin. Saya menginginkan pendistribusian guru yg berkualitas secara merata. Agar mereka bisa mendapatkan pendidikan yang terbaik dari ahlinya. Guru yang pas-pasan pun harus dilatih sedini mungkin agar mereka mampu bersaing. Ketimpangan dalam perekonomian hanya bisa dihapuskan dengan memberikan pendidikan yang berkualitas kepada rakyat. Jangan sampai hanya orang-orang kaya yang mampu mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Pendidikan  ang baik merupakan hak asasi semua warga negara
3. Fasilitas Pendidikan
Pendidikan yang dikatakan baik mempunyai fasilitas yang baik dalam hal sarana dan pengajarannya. Pemerintah sebaiknya tidak hanya sibuk membangun infrastruktur umum saja, tetapi juga harus membangun Fasilitas pendidikan yang memadai. Orang-orang dari luar jawa berbondong-bondong sekolah di pulau Jawa karena mereka menganggap bahwasaanhya pendidikan di Jawa lebih baik dibandingkan daerah asal mereka. Pemerintah berkewajiban untuk membangun fasilitas pendidikan yang baik sama seperti di pulau Jawa. Sebab Indonesia bukan hanya pulau jawa saja, tetapi membentang dari sabang sampai merauke. Pembangunan manusia juga harus menjadi prioritas utama karena tidak mungkin kita bisa menjadi negara maju tanpa SDM yang tangguh.
4. Mahalnya biaya pendidikan
Pendidikan menjadi sesuatu yang mewah bagi orang-orang miskin. Memang betul pemerintah menggratiskan biaya pendidikan sampe SMP. Namun pendidikan sampai situ saja tentunya tidak cukup. Pendidikan SMA/SMK tidak semuanya gratis. Hanya daerah-daerah tertentunya saja yang mengratiskan jenjang pendidikan tersebut. Setelah melewati jenjang pendidikan SMA/SMK pun mereka harus dihadapi dengan mahalnya biaya pendidikan tingkat tinggi. Untung melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi mereka harus mengorek kantong lebih dalam lagi bahkan untuk sebagian orang desa, mereka rela menjual tanah asalkan anak mereka bisa berkuliah.

Jika anda tidak setuju dengan pendapat saya tentang pendidikan indonesia maka saya dapat menghargainya. Tentunya pendapat ini mengandung kesubjektifan dari sisi penulis. Kita tentunya berharap pendidikan Indonesia semakin baik kedepannya. Salam



 
 

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon