Rabu, 15 Juni 2016

Sejarah Diperingatinya Hari Kebangkitan Nasional

Loading...

source: hariandepok.com
Mungkin selama ini banyak dari kita yang bertanya-tanya mengapa perayaan Hari Kebangkitan Nasional Negara Indonesia  jatuh pada tanggal 20 Mei? Menurut sejarah, penentuan Hari Kebangkitan Nasional ini terkait dengan Politik Historiografi atau politik penulisan sejarah dari pemerintahan, bukan sudut pandang sejarah itu sendiri.

Pada tanggal 20 Mei 1948 untuk pertama kalinya diperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-40 di Istana Kepresidenan, Yogyakarta. Ceritanya pada saat itu negara dalam keadaan krisis politik internal yang cukup serius dan terjadi agresi militer Belanda. Kondisi Pemerintah masa itu memerlukan sebuah organisasi yang mampu mewakili kepentingan nasional.  Pemerintah berusaha mencari unsur pemersatu, sehingga masing-masing kelompok atau faksi yang begitu banyak tidak berjalan pada relnya sendiri-sendiri. Pilihan sebagai pemersatu akhirnya jatuh pada Organisasi Budi Utomo? Mengapa memilih Budi Utomo? Karena organisasi ini dianggap sebagai organisasi paling moderat, dan nasionalis.
Boedi Oetomo(source: wikepedia.org)
Singkat cerita, negara kita pada masa itu masih rapuh sekitar tiga tahun baru merdeka dari penjajah. Ada gangguan-gangguan terhadap pemerintah Indonesia, dari eksternal dan internal. Kondisi gangguan eksternal yang terjadi adalah ketika Belanda masih ingin dan berusaha masuk ke Indonesia, sehingga tahun 1947 terjadilah agresi militer Belanda yang pertama. Dampaknya banyak wilayah Indonesia diduduki, termasuk ibu kota Jakarta. Sehingga Pemerintahan berpindah ke Yogyakarta. Bukan itu saja, untuk bisa kembali ke Indonesia, Belanda tidak ragu untuk mensponsori pembentukan negara-negara "boneka" untuk menggrogoti keuu\tuhan Indonesia yang masih baru merdeka. Selain itu, situasi politik dalam negeri diwarnai oleh banyak partai politik dengan basis ideologi. Beberapa partai politik itu bahkan memiliki milisi bersenjata. Kondisi ini berpotensi memunculkan konflik internal dalam Republik Indonesia yang baru berdiri. Kondisi internal dan eksternal seperti itu berdampak pada kestabilan politik, keamanan, dan perekonomian dan keutuhan Republik Indonesia. Sejarah mencacatat telah terjadi kondisi kekurangan pasokan beras akibat blokade Belanda saat agresi militer. Lalu kondisi keuangan negara yang rapuh, uang dicetak tanpa perhitungan yang pasti, sehingga mengakibatkan terjadinya fenomena inflasi hebat. Bersamaa dengan itu, negara-negara "boneka"(federal) bermunculan dengan dukungan dari Belanda.
Republik Indonesia yang masih muda ini harus diselamatkan. Kondisi yang gawat ini disikapi arif oleh pemimpin bangsa. Mereka menyadari  perlu pengkondisian agar Republik tercinta bisa terus bersatu dan betahan sampai kedepan. Sejarawan Taufik Abdullah menulis, "Dalam keadaan Republik yang krusial itu, sebuah simbol baru dibutuhkan"(May 2008 and One Hundred Years Ago: History, Myth and Consciousess" jurnal Masyarakat Indonesia, No 2, 2008).
Menurut sejarawan lain Rushdy Husein, Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara) dan Radjiman Wedyodiningrat mengusulkan pada Soekarno-Hatta dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Ali Sastroamidjojo agar memperingati berdirinya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1948 sebagai hari kebangkitan Nasional(pada saat itu menggunakan istilah Kebangunan Nasional) yang ke-40. Tetapi menurut Soerwardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara) dalam "Dari kebangunan Nasional sampai Proklamasi Kemerdekaan" inisiatif itu datang dari Soekarno(Majalah Historia nomor 20, tahun II, 2014). Tanggal 20 Mei 1908 dimaknai oleh Presiden Soekarno sebagai hari penting dam mulia untuk bangsa karena pada saat itu Budi Utomo berdiri, sebagai sebuah organisasi kebangsaan yang memiliki tujuan mulia yaitu menyatukan rakyat sehingga menjadi bangsa yang besar. 
Poster peringatan 40 tahun Hari Kebangkitan Nasional pertama di gelar pada 20 mei 1948 di istana kepresidenan, Yogyakarta(source: Historia.id)
Rencana peringatan Hari Kebangkita Bangsa (Kebangungan Bangsa) dipersiapakn dengan susunan panitia yang terdiri dari berbagai perwakilan golongan dan partai bukan dari pemerintah. Hasilnya tersusun panitia dari tokoh masyrakat dari berbagai kekuatan sosial politik. Kepanitiaan pusat dipimpin Soewardi Soerjaningrat(Ki Hadjar Dewantara) dengan anggota: Tjugito(tokoh PKI mewakili FDR),  A.M Sangadji(Masyumi), Sabilal Rasjad(PNI), Ny. A Hilal(Kongres Wanita Indonesia), Tatang Mahmud (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia) dan H. Benyamin(Gerakan Pemuda Islam Indonesia).
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-40 menghasilkan "Dokumen Kesatuan Nasional" yang menetapkan tanggal 20 Mei 1908 sebagai saat permulaan menggalang kesatuan sikap program dan tindakan. Dokumen ini ditandatangani partai politik, serikat buruh dan tani, berbagai kelompol keagamaan, kebudayaan, keguruan, kewanitaan, kepanduan, dan sebagainya. Pemerintah pada peringatan tahun 1948 ini ingin memberi catatan pada bangsa bahwa tercapainya kemerdekaan sudah diawali oleh proses pergerkan yang sudah berlangsung 40 tahun yang lalu. Dan keikutsertaan berbagai golongan dan partai politik dalam kepanitian peringatan berusaha untuk menyaimpaikan "pesan" ajakan persatuan. 
Dalam perjalanan mencapai cita-cita luhur menuju kemerdekaan dari penjajah, pembodohan, dan penindasan, bangsa ini telah melalui proses yang panjang dan berliku. Bangsa ini terpaksa harus menelan pil pahit kebijakan imperialis seperti praktek tanam paksa dan segregasi sosial. Namun bangsa ini ternyata mampu bangkit dan berdiri tegak melawan semua itu. Timbulnya kesadaraan berbangsa dan bernegara, keinginan untuk bebas dan merdeka. Momentum Budi Utomo 1908 yang dimaknai sebagai kebangkitan Nasional memiliki benang merah dengan beberapa momen penting dalam pergerakan bangsa seperti Sumpah Pemuda 1928 dan Proklamasi kemerdekaan 1945. Semua utuk tujuan merdeka..!!!

sumber: Kenali Sejarahmu Raih Masa Depanmu

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon