Sabtu, 16 Juli 2016

Wabah penyakit hampir memusnahkan Eropa

source: awesomestories.com
Diantara wabah mengerikan yang melanda dunia khususnya eropa adalah wabah black death atau dalam bahasa Indonesia disebut "Penyakit Sampar".  Wabah black death telah mempengaruhi banyak aspek dalam kehidupan masyarakat eropa. dari mulai banyak kehilangan penduduk dalam waktu relative singkat, hingga kehilangan kepercayaan akan  otoritas gereja. Wabah black death tiba di eropa melalui laut pada bulan Oktober 1347, ketika 12 kapal dagang Genoa merapat di pelabuhan  Messina Sisilia Italia. Setelah melakukan perjalanan panjang di laut hitam. orang-orang yang berkumpul di dermaga menyambut kapal yang berlabuh dengan kejutan yang mengerikan: Sebagian besar pelaut kapal sudah mati, dan mereka yang masih hidup sakit parah. Mereka yang sakit ditemukan demam, sulit untuk makan, dan mengigau ketika sakit. Hal yang aneh adalah muncul bisul hitam yang mengelurkan darah dan nanah. Lalu mereka memberi nama Black death dikarenakan  fenomena yang terjadi pada penderita. Otoritas Sisilia buru-buru  memerintahkan armada yang kapal dikeluarkan dari pelabuhan, namun mereka tidak mengetahui bahwasanya penyakit ini bisa menular dengan mudah dan langkah yang mereka lakukan adalah sia-sia. lima tahun kemudian, Wabah   black death telah membunuh lebih dari 20 Juta orang di Eropa, yaitu hampir sepertiga populasi benua tersebut.

Sebelum kapal yang menghebohkan itu ditarik ke pelabuhan Messina, banyak orang eropa telah mendengar rumor tentang "Black death(sampar)" yang mengukir jalan mematikan di seluruh rute perdagangan  dari Dekat dan Timur Jauh. (Pada awala 1340-an penyakit itu menyerang China, India, Persia, dan Mesir) Namun, orang-orang Eropa sendiri tidak mempunyai gambaran mengerikan atas wabah black death itu sendiri. "Pada pria dan wanita adalah sama," penyair italia Giovani Boccaccio menulis, "Pada awal penyakit, terjadi pembengkakan tertentu, baik pada pangkal paha atau dibawah ketiak..menjadi ukuran besar dari apel pada umumnya, pada lainnya berukuran besar kurang lebih seperti telur, dan yang paling nampak adalah adanya wabah bisul pada penderita". Darah dan nanah merembes keluar dari pembengkakan ini, yang diikuti oleh sejumlah gejala demam lainnya, menggigil, muntah, diare, nyeri yang  menyakitkan pada badan, bahkan dalam waktu relatif cepat menimbulkan kematian. "Wabah black death adalah menakutkan, tanpa pandang bulu  menular, menyentuh lewat baju-baju", tulis Boccaccio. Penyakit ini mematikan karena dapat membuat orang yang malah hari sehat, pagi harinya langsung meninggal. 
Hari ini, para ilmuwan memahami bahwa black death, yang sekarang dikenal sebagai sampar, disebarkan oleh basil yang disebut Yersinia peptis.(Ahli Biologi Prancis Alexandre Yersin menemukan kuman ini  pada akhir abad ke-19). Mereka tahu bahwa basil berjalan dari orang ke orang pneumonia, atau melalui udara, serta melalui gigitan kutu yang terinfeksi dan tikus. Kedua hama ini dapat ditemukan hampir dimana-mana pada zaman Eropa abad pertengahan, khususnya ditemukan pada kapal-kapal yang beragam  jenis.  ini membuat jalan persebaran penyakit tersebut menjadi mudah, dari pelabuhan satu ke pelabuhan lainnya. Tidak lama melanda Sisilia, lalu black death pindah ke pelabuhan Marseilles di Perancis dan pelabuhan Tunisia di Afrika Utara. Kemudian mencapai Roma dan Florence, dua kota pusat jaringan perdagangan. Pada pertengahan 1348, black death telah menyerang Paris, Bordeaux, Lyon dan  London.
Source: eyewitnesstohistory.com
Pada pertengahan abad ke-14, tidak ada penjelasan rasional tentang  black death. tidak ada yang tau persis bagaimana penyakit tersebut  menular. Kematian akan segera menghampiri orang sehat yang berdiri didekat orang yang terkena black death. Tidak ada yang tahu bagaimana mengobati dan mencegah wabah tersebut. Dokter pada zaman itu mengandalkan teknik  yang tidak canggih seperti mengeluarkan darah dan menusuk bisul (praktek yang berbahaya dan tidak sehat)praktek dan takhayul seperti membakar herbal aromatik dan mandi di air mawar atau cuka.

Sementara itu dalam situasi kepanikan, orang yang sehat melakukan berbagai macam cara yang mereka bisa lakukan untuk menghindari sakit. Dokter menolak untuk melihat pasien; imam menolak untuk melaksanakan upacara terakhir. Pemilik toko menutup toko. Banyak orang melarikan diri dari kota ke pedesaaan, tapi bahkan disana mereka tidak bisa melarikan diri dari penyakit tersebut. Penyakit  tersebut mengenai sapi, domba, kambing, babi dan ayam serta orang-orang disana. Bahkan begitu banyak domba mati bahwa salah satu konsokuensi dari black death kekurangan wol di Eropa. Banyak orang, putus asa untuk menyelamatkan diri, bahkan meninggalkan orang yang mereka cintai dalam keadaan sakit dan sekarat. Boccaccio menulis,  "setiap pikiran/orang berusaha untuk mengamankan dirinya sendiri"

Karena pada zaman itu orang-orang tidak memahami tentang biologi penyakit, banyak orang percaya bahwa Black Death adalah semacam hukuman Tuhan-ganjaran dosa-dosa terhadap Tuhan seperti keserakahan, penghujatan, bidah, pencabulan,  dan keduniawian. Dengan logika ini, satu-satunya cara untuk mengatasi wabah  adalah memenangkan pengampunan Allah. beberapa orang percaya bahwa cara untuk melakukan ini adalah untuk membersihkan komunitas mereka dari bidah dan pengacau, misalnya, ribuan orang Yahudi dibantai di 1348 dan 1349 . (Ribuan lainnya melarikan diri ke daerah-daerah yang jarang penduduknya di Eropa Timur, dimana mereka bisa relatif aman dari amuk massa di kota-kota eropa barat).
source: wikipedia.org
Wabah black death mulai mereda 1350-an awal, tapi wabah muncul kembali  setiap beberapa generasi selama berabad-abad. Sanitasi modern dan kesehatan masyarakat mulai dipraktekan sangat mengurangi dampak dari penyakit tetapi tidak menghilangkan seutuhnya.




Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon