Kamis, 08 September 2016

Perlawanan Melawan Kolonialisme Barat Pada Abad Ke-19

Loading...

A. Perlawanan Pattimura
1. Sebab terjadinya perlawan Pattimura:


  • Penindasan dan tekanan yang dilakukan oleh Belanda semenjak berkuasa VOC seperti adanya kebijakan: Ekstirpasi dan Pelayaran Hongi
  • Adanya sikap kritis rakyat Maluku dalam membandingkan antara penjajahan Belanda dan Inggris
  • Kekhawatiran kembalinya model eksploitasi VOC sejak Maluku kembali menjadi wilayah kekuasaan Belanda
  • Adanya kebajikan penyerahan wajib(levarantie) kepada rakyat Maluku, baik berupa garam dan ikan asin, kewajiban membuat perahu
  • Adanya kewajiban kerja rodi/kerja paksa
  • Paksaan atas rakyat Maluku untuk menjadi tentara yang akan dikirim ke Jawa
  • Sebab Khusus: Penolakan Residen Belanda Van den Berg, untuk membayar harga perahu yang dipesan sesuai dengan harga yang sebenarnya, menjadi sebab khusus munculnya pembrontakan rakyat Maluku
2. Peristiwa dan Akhir Perlawanan
  • Pada 15 Mei 1817, Pattimura berhasil menguasai Benteng Duurstede
  • Pada Juli 1817 Jazirah Hitu bergolak yang dipimpin oleh Ulupaha
  • 3 Juli 1817 benteng berhasil direbut kembali oleh Belanda. Akan tetapi, pergolakan berkobar terus menerus dan para pemimpin bersembunyi di hutan-hutan
  • 12 November 1817 Pattimura tertangkap oleh Liman Pietersen
  • Desember 1817 Pattimura dan tiga tokoh terkemuka dihukum mati di benteng Nieuw Victoria di Ambon. Sebagian lagi dibuang diantaranya ke Jawa yaitu ke Cianjur
B. Perlawanan Rakyat Sumatera Barat/ Perang Padri(1821-1838)
1. Sebab terjadinya Perang Padri

  • Berkembangnya faham wahabi di Sumatera Barat yang dibawa oleh Haji Miskin, Haji Sumanih, dan Haji Piabang.
  • Pertentangan aliran keagamaan yang dianut oleh kaum adat dan aliran Wahabi yang dijalankan oleh kaum padri
  • Adanya kebiasaan dan tradisi butuk kaum adat yang bertentangan dengan ajaran islam, seperti berjudi, menyabung ayam, meminum-minuman keras, dan merokok.
  • Pertentangan antara hukum adat yang bertahan matrilineal dan hukum islam yang berpaham patrilineal
  • Campur tangan Inggris dan kemudia Belanda yang bertujuan untuk menanamkan pengaruhnya di Sumatera Barat
  • Sebab khusus: adalah terjadinya perang antara Kaum adat dan Kaum Padri. Kaum adat kemudia meminta bantuan Belanda
2. Peristiwa dan Akhir perlawanan
Perang Padri terjadi dalam tiga fase. Pada fase pertama yang berlangsung dari 1821 - 1825 ditandai dengan makin meluasnya perlawanan rakyat di seluruh Minangkabau. Pada fase kedua, mulai dari tahun 1825-1830, pertempuran melawan Belanda mulai mereda. Hal ini diakibatkan oleh adanya Usaha Belanda yang memusatkan perhatiannya di Jawa untuk menumpas perlawanan diponegoro. Perjanjian yang diadakan antara Belanda dan kaum padri pada fase ini antara lain:
-Perjanjian Padang(15 November 1825)
-Perjanjian Masang(26 Januari 1825)
Fase terakhir berlangsung antara tahun 1830-1838, yang ditandai dengan ditangkapanya beberapa pemimpin Padri seperti Tuanku Imam Bonjol pada tanggal 25 Oktober 1837. Setelah itu perlawanan di hutan-hutan seperti yang dilakukan oleh Tuanku Tambusai

C. Perang Diponegoro/Perang Jawa(1825-1830)
1. Sebab-sebab

Perang Diponegoro merupakan perang besar di Jawa yang didukung oleh berbagai lapisan masyarakat antara lain kaum bangsawan, kaum ulama, dan rakyat jelata. Adapun sebab-sebab munculnya Perang Diponegoro adalah seperti berikut ini:
  • Makin besarnya kekuasaan Belanda di Jawa dan makin sempitnya daerah kekuasaaan raja-raja Jawa yang berarti berkurangnya penghasilan kerajaan terutama diakibatkan oleh adanya perjanjian Gianti(1755) dan Salatiga(1757)
  • Campur tangan Belanda ke dalam urusan politik dan pemerintahan kerajaan, yang juga mengakibatkan terjadinya perpecahan di kalangan keluarga kerajaan
  • Makin beratnya beban ekonomi yang harus dipikul oleh rakyat akibat pajak-pajak yang diberlakukan oleh Belanda
  • Makin besarnya dominan perusahaan-perusahaan asing atas tanah milik rakyat, akibat politik sewa tanah yang dikeluarkan oleh Belanda
  • Berkembangnya tradisi-tradisi Barat di kalangan kraton, seperti kebiasaan minum-minuman keras.
  • Sebab khusus: perang terjadi ketika Belanda memerintahkan pemasangan patok jalan yang melintasi kompleks makan leluhur Pangeran Diponegoro di Tegal Rejo
2. Peristiwa dan Akhir Perlawanan
Perang Diponegoro dimulai pada tanggal 20 Juli 1825 yang segera meluas ke berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Perlawanan Pangeran Diponegoro ini didukung oleh beberapa tokoh ulama dan kerajaan, seperti Kyai Maja dan Sentot Prawirodirjo
Untuk mengatasi perlawanan Pangeran Diponegoro, Belanda menggunakan beberapa cara diantaranya:
  • mengangkat kembali Sultan Sepuh seperti Sultan Yogyakarta dengan harapan dapat meredakan perlawan cucunya
  • Membentuk pasikan yang anggotanya terdiri dari orang Indonesia sendiri(devide et impera)
  • Mengumumkan tentang pemberian hadiah sebesar 50.000 gulden bagi yang dapat menangkap Pangeran Diponegoro, baik hidup atau mati.
  • Menjalankan siasat perang Beberbenteng(Benteng Stelsel), yaitu pembuatan benteng-benteng disetiap daerah yang telah dikuasai oleh Belanda. Hal ini dilakukan untuk mempersempit ruang gerak Pangeran Diponegoro, sekaligus mengisolasinya dari daerah lain
D. Perang Bali(1846-1909)
1. Sebab terjadinya Perang

  • Belanda memaksa raja-raja Bali untuk menghapuskan "Adat Tawan Karang", yaitu hukum yang memperbolehkan raja di Bali merampasa muatan kapal yang terdampar di pantai kerajaannya
  • Belanda memaksa raja-raja Bali untuk mengakui kedaulatannya berada di bawah negara dan mengizinkan pengibaran bendera Belanda di Bali
2. Peristiwa dan Akhir perlawanan
  • 27 Juni 1846 1700 orang pasukan Belanda tiba di pantai Bulelang dan keesok harinya benteng prajurit di Bali terpaksa ditinggalkan dan diduduki oleh Belanda
  • 6 Juli 1846 ditanda tangani perjanjian yang isinya raja Buleleng harus menghancurkan benteng dan dilarang mendirikan benteng baru, dan Raja Buleleng harus mengganti tiga perempat jumlah biaya perang yang dikeluarkan Belanda
E. Perang Banjar

  • Ketidaksukaan rakyat Banjar karena Belanda mengusahakan perkebunan dan pertambangan batu bara di Kalimantan Selatan
  • Adanya usaha-usaha Belanda untuk memperluas wilayah kekuasaan di Kalimantan Selatan
  • Munculnya kegelisahan sosial dikalangan rakyat karena pungutan pajak dan kerja wajib
  • Campur tangan Belanda dalam urusan intern kerajaan. Dalam hal ini Belanda menghendaki. Pangeran Tamjidillah diangkat menjadi Sultan baru, menggantikan Sultan Adam
  • Loading...
  • Perang Banjar yang dipimpin oleh Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayatullah ini pada awalnya berhasil memukul Belanda, dengan dihancurkannya Kapal Perang Ortust milik Belanda pada tahun 1859, tetapi ketika pangeran Hidayat menyerah pada tahun 1862, dan meninggalnya Pangeran Antasari di tahun yang sama, perlawanan mulai mengalami penurunan
F. Perang Aceh
1. Sebab-sebab Pendorong perang Aceh

  • Politik Pax Nederlandica Belanda
  • Saling klaim antara kerajaan Aceh dan Belanda mengenai wilayah Sumatera Timur pasca ditandatanganinya Traktat Siak(1858) yang memberikan kepada Belanda kekuasaan di wilayah tersebut sebagai pemberian Sultan Siak
  • Dibukanya Terusan Suez pada tahun 1869 mengakibatkan semakin pentingnya Wilayah Aceh bagi Belanda
  • Berkembangnya imperialisme modern
  • Ditandatanganinya Traktat Sumatera antara Belanda dan Inggris dengan perjanjian bahwa Inggris tidak akan menghalangi politik perluasan wilayah Belanda di Sumatera
  • Sebab khusus: yaitu penolakan Aceh tidak berhubungan dengan negara lain dan mengakui Belanda sebagai Yang Dipertuan
2. Peristiwa dan Akhir Perlawanan
Perang Aceh ini didukung baik oleh kaum ulama (Teuku) seperti Teuku Cik di Tiro dan golongan Teungku(bangsawan) Teuku Umar, dan Panglima Polim.
Untuk menghadapi perlawanan rakyat Aceh ini, Belanda mengambil beberapa langkah, diantaranya:
  • Menggunakan sistem konsentrasi stelsel, yaitu Belanda hanya bertahan di daerah yang didudukinya karena tidak memiliki biaya yang cukup untuk menyelsaikan perang dalam waktu singkat
  • Berusaha mengetahui rahasia kekuatan Aceh, terutama yang menyangkut bidang kehidupan sosial-budayanya, oleh karena itu Belanda menugaskan Dr. Snouck Hurgronje, seorang orientalis untuk maksud tersebut.
Melalui tulisannya yang berjudul "De Aceheers", Snouck Hurgronje merekomendasikan kepada pemerintah Belanda hal-hal berikut
  • Belanda harus memecah belah rakyat Aceh
  • Menghancurkan kaum ulama yang dianggap tulang punggung perlawanan
  • Belanda harus membuka kesempatan bagi bangsawan Aceh dan anak-anaknya untuk masuk ke dalam korps pamong praja dalam pemerintah kolonial, agar mereka terikat kepada Belanda dan terpisah dari golongan Ulama
G. Perang Tapanuli(1878-1907)
1. Sebab-sebab terjadi perang:

  • Politik Pax Nederlandica Belanda yang hendak memasukan kawasan Sumatera Utara ke dalam bagian wilayah kekuasaannya
  • Semakin diperkecilnya wilayah kekuasaan Raja Sisimangaraja
  • Adanya usaha Belanda menyebarkan agama kristen untuk memperlancar usaha kolonialnya
2. Perang dan akhir perlawanan
  • 1 Februari 1878 pasukan Belanda diberangkatkan lagi dari Sibolga ke pedalaman Silindung, dibawah pimpinan Kapten Schltens
  • Karena keadaan Aceh lebih memerlukan perhatian, untuk sementara kegiatan penumpasan pasukan Sisimangaraja XIII dikurangi dan diusahakan agar pemerintah pamongpraja mengurangi sebanyak mungkin campur tangannya pada perlawanan Batak
  • 17 Juni 1907 Sisimangaraja tertembak oleh pasukan Belanda yang mengepungnya dan gugu. Dengan tewasnya dia dan tertawannya putera puteri maka seluruh Batak jatuh ke tangan Belanda
Liat Juga Ringkasan Materi Sejarah:
Sejarah Indonesia 
Pengantar ilmu sejarah disini
Zaman Hindu-Budha di Indonesia disini
Perlawanan Kolonialisme Barat Pada Abad ke 19 disini
Era Demokrasi Terpimpin Indonesia klik disini

Sejarah Dunia
Sejarah Perkembangan Pemikiran Eropa disini
Latar Belakang Penjelahan Samudra Bangsa Eropa disini
Revolusi Industri disini
Revolusi Amerika disini
Revolusi Prancis disini
Nasionalisme Bangsa Asia-Afrika disini
Perang Dunia I dan II disini
Perang Dingin disini

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon