Kamis, 21 Juli 2016

Kerajaan Sriwijaya : Sejarah Awal

Loading...

Illustrasi dari Boy Dozan

          Banyak orang yang menganggap bahwa mempelajari kerajaan klasik adalah hal yang sulit, saya pun setuju, apalagi untuk kerajaan pada abad 1-15. Saya kira kesulitan itu disebabkan oleh sedikitnya bukti fisik yang ditemukan. Sehingga para sejarawan sangat sulit untuk merangkai kisah kerajaan tersebut secara runtut dan menarik. Maka untuk memahami Kerajaan Klasik, ada baiknya kalian mencari tahu dulu prasasti-prasasti yang ditinggalkan oleh kerajaan bersangkutan.

       Sriwijaya berasal dari Bahasa Sansekerta. Sri artinya gemilang atau bercahaya, dan Wijaya artinya kejayaan atau kemenangan. Maka secara bahasa, Sriwijaya adalah Kemenangan yang gemilang. Dan sepertinya, arti dari kata Sriwijaya benar-benar terjadi, terbukti Kerajaan Sriwijaya mampu berdiri kokoh selama kurang lebih 5 abad. Mungkin ini yang disebut kemengangan yang gemilang.

        Berbicara tentang kerajaan maritim dunia, mungkin Sriwijaya adalah salah satu kerajaan maritim terbesar di dunia. Luasnya kerajaan Sriwijaya membentang dari Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa Barat, dan kemungkinan Jawa Tengah. 


Sejarah Awal
Perkiraan Wajah I Tsing. Wikipedia

    Ada 2 bukti fisik yang berkaitan dengan awal mula Sriwijaya, pertama Catatan Perjalanan I Tsing (seorang biksu budha dari China), dan yang kedua adalah prasasti Kedukan Bukit.

    Kita mulai dari I Tsing terlebih dahulu. I Tsing merupakan Biksu Budha dari China, tepatnya Guangzhou. Awal mulanya, I Tsing berniat pergi ke India untuk mempelajari agama Budha. Namun, ia tidak bisa bahasa Sanskerta (bahasa yang digunakan di India pada saat itu). Akhirnya, ia memutuskan untuk singgah dulu di Fo-shih (Sriwijaya) untuk mempelajari segala tentang Bahasa Sanskerta. Biksu Budha ini singgah sekitar 6 bulan, pada rentang waktu 671-672 M.

Dalam buku catatannya, I Tsing menulis

"Jika agamawan China hendak pergi ke Barat untuk mendengar dan membaca (teks-teks Budhis yang asli), sebaiknya ia tinggal di Fo-shih selama satu tahun atau dua tahun dan di Fo-shih menerapkan aturan yang sesuai seperti Barat. Kemudian ia dapat pergi ke India Tengah."

    Setelah belajar Bahasa Sanskerta, I Tsing berlayar menuju India. Keinginannya untuk memperdalam ajaran Budha akhir terlaksana. Di India, I Tsing menetap selama kurang lebih sepuluh tahun. Setelah dikiranya cukup, I Tsing memutuskan untuk pergi dari India. Bukan China tujuannya, tetapi Sriwijaya. Lagi-lagi ia memutuskan untuk tinggal di Sriwijaya. Pada tahun 685 M ia tiba di Sriwijaya. Selama masa-masanya di sana, I Tsing banyak menghabiskan waktu untuk menerjemahkan teks Budha yang ia dapatkan di India.

        Ketika tahun 689 M, ia memutuskan untuk mudik ke Guangzhou. Kunjungan kali ini ia gunakan untuk mencari 4 asisten untuk membantunya di Sriwijaya - Alhamdulillah dapat. Pada tahun yang sama, I Tsing langsung balik ke Sriwijaya, nampaknya mudik kali ia lewatkan dengan cepat. Hal ini disebabkan oleh kondisi angin yang sedang baik.

        Bersama asistennya, I Tsing memulai tugasnya seperti biasa. Pada tahun 695, ia memutuskan untuk pulang kampung ke Guangzhou. Setelah itu ia tidak kembali lagi ke Sriwijaya

Berdasarkan catatan I Tsing, Sriwijaya telah ada sejak 671 M (waktu ia pertama kali di Sriwijaya). Tidak dijelaskan secara gamblang mengenai Sriwijaya. Tidak menjelaskan letak tepatnya, tidak menjelaskan siapa rajanya, berapa luas kerajaannya, bahkan I Tsing sama sekali tidak menyebut kata Sriwijaya (ia menyebutnya dengan Shih-li-fo-shih). Namun, berdasarkan catatan I Tsing, kita tahu bahwa Sriwijaya merupakan kerajaan Budha yang termahsyur dengan ratusan biksu, selain itu rajanya baik kepadanya.

Kedukan Bukit : Ekspedisi Sriwajaya

Prasasti Kedukan Bukit. Wikipedia
       Antara catatan I Tsing dengan prasasti Kedukan Bukit punya fungsi yang erat. Pada dasarnya Prasasti KB (kedukan bukit) menguatkan bukti bahwa Sriwijaya benar-benar ada. 

      Prasasti KB ditemukan di kampung Kedukan Bukit, Palembang. Prasasti ini berbentuk batu berukuran 45 x 80 cm, ditulis dalam aksara Pallawa. menggunakan bahasa Melayu Kuna. Bahasa Melayu Kuna ini jarang digunakan dalam menulis prasasti, kebanyak prasasti di Nusantara ditulis dengan bahasa Sanskerta. 

       Isinya sebagai berikut. Pada 6Dapunta Hyang (gelar raja Sriwijaya) melakukan ekspansi dari Minanga ke daerah Palembang (tempat ditemukannya prasasti). Adapun jumlah tentara yang ia bawa sejumlah 20 ribu. Ekspansi ini berhasil menaklukan beberapa daerah. Untuk letak Minanga, sampai sekarang masih menjadi perdebatan. 

        Jika kita hubungkan dengan catatan I Tsing, ia datang pada tahun 671 M, ini artinya Sriwijaya sudah ada pada saat itu, namun I Tsing tidak menyebutkan dengan pasti siapa Rajanya. Menurut Prasasti KB, pada tahun 682 M, seorang raja bergelar Dapunta Hyang melakukan ekspansi besar-besaran ke daerah lain. Dengan begitu, pada saat I Tsing datang, Sriwijaya dipimpin oleh Dapunta Hyang, yang bernama Jayanasa (nanti akan dijelaskan mengenai Jayanasa pada prasasti Kebun Kopi).

Talang Tuwo

Prasasti Talang Tuwo. Wikipedia
      Dua tahun setelah Prasasti KB, tepatnya 684 M. Muncul sebuah prasasti baru. Yang intinya mengungkapkan kebaikan hati sang Raja. Di ceritakan bahwa sang raja membangun sebuah kebun buah-buahan untuk umum di Talang Tuwo, sebelah barat Palembang. Pada pembangunan kebun ini, sang raja meminta diukirkan sebuah teks, yang mengungkapkan harapan semoga manfaat pembuatan kebun ini dapat dirasakan oleh semua makhluk. 

     Raja yang baik hati itu namanya adalah Jayanasasa. Dan kemungkinan besar, Dapunta Hyang yang tertulis di Prasasti KB adalah Jayanasa. 




Referensi

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon